JOMBANG – Kabupaten Jombang sudah dikenal sebagai wilayah yang subur dengan potensi pertanian yang memadai sejak era kolonial. Di era penjajahan Belanda, kesuburan tanahnya sempat juga dimanfaatkan Belanda untuk penanaman tebu.
Untuk mendukungnya, 13 pabrik gula sempat dibangun di seluruh Jombang dan tersebar di beberapa kecamatan. Di era Belanda, pabrik Gula ini lebih akrab disebut SF (Suiker Fabriek). Berikut nama-nama dan sejarah serta fotonya.
1. SF Djombang (1836)
SF Djombang, tercatat pabrik gula paling awal yang ada di Jombang. Sempat beberapa kali mengalami perubahan kepemilikan dan nama, hingga kini pabrik ini juga masih jadi salah satu pabrik gula yang eksis di Kabupaten Jombang dan masih memproduksi gula. Namanya juga berganti menjadi PG Djombang Baru.
Dari data yang didapat Jawa Pos Radar Jombang, pabrik gula ini dibuka sejak 1836 dengan pemilik pertama Moorman en Co dan administrator IF M Stuckij, a. Data ini tertulis di Regleringsalmanak Voor Nederlandsch- Indie (almanak milik pemerintah Hindia Belanda) 1898. Lokasi pabrik, juga terbaca pada peta Pemerintah Hindia Belanda 1884.
Di dalam peta, namanya juga masih Suiker Fabriek (SF) Djombang. Hingga tahun 1895, pabrik ini berubah nama menjadi SF Djombang Baru, dengan pemilik baru Amemaet en Co hingga Indonesia Merdeka. Di tahun 1963, PG Djombang Baru tercatat ikut dalam program nasionalisasi perusahaan Belanda oleh Pemerintah Indonesia.
Pabrik ini, juga memiliki sistem produksi yang cenderung unik dengan mengawinkan mesin lama dan mesin baru.Untuk proses produksi, PG Djombang Baru masih menggunakan empat dari lima roda gila yang ada.
2. SF Soekodono / Mojoagung (1869)
Suiker Fabriek (SF) Sukodono, mungkin asing di telinga kita. Lokasinya berada di Mojoagung, tepatnya kini di lahan yang jadi terminal Mojoagung. Dari data yang didapat Jawa Pos Radar Jombang di laman milik Belanda, pabrik ini tercatat tiga kali mengalami perubahan kepemilikan. Berdiri kali pertama 1869, pabrik ini awalnya dimiliki Nederland Handelmaatschappij dengan administratur JJC Garon.
Tiga tahun kemudian, sekitar 1872, pabrik ini beralih kepemilikan kepada WA Baud dan berjalan hingga 12 tahun. Pada 1884, pabrik ini kembali beralih kepemilikan kepada Erven Baud/ DJ Jut en Factory. Dari beberapa foto yang didapat, pabrik ini terlihat cukup mewah lantaran memiliki fasilitas stasiun trem.
Ya, pabrik ini memang berada tepat di pinggir jalur OJSM (Oost-Java Stoomtraam Maatschappij). Jalur kereta api yang menghubungkan Ngoro menuju Mojokerto. Sayangnya, bangunan pabriknya nyaris tak tersisa lagi. Beberapa tahun usai kemerdekaan, bangunan ini dihancurkan tentara Republik dengan tujuan keamanan negara.
3. SF Peterongan (1872)
Kecamatan Peterongan, juga pernah memiliki sejarah pabrik gula di era kolonial Belanda. Pabrik gula ini berdiri di jantung Kecamatan Peterongan. Dari data yang didapat Jawa Pos Radar Jombang dari buku Suikerlord 1886 milik Belanda, Suker Fabriek (SF) Peterongan berdiri 1872. Pabrik ini dimiliki Cultuur Maatschappij Peterongan. Sempat juga tercatat dimiliki M Dieffenbach, G Lebret dan DJ Jut, dengan administraturnya, JJ Van Delden.
Beberapa foto yang ditemukan, hanya menggambarkan sebuah cerobong besar di belakang pabrik. Ciri khas cerobongnya bercincin delapan. Cerobong pabrik ini sempat diperbarui 1900 dengan tanda tahun di bagian bawah.
Seperti banyak pabrik gula di Jombang, pabrik ini akhirnya ikut dihancurkan saat Indonesia Merdeka setelah tahun 1945. Lahan bekas pabrik, sempat dibagikan kepada warga saat land reform 1960. Kini, lokasi pabrik ini berdiri jadi kompleks perumahan warga, Balai Desa Peterongan hingga Koramil dan Polsek Peterongan.
4. SF Ngoro (1872)
Di Kecamatan Ngoro, juga pernah berdiri pabrik gula. Sayang, tidak banyak yang tak tahu keberadaan pabrik gula ini setelah beralih fungsi menjadi pabrik kopi.
Pabrik gula ini berdiri di Desa Rejoagung, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Jombang. Dalam buku Suikerlord 1886, disebutkan kalau SF Ngoro didirikan oleh pemiliknya, pada 1872, yakni G Lebert dengan administratur H Scherius. Kemudian 1884 berubah pemilik G Lebret dan M Dieffenbach.
Namun, pada peta tahun 1929, SF Ngoro sudah tidak ada lagi. Karena perubahan fungsi dijadikan pabrik kopi untuk menampung hasil kopi Wonosalam dan sekitarnya. Seperti halnya nasib SF Sembung Perak yang juga diubah menjadi pabrik minyak jarak (djarakolie).
Kini, sisa-sisa bangunan bekas pabrik gula juga tak terlihat. Hanya tersisa pondasi bangunan yang berupa bata merah besar dan sangat kuat. Saat ini, di lokasi SF berdiri dua sekolah, yakni SDN 2 Rejoagung, SMP PGRI Ngoro dan lapangan. (riz) Editor : Achmad RW