Kiai Sepuh NU Berkumpul di Lirboyo, Serukan Muktamar ke-35 Bebas dari Intervensi

Anggi Fridianto • Dipublikasikan Sabtu, 29 Agustus 2026 | 07:12 WIB
KH Muhibul Aman Ali
KH Muhibul Aman Ali

 

KEDIRI — Sejumlah kiai sepuh Nahdlatul Ulama (NU) menggelar pertemuan tertutup selama lebih dari satu jam di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur, Rabu (26/8/2026).

 Pertemuan tersebut merupakan kelanjutan dari pertemuan sebelumnya di PBNU dan menghasilkan Tausiyah Moral terkait pelaksanaan Muktamar ke-35 NU.

Tausiyah Moral tersebut disampaikan dengan sikap tegas sebagai respons atas munculnya berbagai indikasi pengondisian, intimidasi, hingga isu karantina peserta di Asrama Haji Sukolilo, Surabaya, menjelang pelaksanaan Muktamar ke-35 NU di PP Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang.

Pertemuan tersebut dihadiri sejumlah ulama sepuh NU. Di antaranya, KH Ma’ruf Amin, KH M Anwar Mansur, KH Abdullah Kafabihi Mahrus, KH Ubaid Maemun Zubair, KH Mu’adz T, KH Athoillah S Anwar, KH Muhibul Aman Ali, serta KH Nurul Yakin Ishaq.

Baca Juga: KH Ahmad Baso Soroti Keuangan dan Kaderisasi NU Jelang Muktamar ke-35, Begini Penjelasannya

Juru bicara kiai sepuh, KH Muhibul Aman Ali, mengatakan, Tausiyah Moral dikeluarkan karena para kiai sepuh mencermati adanya sejumlah upaya yang dinilai tidak sesuai prosedur dan berpotensi mencederai martabat jam’iyah NU.

Para kiai juga menyoroti adanya dugaan oknum yang membawa-bawa nama pemerintah untuk memberikan tekanan psikologis kepada para muktamirin atau peserta Muktamar.

’’Memilih pemimpin yang tidak afdal (tidak terbaik), padahal tahu ada yang lebih baik, adalah bentuk pengkhianatan kepada Allah, Rasulullah, dan para muassis (pendiri NU),’’ tegas KH Muhibul Aman Ali saat menyampaikan amanat para kiai sepuh seusai pertemuan.

Ia menegaskan, proses pemilihan kepemimpinan NU harus dilakukan secara jujur, bermartabat, dan sesuai dengan mekanisme organisasi serta nilai-nilai yang diwariskan para muassis NU.

Para kiai sepuh mengingatkan agar tidak ada pihak yang melakukan intervensi, intimidasi, pengondisian, maupun tindakan lain yang dapat memengaruhi kebebasan peserta Muktamar dalam menentukan pilihan.

 Baca Juga: Muktamirin Gelisah soal Pengkondisian AHWA di Muktamar NU ke-35, KH Anis Ungkap Dugaan Paket Nama

’’Jika proses yang tidak jujur ini dibiarkan dan menjadi preseden buruk atau sunnah sayyi’ah, maka dosa dari perbuatan tersebut akan terus mengalir hingga hari kiamat,’’ ujarnya

Karena itu, para kiai sepuh menyerukan kepada seluruh pihak yang terlibat dalam Muktamar ke-35 NU untuk menjaga kejujuran, keadilan, adab, dan marwah organisasi. Muktamar hendaknya menjadi forum permusyawaratan yang bebas dari tekanan dan kepentingan pihak-pihak tertentu.

’’Jangan ada pengkhianatan terhadap amanah para muassis. Jangan ada intervensi. Biarkan muktamirin menjalankan amanahnya secara bebas, jujur, dan bertanggung jawab,’’ tegasnya.

Tausiyah tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa Muktamar NU bukan sekadar forum pergantian kepemimpinan. Melainkan momentum penting untuk menjaga kesinambungan perjuangan, tradisi keulamaan, dan marwah jam’iyah Nahdlatul Ulama. (ang/jif/*)

Editor : Anggi Fridianto
Muktamar NU Jombang Muktamar NU ke-35 kiai sepuh NU Lirboyo Kediri Tausiyah Moral NU