JOMBANG - Selain 4 Pabrik Gula atau Suiker Fabriek (SF) yang telah disebutkan di bagian pertama, masih ada 9 Pabrik gula lagi yang pernah berdiri di Kabupaten Jombang. Empat pabrik gula yang dibahas di bagian ke dua ini, seluruhnya berada di wilayah Jombang selatan.
Dua diantaranya, bahkan sempat jadi lokasi kamp interniran atau kamp konsentrasi untuk menahan tentara belanda juga orang Eropa saat penjajahan Jepang.
5. SF Sumobito (1884)
Kecamatan Sumobito juga pernah punya sejarah berdirinya pabrik gula. Suiker Fabriek (SF) Sumobito namanya. Pabrik gula ini, berdiri pada 1884. Dalam buku Suikerlord, tertulis pemilik SF Sumobito yakni NV Soemobito atau GF Eilbracht dan administraturnya dijabat Th Pool.
Jika dilihat dari foto udara yang didapat sekitar 1925, SF Sumobito terlihat mempunyai cerobong asap tunggal dan watertoren (menara air). Akan tetapi, kondisi sekarang, lahan bekas SF Sumobito telah berubah fungsinya. Mulai bangunan KUA, polsek, wilker Pendidikan kecamatan, puskesmas dan perkampungan penduduk yang kini disebut sebagai Dusun Medan Bhakti, Desa/Kecamatan Sumobito.
Pabrik gula ini, juga memiliki sejarah kelam di masa pendudukan Jepang di Indonesia. SF Sumobito, saat itu justru dipakai sebagai Jepang sebagai Kamp Interniran, atau kamp konsentrasi bagi tentara Belanda yang masih bertahan di Indonesia.
6. SF Seloredjo (1884)
SF Seloredjo, berdiri di Desa Selorejo, Kecamatan Mojowarno. Jalur kereta api antar kota di Jawa Timur sempat mendukung aktivitas transportasi pabrik gula ini. Di tahun 1884, pabrik ini dimiliki Cultuut Maatschappij Selorejo/E. Tack & DJ Jut, dengan administraturnya bernama SD Janes.
Dari beberapa foto yang didapat Jawa Pos Radar Jombang, pabrik gula ini bertipe bangunan eropa dengan tembok tebal. Memiliki satu cerobong dengan cincin di bagian atas. Dalam foto yang lain, terlihat pula rel lori dan kereta di depan pabrik gula.
Jalur di depan pabrik gula, memang terintegrasi dengan jalur kereta milik Oost-Java Stoomtram Maatschappij (OJSM) yang berjalan dari Ngoro menuju Mojoagung hingga ke Mojokerto. Jalur kereta milik OJSM, juga berfungsi untuk mengangkut hasil produksi gula ke kota lain.
Seperti banyak pabrik gula lainnya, aktivitas SF ini mulai berhenti sejak Jepang berkuasa di Indonesia. Bahkan setelah kemerdekaan, pabrik dibongkar dan satu persatu bangunannya raib. Lokasinya, kini beralih fungsi menjadi sejumlah perkumiman, kantor ormas hingga kantor Puskesmas Mojowarno.
7. SF Goedo (1857)
Kecamatan Gudo, bahkan punya dua jejak pabrik gula yang pernah berdiri di kecamatan itu. Salah satunya, yaki SF Goedo. Lokasinya berada di Desa/Kecamatan Gudo. Dari data yang didapat Jawa Pos Radar Jombang, pabrik ini berdiri tahun 1857. Saat pendirian, pabrik dimiliki perusahaan swasta asal Eropa bernama M Jordan & H Ligtenberg. Sekitar tahun 1884, pabrik ini beralih kepemilikan kepada J Andriesse & D van Heel.
Di tahun 1893, kepemilikan pabrik kembali berpindah ke perusahaan milik pemerintah kolonial Hindia Belanda bernama De Nederlandsche Indische Landbouw Maatschappij. Dengan administratur De heer J.C. van Zanten Jut.
Foto termuda ditemukan 1925 dari laman colonialarchitecture.eu. Dalam foto udara itu, terlihat pabrik gula berada di sisi selatan jalan, tepat di persimpangan jalan. Dalam foto monokrom lain yang usianya lebih tua (1914), pabrik terlihat berdiri gagah di depan lokomotif dan tumpukan tebu yang antre masuk pabrik.
Di bagian tembok depan, terdapat tulisan ANNO GOEDO 1914. Pabrik ini juga bisa dikenal dengan cirikhas dua cincin melingkar pada bagian kustin atau cerobong asap yang berada di belakang gedung utama. Bekas pabrik ini, juga telah beralih fungsi. Sekarang, lahannya berubah menjadi perumahan warga juga Koramil Gudo.
8. SF Ceweng/ Boenga Tandjong (1885)
Sebuah pabrik gula besar juga pernah berdiri di Desa Ceweng, Kecamatan Diwek. Dari data yang ditemukan di beberapa buku Belanda, pabrik gula ini dikenal dengan banyak nama. Belanda, menyebut dengan SF Kaliwoengoe atau Tjeweng of Modjoredjo. Namun, bagi warga Ceweng, lebih akrab menyebut pabrik gula Boenga Tandjong.
Dalam buku Suikerlord tahun 1886, tercatat pabrik ini didirikan setelah tahun 1872. Pemiliknya NV Kaliwoengoe / Tjeweng, dengan administratur KJ Stephan. Dalam foto lawas yang didapat, pabrik ini dikenal dengan dua cerobong asap yang berada di dalam gedung. Halaman pabrik dipenuhi jaringan rel untuk lori pembawa tebu.
Dari catatan Belanda yang lain, pabrik ini sempat jadi kamp konsentrasi bagi orang-orang Eropa. Khususnya Belanda di masa penjajahan Jepang tahun 1942-1945. Di lokasi ini, seluruh orang Belanda dikumpulkan dan ditahan. Berdasar denah yang ditemukan, terlihat seluruh bagian pabrik berubah fungsi menjadi tahanan dan dibatasi anyaman bambu (gedeg) yang melingkari bangunan.
Namun, seperti juga bangunan pabrik gula yang lain, 1947 pabrik ini luluh lantak dan dirobohkan pejuang republik saat agresi militer Belanda. Lokasinya kini, berubah menjadi kebun tebu, lapangan hingga Koramil Diwek. (riz) Editor : Achmad RW