JOMBANG – Proyek rehabilitasi Bendung Jatimlerek, Kecamatan Plandaan, masih berjalan dengan progres sekitar 30 persen hingga pekan lalu.
Meski pekerjaan berlangsung di kawasan Sungai Brantas, pasokan air irigasi Jatimlerek ke petani dipastikan tetap aman.
Kepala Bidang Sumber Daya Air (SDA) Dinas PUPR Jombang, Sultoni, menyebut angka progres tersebut disampaikan dalam pertemuan dengan BBWS Brantas.
”Informasinya progres sekitar 30 persen per minggu lalu,” ujarnya, Kamis (17/9).
Ia menegaskan, aktivitas proyek tidak memengaruhi aliran air Sungai Brantas menuju intake irigasi.
”Tidak ada efek. Ini tidak akan pengaruh ke pasokan irigasi. Jadi, air Sungai Brantas masih masuk ke intake Jatimlerek,” jelasnya.
Pantauan di lapangan, pekerjaan masih terkonsentrasi di sisi selatan Sungai Brantas, tepatnya Desa Sudimoro, Kecamatan Megaluh.
Sementara sisi utara atau Desa Jatimlerek belum banyak tersentuh. Pemasangan turap baja di tengah sungai juga belum seluruhnya mencapai sisi utara.
Baca Juga: Rehabilitasi Bendung Jatimlerek Jombang Mulai Digeber, Turap Baja Dipancang di Sungai Brantas
Dam Karet Jatimlerek sendiri dibangun sejak 1990 oleh Proyek Brantas bersama Konsultan Nippon Koei Jepang dan PT Indra Karya dengan anggaran Rp 7,9 miliar. Bendung berlebar 150 meter dan tinggi 1,85 meter itu menjadi bendungan karet pertama di Indonesia bersama Dam Karet Menturus. Kini, bendung menjalani rehabilitasi dengan nilai Rp 268 miliar dari APBN melalui kontrak tahun jamak (MYC).
Di tengah pelaksanaan, anggaran proyek disebut terdampak efisiensi.
Alokasi 2026 dipangkas dari Rp 120 miliar menjadi Rp 50 miliar, sementara 2027 meningkat menjadi Rp 210 miliar.
Pejabat Pembuat Komitmen BBWS Brantas, Agung Purnayudha, menyebut pihaknya masih menghitung dampak pergeseran anggaran terhadap pembangunan kisdam yang ditargetkan rampung September–Oktober. BBWS menyusun strategi agar tahapan tetap berjalan demi menjaga target penyelesaian proyek pada 4 Desember 2027. (fid/naz)
Editor : Anggi Fridianto