JOMBANG - Sejumlah kekurangan ditemukan Satgas Makan Bergizi Gratis (MBG) Kabupaten Jombang saat melakukan inspeksi mendadak (sidak) di SPPG Mangunan, Kecamatan Kabuh, Kamis (3/9) siang.
Di antaranya jumlah rice steamer yang dinilai kurang, belum tersedianya sealer, serta alat pemeriksaan kualitas air yang tidak dapat digunakan.
Sekdakab Jombang sekaligus Kasatgas MBG Kabupaten Jombang Agus Purnomo mengatakan, sidak dilakukan untuk melihat langsung kondisi SPPG Mangunan setelah muncul dugaan keracunan MBG massal terhadap ratusan siswa SMPN 1 Kabuh.
Menurut Agus, SPPG Mangunan melayani sekitar 2.897 penerima manfaat. Namun, keluhan kesehatan dalam kasus tersebut sejauh ini hanya dilaporkan dari SMPN 1 Kabuh.
”Penerima manfaat di situ kalau enggak salah kan 2.897. Tapi kenapa yang keracunan kok hanya SMP 1 saja? Kan agak aneh data-datanya,” ujar Agus.
Dari pengecekan di lokasi, Agus menemukan proses memasak tidak dilakukan dalam satu kali produksi.
Makanan dimasak dalam beberapa batch, menyesuaikan jumlah penerima manfaat.
Di sisi lain, sarana produksi yang tersedia dinilai belum ideal untuk melayani jumlah penerima manfaat sebanyak itu.
Baca Juga: Nasib SLHS SPPG Mangunan Usai Picu Warga SMPN 1 Kabuh Diduga Keracunan MBG, Ini Kata Kadinkes
Salah satunya rice steamer yang hanya tersedia dua unit.
”Rice steamer-nya cuma dua. Seyogianya dengan jumlah penerima manfaat 2.897 itu paling tidak tiga sampai empat,” jelasnya.
Satgas juga menemukan SPPG Mangunan belum memiliki sealer. Padahal, alat tersebut menjadi salah satu persyaratan dari Badan Gizi Nasional (BGN) sebelum SPPG beroperasi kembali setelah libur sekolah. ”Di situ juga belum ada sealer-nya,” katanya.
Catatan lain berkaitan dengan kualitas air. Saat sidak, alat pemeriksaan air yang tersedia di SPPG tidak dapat digunakan karena baterainya habis.
Satgas kemudian mengecek depot tempat air tersebut diperoleh. Namun, alat di depot tersebut juga mengalami kerusakan sehingga kualitas air yang digunakan belum dapat dipastikan.
”Di posisi deponya juga sama-sama alat-alatnya rusak sehingga enggak tahu pasti,” ungkap Agus.
Menurut dia, pemeriksaan kualitas air diperlukan untuk memastikan air yang digunakan dalam proses produksi aman dan terhindar dari bakteri seperti E. coli.
Selain sarana produksi dan air, Satgas juga mengecek variasi menu MBG. Secara umum, variasi menu dinilai sudah baik.
Namun, ada catatan agar daging sapi diberikan secara berkala. ”Diharapkan paling tidak dalam dua minggu sekali itu harus ada daging sapi,” ujarnya.
Seluruh temuan tersebut dicatat Satgas MBG dan akan dilaporkan kepada BGN sebagai bahan evaluasi. Agus menyebut masih ada sejumlah pembenahan yang perlu dilakukan di SPPG Mangunan. ”Banyak pembenahan, catatan-catatan yang nanti saya sampaikan ke BGN sebagai bahan evaluasi untuk menentukan keputusan ke depan,” tegasnya.
Sementara terkait status SPPG Mangunan setelah kasus dugaan keracunan massal, Agus mengatakan Pemkab Jombang belum memiliki kewenangan menentukan apakah SPPG tersebut akan di-Suspend (dihentikan sementara) atau tidak. Keputusan tersebut berada di tangan BGN. ”Kalau status itu kewenangan BGN. Kami cuma mengoreksi kekurangan-kekurangan,” pungkasnya. (riz/naz)
Editor : Anggi Fridianto