RADAR JOMBANG - Hotel Paviljoen atau Hotel Java Djombang, adalah salah satu hotel di Jombang yang berkelas pada jamannya. Hotel ini, bahkan sempat jadi lokasi tinggal sementara Bupati pertama Jombang RAA Soeroadiningrat.
"Jadi ini terjadi di awal-awal Jombang menjadi regent setelah lepas dari Afdeeling Mojokerto," terang M Faisol, penelusur sejarah Jombang.
Faisol menjelaskan, Bupati pertama Jombang, RAA Soeroadiningrat bahkan sempat berkantor sekaligus tinggal di Hotel Paviljoen dan Hotel Bromo di awal pemerintahannya.
Pasca dibentuknya Kabupaten Jombang terpisah dari Kabupaten Mojokerto pada 21 Oktober 1910, Bupati RAA Soeroadiningrat tidak serta merta bisa tinggal di Pendopo Kabupaten. "Setelah dilantik secara resmi pada 1 Desember 1910, bupati pertama itu harus menunggu sampai bangunan pendopo selesai dibangun," imbuhnya.
Hal itu, terekam pada tulisan pada di surat kabar De Indische Courant edisi Jumat, 3 Januari 1936 yang diunggah delpher.nl.
“Karena tidak ada kediaman bupati di Djombang pada tahun itu, bupati terlebih dahulu pindah ke beberapa kamar yang masih ada di Hotel Paviljoen. Kemudian pindah ke rumah tempat tinggal Dr. Reekers sekarang, tetapi rumah ini juga tidak cocok untuk seorang bupati,"
Baca Juga: Watertoren Mojoagung Ini, Sempat Roboh Usai Dibom Pejuang RI Saat Mempertahankan Kemerdekaan
Faisol juga menjelaskan, dalam tulisan itu juga diceritakan butuh waktu hingga tiga tahun hingga bangunan pendopo kabupaten jadi. Barulah setelah itu Kanjeng Sepuh menempati kantor resminya.
"Sedikit lebih jauh ke utara di kota, sebuah rumah dipindahkan ke tempat Hotel De Bromo sekarang. Akhirnya perpindahan dari rumah ke rumah ini berakhir ketika pendopo kabupaten di Aloon-aloon selesai pada tahun 1913. Bupati pindah ke rumah dinas baru ini selama perayaan besar.”
Hotel ini, juga disebutnya sempat menjadi sekolah rakyat 6 tahun di jaman Jepang (1942-1945). Bekas bangunan Hotel Paviljoen akhirnya seterusnya digunakan sebagai sekolah dasar pasca kemerdekaan. "Sampai sekarang masih dipakai oleh SDN Kepanjen 2 atau SD Perdana akrabnya orang Jombang menyebutnya," tambahnya.
Dari foto bertahun 1907, tergambar kondisi halaman depan Hotel Pavelioen yang cukup luas. Ada hiasan pot besar setinggi 1 meter dan tanaman bunga-bungaan. Para tamu baik pria, wanita dan anak-anak bersantai di halaman depan.
Ada yang berdiri maupun duduk di kursi sambil menikmati sajian di meja. Sedangkan para pelayan, berdiri di belakang tamu sambil menghadap ke kamera.
Foto ini menjadi koleksi KITLV di Perpustakaan Universitas Leiden Belanda dengan kode rak 181834. Di sebelah pojok kanan bawah tertulis identitas studio foto yang mencetak bernama Sung Liong Hien dari Pasuruan.
Di bagian bawah pemilik foto menulis: P.f Jongkaeut Malang 1907/1908. “In Djombang woonde ik van 1 Juni – 1 Nov ’07, als ambtenaar a/d Kediri Stoomtram Maatschappij” (Di Jombang, saya hidup (tinggal) dari tanggal 1 Juni sampai 1 November 1907, sebagai pegawai Jawatan Kereta Api Kediri / KSM).
Rupanya, orang yang sempat mendokumentasikan dirinya saat itu adalah pegawai kereta api KSM. Selama bertugas di Jombang selama lima bulan, dia memilih tinggal di Hotel Pavelion.
Nama Hotel Pavelion juga bisa ditemukan di buku panduan pelancong komersial terbitan tahun 1926. Pada buku berjudul Commercial’s Travelers Guide to the Far East itu, tertulis Hotel Pavillion.
Buku panduan itu juga menulis bahwa komoditas andalan Jombang adalah produk gula dari belasan suiker fabriek yang beroperasi di sini. Secara berkala, para salesman singgah di Jombang untuk menyuplai mesin dan kebutuhan alat-alat pertanian lainnya.
Rekomendasi hotel Paviljoen ini cocok bagi para canvaser yang ingin menginap, sebelum melanjutkan berjualan ke kota-kota lain. (ang/riz)
Editor : Achmad RW