Atasi Limbah Tahu, IPAL Komunal Mayangan Dapat Suntikan CSR Pertamina Rp 7,5 M

Anggi Fridianto • Dipublikasikan Kamis, 24 September 2026 | 07:50 WIB
PENUH LIMBAH: Saluran Sekunder di Desa Mayangan, penuh limbah kemari, (23/9).
PENUH LIMBAH: Saluran Sekunder di Desa Mayangan, penuh limbah kemari, (23/9).  

 

JOMBANG – Penanganan limbah tahu yang diduga mencemari saluran Rejoagung 2 mulai mendapat titik terang. Instalasi pengolahan air limbah (IPAL) komunal yang selama ini direncanakan bakal direalisasikan tahun ini.

 Pembangunannya mendapat dukungan dana tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) Pertamina sekitar Rp 7,5 miliar.

Kepala Bidang Pengelolaan Sampah dan Ruang Terbuka Hijau (RTH) DLH Jombang Menis Agus Muttaqin mengatakan, pembangunan IPAL komunal di Desa Mayangan, Kecamatan Jogoroto saat ini masih dalam tahap koordinasi dengan sejumlah pihak. Rencana tersebut juga telah dibahas bersama Pertamina dan kementerian terkait.

”Insya Allah IPAL komunal siap dibangun tahun ini. Pembangunannya didukung dana CSR dari Pertamina,” kata Menis.

 

Terkait nilai anggaran, Menis menyebut dana CSR yang disiapkan berada di kisaran Rp 7,5 miliar. ”Kalau tidak salah, kisarannya sekitar Rp 7,5 miliar. Untuk detailnya saya kurang ingat,” ujarnya.

Menurut dia, pembangunan IPAL komunal tersebut sebenarnya telah direncanakan sejak tahun lalu. Namun, proses realisasinya membutuhkan sejumlah tahapan hingga akhirnya siap dilaksanakan.

Dari sisi lahan, tidak ada kendala. Lahan untuk pembangunan IPAL telah dibeli melalui paguyuban pengusaha tahu.

 ’’Lahannya sudah clear. Paguyuban melakukan urunan untuk membeli lahan dari warga,’’ terangnya.

Dengan lahan yang telah tersedia, pembangunan tinggal menunggu proses eksekusi. Menis menyebut luasan lahan tersebut dinilai memadai untuk kebutuhan pembangunan IPAL.

Baca Juga: Sidak 2 SPPG di Plandaan Jombang, Satgas MBG Temukan IPAL Keruh dan Berbau

Keberadaan IPAL komunal diharapkan menjadi solusi jangka panjang untuk mengurangi masuknya limbah tahu ke sungai. Nantinya, fasilitas tersebut akan dikelola paguyuban, termasuk kebutuhan biaya operasionalnya.

”Untuk biaya operasional IPAL selanjutnya akan menjadi tanggung jawab paguyuban. Paguyuban juga sudah membentuk koperasi untuk mengelola operasionalnya,” jelasnya.

Sementara itu, DLH Jombang akan berperan sebagai pendamping. Pendampingan dilakukan mulai pembinaan, pengarahan hingga pemilihan teknologi pengolahan limbah. ’’DLH sebagai pendamping. Kita mendampingi, membina dan mengarahkan. Ini bukan persoalan yang baru, sudah cukup lama kita upayakan penyelesaiannya, termasuk dalam pemilihan teknologi,” katanya.

Teknologi yang dipilih nantinya diharapkan memiliki biaya operasional relatif murah sehingga lebih mudah diterapkan dan dikelola secara berkelanjutan. Teknologi tersebut juga telah diusulkan kepada kementerian untuk dapat digunakan dalam pembangunan IPAL. ’’Harapannya, biaya operasionalnya murah sehingga memudahkan paguyuban dalam menjalankan IPAL tersebut,’’ pungkasnya. (ang/naz)

Editor : Anggi Fridianto
ipal komunal mayangan csr pertamina Jombang Jogoroto