JOMBANG - Seperti umumnya kota-kota lain di Indonesia, kawasan China Town atau pecinan juga ada di Jombang. Artinya, daerah tertentu yang didiami komunitas pekerja, pedagang dan tokoh beretnis Tionghoa.
Pemerintah kolonial Belanda sengaja menyediakan kawasan khusus, umumnya area urat nadi perekonomian bagi orang-orang China. Sehingga kemudian terkenal dengan daerah pecinan.
Di Jombang sendiri, setidaknya sejak tahun 1850 mulai didatangi para perantau dari Tiongkok. Seiring mulai bergeliatnya perekonomian dan industrialisasi di afdeeling Djombang. Setelah dibangunnya Suiker Fabriek (SF) Djombang pada 1834, disusul berdirinya beberapa pabrik gula lain. Ada juga pabrik penggilingan padi, pabrik es, pabrik limun dan pabrik tegel.
Data sensus penduduk yang dilaksanakan 1845 mencatat, belum adanya pemukim Tionghoa di Jombang. Kebanyakan mereka masih tinggal di wilayah Mojokerto, meskipun mempunyai usaha di Jombang. Di wilayah District Modjoredjo (Jombang Kota) belum terdata warga etnis Tionghoa dan Arab.
Hanya tercatat sebanyak 12.995 orang Jawa dan Madura. Sedangkan di District Modjokerto sudah terdata sebanyak 103 orang Eropa, 713 orang Tionghoa, 36 orang Arab serta 36.888 orang Jawa dan Madura.
Pemerintah kolonial Belanda membedakan strata etnis yang mendiami kota, berdasar kontribusi etnis terhadap pendapatan daerah serta tingkat pendidikan. Kaum bumiputera pun terbagi karena hal ini dalam strata priyayi, kaum terpelajar, dan rakyat jelata.
Pemerintah juga menyediakan dan mengelompokkan kluster hunian untuk mempermudah kontrol serta pengawasan. Sekaligus mengakomodir kebersamaan sesama etnis sejenis sebagai pendatang. Biasanya secara otomatis terbentuklah kampung Arab, kampung Pecinan, kampung Melayu, kampung Madura dan lain-lain.
Untuk afdeeling Djombang pasca berakhirnya Perang Diponegoro 1830 dibentuk District Modjoredjo (Jombang Kota ke selatan dan barat) dan District Modjoagoeng (Mojoagung ke timur dan selatan). Pemerintah Belanda menata kawasan di sepanjang jalan utama Vorstenlanden Kediri ke Surabaya yang melintas di tengah kota Jombang.
Jalan utama pertama, membentang dengan arah timur-barat itu berkategori weg (jalan besar antar provinsi). Mulai dari desa Mojongapit hingga desa Jombang. Kedua, membentang dengan arah utara-selatan mulai desa Candimulyo sampai desa Kaliwungu.
Jalan utama pertama dinamakan Djombangstraat, sedangkan jalan utama kedua diberi nama Heerenstraat. Di sepanjang Djombangstraat terutama sebelah barat berimpitan dengan pasar tradisional. Di timur ada pegadaian dan rumah pemotongan hewan. Dahulu, pasar masih buka sesuai hari pasaran Jawa. Maka ada Pasar Legi yang terletak di Djombangstraat dan Pasar Pon yang berdiri di ujung Heerenstraat.
Dengan dikhususkannya dua kawasan ini sebagai pecinan, lama kelamaan semakin berkembang. Pemerintah kolonial Belanda menyebut kawasan pecinan dengan nama Chinezen Kamp. Untuk menjaga ketertiban dan mengontrol kepatuhan membayar pajak, ditunjuk seorang tokoh Tionghoa yang disegani. Tokoh tersebut diberi penyebutan Chinese Officieren dengan gelar Majoor, Kapitein dan Luitenant der Chinezen.
“Sehubungan konsentrasi penduduk Tiongkok yang lumayan besar, serta membutuhkan pengawasan keamanan, ketertiban, administrasi kependudukan dan pajak, maka pada 20 Oktober 1888 diangkatlah seorang Luitenant der Chinezen Djombang bernama Han Bian Siang. Setelah selama 7 tahun pemekaran wilayah ini masih di bawah kendali Luitenant der Chinezen Mojokerto Ong Ang Thay,” kata pemerhati sejarah dan cagar budaya, Tjahjana Indra Kusuma.
