Jelang Muktamar NU di Jombang, Kiai Mukti Ali Ingatkan PWNU dan PCNU Jangan Gadaikan NU dengan Uang

Anggi Fridianto • Dipublikasikan Kamis, 27 Agustus 2026 | 06:38 WIB
KH Mukti Ali Qusyairi
KH Mukti Ali Qusyairi

 

JAKARTA — Penasihat Lembaga Bahtsul Masail (LBM) PWNU Jakarta, KH Mukti Ali Qusyairi, menyayangkan maraknya kritik bernada negatif hingga perundungan terhadap Rais Aam PBNU, KH Miftachul Akhyar, di media sosial.

Menurutnya, kondisi tersebut semakin memprihatinkan karena suara-suara negatif itu justru banyak datang dari kalangan internal Nahdliyin sendiri, bukan semata-mata dari pihak di luar NU.

"Sedih sekali kalau sosok Rais Aam PBNU dibully oleh netizen. Tone-nya negatif, bahkan kekuatan videonya juga menunjukkan hal yang sama.

Yang menyedihkan, mereka yang melakukan bully itu bukan orang di luar NU, melainkan orang NU sendiri,’’ kata KH Mukti dalam acara Serial Diskusi Muktamar ke-35 NU dengan tema Mencari Sosok Ideal Rais Aam PBNU di Kafe Trisnoku, Jalan Raden, Jakarta, Senin (24/8).

Ia menilai, fenomena tersebut perlu dibaca sebagai gejala delegitimasi sosial terhadap kepemimpinan organisasi.

Baca Juga: Ziarah Makam Mbah Wahab di Tambakberas Jombang, Ma’ruf Amin Beri Peringatan Tegas soal Politik Uang

Menurutnya, aspirasi warga Nahdliyin saat ini dapat dilihat secara terbuka melalui percakapan dan komentar di media sosial.

 ’’Kalau seandainya PCNU dan PWNU mendengarkan aspirasi warga Nahdliyin, cukup melihat bagaimana komentar-komentar warga Nahdliyin di media sosial. Bahkan, diskusi-diskusi mengenai hal ini juga ramai,’’ terangnya.

KH Mukti menegaskan, PWNU dan PCNU sebagai struktur organisasi yang berada dekat dengan warga Nahdliyin semestinya mampu menangkap aspirasi tersebut secara objektif.

Apalagi, dinamika yang berkembang di akar rumput menjadi salah satu pertimbangan penting dalam menentukan arah kepemimpinan NU ke depan.

’’Kalau PCNU dan PWNU merupakan representasi dari aspirasi warga Nahdliyin, maka sebenarnya sudah cukup jelas bagaimana aspirasi tersebut. Kalau kepengurusan sekarang ini, tonenya negatif. Dan itu mayoritas,’’ ujarnya. K

arena itu, ia berharap PWNU dan PCNU benar-benar mendengarkan suara warga Nahdliyin dalam proses pemilihan Rais Aam dan Ketua Umum PBNU pada Muktamar ke-35 NU di Jombang yang dijadwalkan berlangsung pada 27—31 Agustus 2026.

KH Mukti mengingatkan seluruh pihak agar proses suksesi kepemimpinan NU tidak direduksi menjadi transaksi kepentingan jangka pendek.

Menurutnya, NU merupakan organisasi yang memiliki nilai sejarah, keagamaan, sosial, dan kebangsaan yang sangat besar sehingga harus dijaga kehormatannya.

Baca Juga: Tinjau Venue Pembukaan, Gus Yahya Beber Mekanisme Usulan AHWA Muktamar Ke-35 NU  

’’Sekali lagi saya katakan, NU tidak bisa dijual dengan harga berapa pun. NU itu sangat istimewa, sangat mahal. Jangan mau NU dikompromikan hanya dengan bisyarah,’’ tegasnya.

Ia berharap Muktamar ke-35 NU menjadi momentum untuk melakukan refleksi sekaligus mengembalikan proses pengambilan keputusan organisasi kepada prinsip-prinsip musyawarah, kemaslahatan, dan aspirasi warga Nahdliyin.

’’Jangan sampai kepentinga sesaat mengalahkan kepentingan NU yang jauh lebih besar. Yang harus menjadi pertimbangan utama adalah masa depan NU dan kemaslahatan seluruh warga Nahdliyin,’’ tegasnya. (ang/jif/*)

 

Editor : Anggi Fridianto
Muktamar NU NU Jombang Rais Aam PBNU pbnu nahdliyin