JOMBANG – Ratusan jemaah umrah asal Jombang mendadak gagal berangkat bersama ke Tanah Suci pada Minggu (30/8) dini hari.
Sebanyak 196 jemaah yang sudah bersiap menuju bandara hanya mendapat informasi sekitar dua jam sebelum keberangkatan, tiket yang siap ternyata baru untuk 40 orang.
Ratusan jemaah tersebut merupakan rombongan KBIHU Muslimat NU Jombang yang menggunakan jasa PPIU PT Anisa Ahmada Travelindo. Semula terdapat 200 jemaah yang dijadwalkan berangkat bersama.
Namun, empat orang kemudian batal karena sakit sehingga tersisa 196 jemaah.
Divisi Umrah KBIHU Muslimat NU Jombang Ema Umiyyatul Chusnah mengatakan, sesuai jadwal, rombongan harus sudah berangkat menuju bandara sekitar pukul 02.00 WIB.
Namun, sekitar pukul 23.00 hingga 00.00 WIB, pihak travel baru menginformasikan adanya persoalan tiket.
Baca Juga: 196 Jemaah Umrah Jombang Gagal Berangkat, KBIHU Tuding Travel Langgar Kesepakatan
“Tiba-tiba pukul antara pukul 11.00–12.00 malam, saya di-info oleh pihak travel bahwa tiket yang issued dan siap berangkat hanya 40 seat,” ujar Ema.
Informasi tersebut membuat pihak KBIHU dan jemaah kecewa. Sebab, dari 40 tiket yang siap, tidak semuanya diperuntukkan bagi jemaah KBIHU Muslimat NU Jombang.
Pihak travel kemudian menawarkan agar keberangkatan dilakukan secara bertahap. Namun, tawaran tersebut ditolak jemaah. Mereka ingin 196 jemaah berangkat bersama, terlebih terdapat jemaah yang berangkat bersama keluarga.
“Memang ada yang berangkat tidak bersamaan dengan keluarganya. Jadi keputusannya waktu malam itu memang jemaah tidak mau berangkat karena kok bisa seperti ini,” kata Ema.
Kepala Kantor Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) Jombang Ilham Rohim membenarkan adanya persoalan tersebut.
Menurutnya, sesuai jadwal dari travel, jemaah memang diminta bersiap untuk keberangkatan. Namun, ketika hari keberangkatan tiba, ternyata hanya sekitar 40 tiket yang siap.
“Jemaah kan tidak siap diberangkatkan dengan 40 jemaah itu. Keinginannya adalah 196 itu berangkat bersama-sama,” jelas Ilham.
Kemenhaj Jombang kemudian memfasilitasi mediasi antara jemaah, KBIHU Muslimat NU Jombang, dan PT Anisa Ahmada Travelindo.
Dalam mediasi tersebut disepakati keberangkatan dilakukan secara berangsur-angsur dengan batas waktu maksimal tiga hari.
Ilham menyebut, persoalan tersebut terjadi karena tiket pesawat yang belum turun. Pihaknya juga meminta klarifikasi kepada travel terkait kondisi tersebut.
“Setelah kami telusuri, kita minta klarifikasi dan kita mediasi, terkait dengan tiket pesawat. Tiket pesawat yang belum turun,” ungkapnya.
Ema menegaskan, tertundanya keberangkatan tersebut bukan karena persoalan pembayaran.
Seluruh biaya 196 jemaah yang berangkat melalui KBIHU Muslimat NU Jombang sudah dilunasi kepada travel.
“Seratus persen sudah kita lunasi. Dua minggu setelah keberangkatan, itu sudah kita lunasi semuanya. Jadi tidak ada dana yang kita pakai,” tegasnya.
Setelah kesepakatan mediasi, proses pemberangkatan mulai dilakukan.
Sebanyak 20 jemaah diberangkatkan pada 31 Agustus dan telah tiba di Madinah.
Kemudian 120 jemaah kembali diberangkatkan melalui Bandara Yogyakarta menggunakan Malaysia Airlines.
Dengan demikian, masih tersisa 56 jemaah yang menunggu proses tiket dan dijadwalkan berangkat melalui Bandara Juanda.
Ema mengatakan pihak travel menyebut kendala awal tersebut berkaitan dengan proses ticketing.
Meski kecewa karena informasi disampaikan sangat mendadak, KBIHU memilih memastikan seluruh jemaah diberangkatkan dan mendapatkan pelayanan hingga kembali ke Tanah Air.
“Bukan kegagalan, tapi tertunda,” ujarnya.
Ema juga menyebut persoalan yang sempat memanas hingga didatangi kepolisian tersebut akhirnya selesai melalui mediasi.
Dalam kesepakatan itu, travel diberi waktu maksimal tiga hari untuk memberangkatkan seluruh jemaah.
“Sudah, selesai di mediasi. Ada surat pernyataan dalam waktu tiga hari, maksimal tanggal 2, jemaah harus diberangkatkan,” pungkasnya.
Sementara itu, Ilham menegaskan belum ada proses hukum pidana terkait persoalan tersebut.
Namun, kinerja travel tetap menjadi bagian dari monitoring dan akreditasi penyelenggara perjalanan ibadah umrah.
“Di travel itu ada monitoring, ada akreditasi. Tentunya itu menjadi hal-hal ketika diakreditasi nanti seperti apa,” tandasnya. (riz/ang)
Editor : Anggi Fridianto