JOMBANG – RSUD Jombang menggelar pelatihan penanganan kegawatdaruratan bagi pengemudi siaga desa, Rabu (2/9).
Kegiatan yang berlangsung di Ruang Pertemuan KH Wahab Hasbullah itu bertujuan meningkatkan kemampuan pengemudi ambulans desa dalam memberikan pertolongan awal kepada pasien sebelum mendapatkan penanganan medis lanjutan.
’’Pelatihan kegawatdaruratan sangat penting bagi pengemudi ambulans desa agar mereka tidak hanya berfungsi sebagai sopir pengantar, tetapi juga mampu memberikan pertolongan awal yang cepat, tepat, dan aman,’’ kata Direktur RSUD Jombang, dr Pudji Umbaran MKP.
Pelatihan kegawatdaruratan sangat penting bagi pengemudi ambulans desa. Sebab, keberadaan mereka tidak hanya sebatas mengantarkan pasien menuju fasilitas kesehatan.
Dalam pelatihan tersebut, para pengemudi dibekali kemampuan Bantuan Hidup Dasar (BHD). Salah satunya keterampilan melakukan resusitasi jantung paru (RJP) untuk menangani pasien yang mengalami henti jantung maupun kondisi kritis sebelum memperoleh penanganan medis lebih lanjut.
Baca Juga: Dua Peserta Muktamar NU ke-35 Dirawat di RSUD Jombang, Begini Kondisi Terbarunya
Peserta juga mendapat materi mengenai teknik evakuasi korban secara aman. Mulai dari cara mengangkat, memindahkan hingga mengevakuasi pasien dengan benar agar tidak memperparah kondisi atau cedera yang dialami, terutama pada kasus kecelakaan lalu lintas dan trauma.
Pemahaman mengenai standar operasional prosedur (SOP) pelayanan ambulans juga menjadi bagian penting dalam pelatihan. Pengemudi diharapkan mengetahui prosedur yang harus dilakukan ketika membawa pasien dalam kondisi darurat selama perjalanan.
’’Pengemudi harus mampu merespons kondisi darurat dengan cepat dan tepat. Terlebih, wilayah pedesaan memiliki tantangan tersendiri, termasuk jarak tempuh menuju fasilitas kesehatan yang terkadang cukup jauh,’’ jelasnya.
Baca Juga: Muktamar NU ke-35 Sukses Digelar, Pemkab Jombang Ungkap Peran Besar Lintas OPD
Kemampuan tersebut menjadi satu kesatuan dalam pelayanan ambulans desa. Kecepatan membawa pasien ke fasilitas kesehatan harus diimbangi dengan kemampuan memberikan pertolongan awal dan menjaga keselamatan selama perjalanan.
’’Harapan kami, setelah mengikuti pelatihan ini para pengemudi semakin percaya diri, sigap dan terampil ketika menghadapi kondisi kegawatdaruratan. Sehingga pasien bisa mendapatkan pertolongan awal yang tepat sejak berada di ambulans,” ungkapnya. (ang/jif)
Editor : Anggi Fridianto