Muktamar NU ke-35 di Jombang Diterpa Isu Suap, Gus Ulib Ingatkan Hal Ini

Anggi Fridianto • Dipublikasikan Jumat, 28 Agustus 2026 | 06:25 WIB


KH Zainul Ibad As’ad (Gus Ulib)
KH Zainul Ibad As’ad (Gus Ulib)

 

JOMBANG – Isu praktik suap bermunculan di tengah pelaksanaan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Jombang.

Pengasuh Pondok Pesantren Darul Ulum Rejoso, Jombang, KH Zainul Ibad As'ad atau Gus Ulib, mengingatkan para muktamirin agar tidak terjebak kepentingan materi dalam mengambil keputusan organisasi.

Gus Ulib menegaskan, Muktamar NU merupakan forum besar yang seharusnya dijalankan dengan menjunjung tinggi keilmuan, kebenaran, dan nilai-nilai keulamaan.

 Karena itu, ia meminta peserta tidak menggunakan cara-cara yang bertentangan dengan ajaran agama demi memaksakan kepentingan tertentu.

"Harapan kami kepada para muktamirin yang semuanya adalah ulama, bersikaplah sebagaimana mestinya seorang ulama.

Jangan bersikap yang jauh dari koridor dan pemahaman ulama itu sendiri, memasukkan unsur-unsur syubhat, bahkan menjalankan sesuatu yang dilarang dan dilaknat oleh Allah. Seperti menerima suap, atau bahkan sebagai penyuap, untuk memaksakan satu keinginan atau kehendak," kata Gus Ulib.

Menurutnya, NU merupakan jam'iyyah yang dihimpun oleh para ulama, orang berilmu, dan cendekiawan. Maka, keputusan yang dihasilkan dalam Muktamar harus lahir dari pertimbangan keilmuan, bukan karena iming-iming materi maupun kepentingan pribadi atau kelompok.

mBaca Juga: Prabowo Ingin Jadi Warga NU? Tagih KTA ke Gus Yahya Saat Buka Muktamar ke-35 di Jombang

"NU atau Nahdlatul Ulama ini adalah perkumpulan dari para orang-orang yang alim, orang yang berilmu, para cendekiawan," ujarnya.

Gus Ulib kemudian mengingatkan bahwa predikat ulama tidak cukup hanya ditunjukkan melalui atribut, gelar, profesi, maupun penguasaan terhadap kitab agama. Menurut dia, ukuran penting seorang ulama adalah ketaatan dan rasa takut kepada Allah.

Ia merujuk Al-Qur'an Surat Al-Fatir ayat 28 yang menjelaskan tentang orang-orang yang memiliki rasa takut kepada Allah.

"Siapa pun yang memiliki ketakutan kepada Allah, dalam artian taat, takut bermaksiat, itu adalah hamba Allah. Tidak perlu dan tidak peduli apa profesinya, apa pekerjaannya, apa golongannya, sukunya, rasnya," tuturnya.

Karena itu, Gus Ulib meminta para muktamirin tidak menjadikan identitas keulamaan hanya sebagai simbol. Menurutnya, atribut keagamaan tidak akan bermakna apabila tidak disertai ketundukan dan ketaatan kepada Allah.

"Kalau toh mereka itu memiliki pola dan kebiasaan seperti itu, namun dalam kesehariannya dia tidak memiliki ketaatan, ketawaduan, ketakutan kepada Allah, bahkan rasa malu kepada Allah, itu bukan ulama," tegasnya.

Untuk menggambarkan bahaya ketika ilmu dan kedudukan dikalahkan kepentingan duniawi, Gus Ulib mengangkat kisah Bal'am bin Ba'ura.

Baca Juga: Buka Muktamar NU ke-35, Prabowo Tegaskan Tak Mengatur Jalannya Muktamar

Menurutnya, kisah tersebut menjadi pelajaran bahwa seseorang yang memiliki pengetahuan tetap dapat tergelincir ketika tidak mampu menjaga integritas dan tergoda kepentingan materi.

Ia pun berharap kondisi tersebut tidak terjadi dalam Muktamar NU ke-35 di Jombang.

"Nah, saya harap para muktamirin bisa belajar dari apa yang terjadi pada Bal'am bin Ba'ura. Jangan sampai Bal'am bin Ba'ura ada dan terjadi dalam Muktamar NU yang ke-35 ini," tegasnya.

Gus Ulib berharap seluruh muktamirin dapat menjalankan forum dengan hati nurani serta menempatkan kepentingan NU dan umat di atas kepentingan materi.

"Selamat bermuktamar. Bermuktamarlah dengan hati nurani dan berniatlah untuk jihad fi sabilillah dengan bendera Nahdlatul Ulama. Dan niat berkhidmat untuk umat," pungkasnya. (ang)

Editor : Anggi Fridianto
Muktamar NU Jombang Muktamar NU ke-35 Isu Suap Muktamar NU Gus Ulib Nahdlatul Ulama