Sebagai etnis yang piawai berniaga, saat masih dalam kendali afdeeling Modjokerto, mereka yang bermigrasi ke Jombang memilih bermukim di sepanjang tepi jalan poros utama (jalan raya pos). Pasca pemekaran wilayah ini, perencanaan perkantoran, pusat pemerintahan serta fasilitas umum penunjang sebuah kota baru, berpusat di sekitar Alun-alun Jombang.
Khusus wilayah Jombang, lanjutnya, dibagi menjadi dua daerah pecinan. Pecinan pertama di sepanjang Heerenstraat (saat ini Jl KH Wahid Hasyim). Mulai dari utara Kebonrojo sampai ke pertigaan Ringin Contong. Seperti terlihat pada sebuah foto tahun 1906 yang bersumber dari website amsquery.stadt-zuerich.ch. Foto karya Fritz Beck itu menunjukkan suasana jalan utama tengah kota, yang menghubungkan kawasan permukiman orang Eropa dan pusat pemerintahan di selatan, dengan pusat perekonomian di pecinan sebelah utara.
Terlihat jalur rel kereta api yang dioperasikan oleh BDSM (Babat–Djombang Stoomtram Maatschappij) di sebelah barat jalan. Fotografer tampaknya berdiri di tengah jalan menghadap ke utara menjelang tengah hari. Sebab, terlihat bayangan pohon dan bangunan mengarah ke barat.
Tjahjana Indra menyampaikan, pecinan selatan meliputi wilayah Kepanjen dan Kepatihan sebagai daerah penghubung sekaligus penyangga wilayah tengah. Sementara pecinan utara sejak masa kolonial meliputi kawasan yang menjadi Jl Buya Hamka (Petjinanstraat), Jl RE Martadinata (Kepatihanstraat), Jl A Yani (Djombangstraat), Jl Gus Dur (Djombangstraat) dan Jl Seroja (Pasarstraat).
Pada peta dalam kota Jombang tahun 1942, terlihat area yang dinamakan Chinezen Kamp itu. Permukiman pedagang Tionghoa yang diapit Jl A Yani (Djalan Kediri), gang suling, Jl Buya Hamka (Djalan Petjinan) dan Djalan Kepatihan, termasuk rumah-rumah di Gang Buntu saat ini.
Untuk menunjang sektor pendidikan bagi generasi muda Tionghoa, pemerintah kolonial Belanda mendirikan sekolah HCS (Hollandsch Chineesche School) yang dekat dengan dua kawasan pecinan. Sekolah dasar HCS diperuntukkan bagi anak-anak etnis Tionghoa. HCS Djombang dibangun di Heerenstraat, sekitar 100 meter sebelah selatan Ringin Contong di barat jalan. Untuk tempat beribadah, didirikan klenteng Hok Liong Kiong di pojok Jl RE Martadinata (Kepatihanstraat).
Tempat Ibadah Tri Dharma (TITD) Hok Liong Kiong ini masih dalam kawasan antara pecinan utara dan pecinan selatan. Tidak seperti pecinan utara yang masih dominan, pamor pecinan bagian selatan mulai memudar. “Karena di sekitar wilayah tersebut banyak didirikan hunian etnis Eropa lengkap dengan tempat ibadahnya,” lanjut Tjahjana.
Yaitu dibangunnya gereja Katolik pada 1908, serta berdekatan dengan pusat perkantoran pemerintahan kolonial. Sebagai konsekuensi setelah pemekaran afdeeling Djombang dari afdeeling Modjokerto tahun 1881. Perencanaan dan pembangunan infrastruktur seperti stasiun, sekolah, penjara, pasar, gedung pemkab dan lain-lain semakin masif di wilayah selatan. “Sampai saat ini, dominasi pecinan utara semakin besar jika dibanding wilayah selatan,” pungkasnya. (fai/bin/riz)
Editor : Achmad RW