JOMBANG - Selamatan buka giling pabrik gula sudah menjadi ritual wajib sejak awal pendirian pabrik gula era kolonial Belanda. Berbagai laku tirakat dilaksanakan oleh para pekerja dan pemilik pabrik gula untuk memohon keselamatan dan hasil gula yang melimpah.
Ada yang melakukannya dengan ritual ujung yang menyakitkan. Ada pula yang melakukannya dengan kesenian rakyat hingga tebu manten yang juga masih bertahan hingga kini.
Seperti terekam dalam beberapa foto masa silam, saat SF Blimbing dan SF Tjoekir mengadakan rangkaian acara buka giling. Pada 1926, SF Blimbing (wilayah Gudo) mengawali masa giling dengan acara selamatan. Terlihat perwakilan pekerja pribumi duduk di lantai di dalam area pabrik gula, mengerumuni sajian makanan dan minuman.
Puluhan warga pribumi ini ada yang mengajak anak-anaknya. Sedangkan di bagian belakang, para mandor dan keluarga pemilik pabrik duduk di deretan kursi.
Kemudian ada juga prosesi akad nikah tebu manten. Selain tanaman tebu yang akan dinikahkan, ada juga pohon pisang dengan tandan pisangnya, seperti laiknya orang ngunduh mantu.
Sekitar 15 mandor berpakaian seragam atasan dan bawahan putih, serta pemilik pabrik memegang tebu manten yang tingginya mencapai hampir 5 meter. Tebu manten memang tebu pilihan yang diambil dari tanaman berkualitas terbaik.
Sementara di SF Tjoekir (Diwek), pada musim giling 1935, pihak pemilik pabrik selain mengadakan selamatan juga menggelar berbagai kesenian dan perayaan festival. Pada keterangan foto tertulis volksfeesten (stroophappen) yakni berupa festival rakyat lomba gigit uang koin dan minum air manis strup.
Terlihat sebuah panggung di area dalam pabrik, yang ditonton orang banyak. Di atas panggung, beberapa anak kecil mengikuti lomba gigit uang koin dan minum strup.
Di bagian lain, di dalam area pabrik SF Tjoekir yang dekat dengan mesin, terlihat dua pendekar bertelanjang dada, sedang berduel dalam kesenian Ujung. Keterangan foto menuliskan stok vechten alias adu pukul memakai tongkat rotan. Mereka bertanding dengan disaksikan para mandor dan pemilik pabrik serta beberapa wanita Belanda.
Pasca kemerdekaan, festival seni rakyat dan tradisi selamatan untuk menandai musim giling tebu mengalami beberapa modifikasi. Ada yang tetap dipertahankan, dan ada pula yang sudah diubah. Seperti nanggap tayuban (tarian tayub), ketoprak, ludruk kemudian menjadi panggung hiburan musik dangdut dan lainnya. Ada juga pasar malam sebagai hiburan untuk warga sekitar pabrik gula. (fai/bin/riz)
Editor : Achmad RW