Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Watertoren Mojoagung Ini, Sempat Roboh Usai Dibom Pejuang RI Saat Mempertahankan Kemerdekaan

Anggi Fridianto • Sabtu, 15 Juli 2023 | 13:00 WIB

 

Watertoren alias menara air di di depan Sub Terminal Mojoagung masih kokoh berdiri
Watertoren alias menara air di di depan Sub Terminal Mojoagung masih kokoh berdiri

JOMBANG - Kabupaten Jombang, tercatat memiliki tiga watertoren yang kini masih berdiri. Salah satunya di Jl Raya Mojoagung ini. Meski kini terlihat kokoh, penampung air ini tercatat pernah roboh setelah dibom pejuang RI dalam mempertahankan kemerdekaan.  

Bangunan klasik dengan tinggi sekitar 20 meter ini, berdiri kokoh di Jl Raya Mojoagung. Lokasinya tepat di sudut simpang tiga Mojotrisno, Mojoagung, Mojoagung. Sekilas, wujudnya mirip menara air Ringin Contong, hanya ukurannya sedikit lebih kecil.

Di Jombang memang ada tiga watertoren semacam ini. Satu di Mojoagung, satu di Peterongan dan yang terbesar juga kini jadi titik nol Jombang, yakni Ringin Contong.

Dari tiga watertoren itu, watertoren Mojoagung inilah satu-satunya menara air yang pernah dirobohkan pejuang tanah air dengan cara dibom, awal Desember 1948 silam.

”Ya, menurut referensi yang kami dapat, bangunan watertoren  atau menara air di Mojoagung itu hasil bangun ulang 1950. Sebab, yang asli telah roboh dibom pejuang Desember 1948,’’ ujar M Faisol salah seorang penelusur sejarah.

Alasan pejuang merobohkan bangunan itu, lanjutnya, merujuk instruksi pemerintah RI agar membumihanguskan obyek-obyek vital di tanah air agar tidak dikuasai penjajah Belanda. Agar Belanda yang melakukan agresi tidak bisa memanfaatkan obyek-obyek vital.

“Cara lain yang dilakukan pejuang, adalah melubangi jalan, memutus jembatan, hingga membakar tempat publik dan kantor,’’ jelas dia.

Dari sebuah foto hitam putih yang ditunjukkan ke wartawan koran ini, terlihat menara di Mojoagung yang roboh berikut dua orang Belanda berdiri di samping bangunan.

Begitu juga foto kedua, dari view atas, tampak menara air di Mojoagung roboh dengan iring-iringan konvoi truk militer Belanda dari Mojokerto ke Mojoagung.

”Foto ini saya dapat dari MLD (Marine Luchtvaart Dienst) yang diunggah website  indiegangers.nl. Terlihat jelas kondisi menara air Mojoagung yang roboh kala itu,’’ jelas dia.

Kondisi watertoren Mojoagung saat dibom pejuang RI hingga roboh di tahun 1948
Kondisi watertoren Mojoagung saat dibom pejuang RI hingga roboh di tahun 1948

Menara air tersebut dulu difungsikan untuk penampungan, baik air yang diambil dari Desa Ngampungan, Kecamatan Bareng maupun dari Kecamatan Wonosalam. Air dialirkan ke Kecamatan Mojoagung, Peterongan dan Jombang.

”Karena dulu di Mojoagung dan Peterongan ada pabrik gula, dan di sekitarnya ada permukiman tuan tanah serta pemilik pabrik gula,’’ jelasnya serius.

Hingga 75 tahun berlalu, bangunan tersebut tampak masih kokoh berdiri di sisi timur jalan. Saat ini, bangunan tersebut  menjadi aset Perumdam Tirta Kencana.

”Ya memang benar, termasuk aset Perumdam,’’ sahut Khoirul Hasyim Direktur Perumdam Tirta Kencana Jombang.

Sementara itu, Kepala Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Jombang M Nashrulloh, membenarkan bila menara air di Mojoagung masuk aset Perumdam Tirta Kencana. Sehingga semua kewenangan termasuk di dalamnya.

”Jadi watertoren tidak masuk di pendataan aset kita. Namun masuk kategori pengelolaan aset daerah yang dipisahkan, yakni ikut Perumdam Tirta Kencana,’’ pungkasnya. (ang/bin/riz)

Editor : Achmad RW
#Mojoagung #Jombang #watertoren #penampungan air