JOMBANG – Masih ada 5 pabrik gula lagi yang pernah berdiri di Kabupaten Jombang. 5 pabrik gula ini, dibangun seluruhnya di atas tahun 1884. Salah satunya, bahkan masih eksis hingga kini. Ada juga yang masih meninggalkan bangunan pendukung yang sangat ikonik hingga hari ini.
9. SF Tjoekir (1884)
Pabrik gula ini, didirikan NV Kody En Van Vour tahun 1884 dengan nama awal Suikerfabriek Tjoekir. Seperti namanya, sejak didirikan pabrik ini bertugas untuk menghimpun tanaman tebu yang ada di sekitar Cukir untuk digiling dan diproses menjadi gula.
Dari foto yang ada, bangunan awal pabrik ini berbentuk gedung besar berbahan tembok tebal dengan atap seng. Pada tembok depan, tertulis “SUIKERFABRIEK TJOEKIR” di bagian atas. Pada tembok sisi kiri dan kanan, tertulis 1884, tahun pembangunan dan 1908 yang diartikan sebagai masa foto itu berasal. Di depan pabrik, juga terlihat sejumlah jalur rel untuk lalu lalang lori.
SF Tjoekir juga beberapa kali renovasi. Seperti renovasi 1925 pada beberapa bagian pabriku ntuk peningkatan kapasitas produksi, dengan mengganti beberapa instalasi pabrik. Wajah pabrik pun berubah. Bagian depan pabrik terbangun instalasi gedung tambahan yang jadi jalan masuknya tebu ke dalam pabrik. Selanjutnya, perbaikan dilakukan tahun-tahun berikutnya hingga Indonesia merdeka.
[irp]
Pabrik ini mulai diambil alih Pemerintah Indonesia pada 8 Desember 1958. Setelah melalui serangkaian perubahan, berdasar sejumlah aturan, PG Tjoekir. Sebagai pabrik gula yang masih eksis hingga hari ini, PG Tjoekir pun telah meninggalkan alat-alat lama dalam proses produksinya, dan beralih ke peralatan yang lebih modern jika dibandingkan dengan PG Djombang Baru.
10. SF Sembung 1884
Pabrik gula ini, dulunya berdiri di Dusun Piyak, Desa Sembung, Kecamatan Perak pada tahun 1884. Pemiliknya bernama WF Scheel. Namun, di peta tahun 1929, SF Sembung sudah tidak ada lagi. Ini setelah beralih fungsi menjadi pabrik pengolah minyak jarak. Seperti ditulis di Buku Regeerings-almanak voor Nederlandsch Indie Bagian 1 edisi tahun 1929.
Minimnya data terkait pabrik gula ini, membuat banyak warga sekitar menyebut sebagai bekas pabrik rosela (tanaman rame sebagai bahan baku karung goni), bukan pabrik minyak jarak. Saat ini, SF Sembung berada di kawasan sekitar SDN Sembung Perak. Tidak banyak bangunan yang tersisa dari bekas pabrik peninggalan milik WF Scheel ini. Hanya terlihat satu cerobong asap dengan ketinggian kurang lebih 15 meter, yang terletak di belakang sekolah. Terbuat dari batu bata tanpa diplester seperti umumnya cerobong di pabrik gula lain.
[irp]
11. SF Ponen 1884
Pabrik gula atau Suiker Fabriek ini, berdiri di ujung utara Kecamatan Tembelang. Lokasinya kini berada di Dusun Ponen, Desa Pulogedang, Kecamatan Tembelang. SF Ponen berdiri sejak 1884. Awalnya pabrik ini dimiliki perusahaan Belanda. Namun beberapa puluh tahun kemudian, kepemilikan pabrik beralih kepada seorang Tionghoa, Oei Tiong Ham sekitar tahun 1908.
Saat itu, kapasitas produksi gula yang dihasilkan mencapai 12.000 ton dengan pendapatan sekitar 600 gulden (setara hampir Rp 100 juta saat ini) per tahun. Pabrik ini, berdiri di wilayah yang berbatasan langsung dengan sungai Brantas sisi selatan. Lokasinya kini sudah beralih fungsi jadi pemukiman warga.
Uniknya, meski bangunannya telah habis dan berubah fungsi, beberapa bangunan pendukung pabrik ini masih bisa disaksikan sampai hari ini. Salah satunya, adalah Omah Kong. Omah Kong adalah sebutan untuk rumah kecil berdinding bata tipis dan atap beton yang dibangun bersamaan dengan bangunan pabrik. Lokasinya juga tersebar di sejumlah dusun di Desa Pulogedang.
Omah kong ini, dipercaya sebagai rumah atau tempat tinggal pekerja pabrik. Dan hingga kini, rumah ini masih banyak dihuni warga. Setidaknya, masih ada sekitar 10 omah kong yang bertahan di desa ini.
[irp]
12. SF Blimbing (1888)
Selain SF Goedo, di Kecamatan Gudo juga pernah berdiri SF Blimbing. Seperti namanya, lokasi pabrik ini berada di Desa Blimbing, atau yang sekarang menjadi Dusun Sukomulyo wilayah perumahan.
Suiker Fabriek Blimbing berdiri 1888. Sejak awal, pabrik ini dimiliki NV Blimbing dengan administraturnya CK Douwes Dekker. Dari foto bersetting tahun 1920, terlihat bangunan SF cukup megah. Berbentuk bangunan kecil di bagian depan dengan gedung berwarna putih, jauh lebih besar di bagian belakang.
Namun seperti juga banyak bangunan pabrik gula lainnya, bangunan ini sudah hancur tahun 1950. Lokasi bangunan utama seluruhnya telah berubah menjadi permukiman warga. Sementara bangunan pendukung, kini telah berubah menjadi kantor desa dan puskesmas.
13. SF Ngelom (1891)
SF Ngelom, adalah satu-satunya pabrik gula ini berlokasi di utara brantas. Lokasinya kini masuk di Desa Rejoagung, Kecamatan Ploso. pabrik gula ini berdiri sejak 1891. Awalnya, pabrik ini dimiliki Fraser Eaton & Co dengan administraturnya CJG van Deun. Pabrik ini berlokasi di area cukup luas di sebelah barat jembatan rel kereta api milik Belanda.
Untuk melancarkan distribusi bahan baku dan hasil usaha. Selain didukung dengan keberadaan jembatan jalan raya, juga terdapat jalur kereta api jurusan Babat-Jombang atau biasa disebut Babat Djombang Stoomtraam Maatschappij (BDSM).
Tak banyak data kapan pabrik gula ini berhenti produksi. Namun dari foto yang diambil Desember 1945, pabrik terlihat sudah luluh lantak dan hanya menyisakan bagian cerobong. wilayah eks pabrik gula itu sekarang ada di Dusun Kopensari, bentuknya sudah berubah jadi KUD, PDAM, Rumah Sakit, bangunan sekolah hingga gedung balai desa (riz) Editor : Achmad RW