Maliki yaum al-din. Sebelumnya telah ditutur sifat Tuhan yang ’’Maliki’’ ini banyak diminati manusia. Pingin kuasa, pingin pangkat, pingin dihormati, sehingga tidak sedikit yang terjerat dalam perangkap setan ini, wani bondo, wani tukaran, wani jegal-jegalan. Na’udz billah min dzalik.
Yang keblinger adalah ketika dia diumumkan dan resmi terpilih, menjadi pemenang dalam pemilihan. Lalu, sujud syukur. Iki piye..? Ini jelas sekali, bahwa dia memandang jabatan sebagai rezeki, bukan dipandang sebagai amanah.
Sadarlah, bahwa sujud syukur itu hanya saat menerima kenikmatan materi, ’’Huduts al-ni’mah’’. Seperti mendapat tranferan tak terduga sekian miliar, mendapatkan sauran utang yang lama terlupakan, mendapatkan kesembuhan spektakuler, anaknya lulus dan sebagainya.
’’Maliki yaum al-din’’ mengisyaratkan bahwa pemimpin itu jujur, adil dan bijak seperti keadilan yang diragakan Tuhan nanti di hari akhir. Salah yo salah, bener yo bener. Tak ada penzaliman meski seberat zarah. Artinya, seorang pemimpin itu memang harus saleh, tapi kesalehannya bersifat sosial, lebih manfaati bagi orang banyak, pada umat bukan saleh pribadi.
Baca Juga: Camat Sumobito Pensiun, Pemkab Jombang Tunjuk Sekcam Jadi Plt
Ketakwaan pemimpin bukan pada salat jamaahnya rajin, puasa sunah Senin dan Kamis, istiqamah baca Alquran, wiridannya panjang, tapi diukur dari kebijakannya. Jika bijak, jujur, adil, mensejahterakan, maka dia terhormat di surga nanti.
Kalau saja terpaksa dan harus memilih LEBIH BAIK PEMIMPIN ’’KAFIR’’ tapi adil, bijak dan mensejahterakan umat ketimbang pemimpin kiai, mursyid thariqah, hafiz Alquran tapi tidak jujur dan tak adil. Iki umpomo.
Dalam hadis, imam ‘adil itu dipuji-puji sebagai penghuni surga kelas atas. Jadi, bila pemimpin itu masuk surga, bisa jadi bukan karena salatnya khusyuk, tahajudnya kenceng, melainkan karena kebijakannya yang maslahah. Maka tak mustahil, kelak banyak pengurus organisasi keagamaan masuk neraka karena menjual agamanya, bukan menghidupi dan berkhidmah demi agama. Untuk itu, persoalan tak adil dan brengseknya pemimpin ini hingga berbias pada keterlibatan dan peran ulama dan orang berilmu. Ulama’ harus tampil tegas dan
berani, meski berisiko. Berani memberi nasihat kepada pemimpin durhaka secara bijak dan tegas.
Nasihat kepada pemimpin brengsek ini, oleh agama dikategorikan sebagai ’’Afdlal al-Jihad’’, jihad utama. Afdlal al-jihad kalimah haqq tuqal ‘ind sulthan ja’ir. Jadi sifat jihad itu ada tiga. Pertama, al-jihad al-afdlal, seperti dicontohkan tadi. Kedua, al-jihad al-akbar, jihad besar, yaitu jihad melawan hawa nafsu sendiri.
Ketiga, al-jihad al-ashghar, jihad kecil, yaitu melawan musuh secara fisik di medan perang.
Ketika Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam pulang dari suatu peperangan, kepada para sahabat beliau bersabda: Raja’na min al-jihad al-shghar ila al-jihad al-akbar. Lha yo, perang melawan wong kafir yang totohane nyowo, mati, kok dikatakan sebagai jihad
kecil. Begitu kira-kira geremengan para sahabat.
Dan Rasul cerdas itu mengerti kegalauan mereka, lalu dijelaskan: ’’Jihad al-nafs’’.
Jihad besar adalah berperang melawan hawa nafsu sendiri. Nafsu yang mengajak
kita berburuk perilaku, hasud, iri dan dengki. (bersambung. In sya’ Allah).
Editor : Anggi Fridianto