Jelang Muktamar NU di Jombang, Kiai Said Aqil Dinilai Lebih Mumpuni Jadi Rais Aam

Anggi Fridianto • Dipublikasikan Kamis, 27 Agustus 2026 | 06:37 WIB
KH Adnan Anwar
KH Adnan Anwar

 

Baca Juga: Ziarah Makam Mbah Wahab di Tambakberas Jombang, Ma’ruf Amin Beri Peringatan Tegas soal Politik Uang

Kiai Said Aqil Dinilai Lebih Mumpuni sebagai Calon Rais Aam

JAKARTA - Nama mantan Ketua Umum PBNU, KH Said Aqil Siroj, semakin menguat sebagai calon Rais Aam PBNU. Mantan ketua umum PBNU dua periode ini dinilai sebagai sosok yang berpengalaman, konsolidator, dan selalu turun langsung menyelesaikan masalah.

 

’’Saya mengikuti kabinetnya Pak Said. Saya juga lama berinteraksi dengan beliau. Setahu saya, dalam dua periode (Ketua Umum PBNU), Pak Said itu relatif aman,’’ kata KH Adnan Anwar.

 

Masalah tetap ada, tapi tidak sampai menimbulkan guncangan-guncangan yang menyebabkan perpecahan di internal organisasi.

 

’’Artinya Pak Said itu figur yang konsolidator. Sosok yang pengalaman, kemudian beliau juga berinteraksi dengan masalah geopolitik. ltu sangat penting,’’ bebernya.

 

Kiai Said juga dikenal sebagai pemimpin yang turun langsung menyelesaikan masalah. Misalnya, ketika ada polemik nasab Ba'lawi, Kiai Said berupaya menjelaskan masalah tersebut, sehingga masalah mereda.

 

Bagaimana dengan nama Iain, seperti KH Ma'rufAmin dan KH Miftachul Akhyar yang juga digadang-gadang sebagai calon Rais Aam PBNU?

 

Kiai Adnan mengatakan, Kiai Ma'ruf merupakan sosok yang berpengalaman.

 

Sedangkan Kiai Miftah, masa kepemimpinannya diwarnai konflik dan aksi saling pecat dengan Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf.

 

 Kalau memecat, bahayanya kan personifikasi individu. Seolah-olah NU itu menjadi urusan individu. ltu implikasi bahaya dari seseorang yang memecat ketua tanfidziyah. ltu kan belum pernah terjadi ya,’’ tegasnya.

 

Menurut Kiai Adnan, di internal NU memang pernah ada waki ketua yang dipecat. Tapi setelah itu kemudian rekonsiliasi. Akhirnya pengurus itu masuk lagi dan damai.

 ’’Peristiwa pecat-memecat itu jarang terjadi. Di sepanjang kami di PBNU dulu ya, tidak ada pecat-memecat,’’ tegas Instruktur Nasional Pendidikan Kader Penggerak Nahdlatul Ulama (PKPNU) itu. (ang/jif/*)

Tokoh NU Minta KH Miftachul Akhyar Muhasabah Diri Jelang Muktamar

JAKARTA — Tokoh senior Nahdlatul Ulama (NU), KH Adnan Anwar, meminta Rais Aam PBNU, KH Miftachul Akhyar, melakukan muhasabah diri secara mendalam sebelum memutuskan kembali maju dalam Muktamar ke-35 NU di Jombang.

 

Menurut KH Adnan, keputusan untuk maju kembali sebagai Rais Aam harus mempertimbangkan secara jernih antara maslahat dan mudarat bagi keberlangsungan organisasi.

 

 Ia berharap KH Miftachul Akhyar dapat mengambil waktu khusus untuk melakukan perenungan dan mempertimbangkan seluruh konsekuensi yang mungkin muncul.

 

’’Ini masukan kita saja. Mungkin perlu ada forum muhasabah untuk NU, khususnya Rais Aam KH Miftachul Akhyar.

 Beliau perlu menyendiri untuk bermuhasabah dan menimbang, kalau saya maju lagi, antara mudarat dan maslahatnya lebih besar mana,’’ kata KH Adnan.

 

Ia menegaskan, apabila pencalonan kembali KH Miftachul Akhyar justru berpotensi menimbulkan konflik baru dan memperuncing perbedaan di tubuh NU, maka pilihan untuk tidak maju kembali patut dipertimbangkan.

’’Kalau kira-kira mudaratnya lebih besar, ya lebih baik Kiai Miftah tidak maju di Muktamar ke-35 NU di Jombang. Jangan sampai keputusan itu malah menimbulkan konflik baru yang tidak selesai-selesai,’’ urainya.

 

KH Adnan juga mengingatkan agar Muktamar NU tidak menjadi arena permainan kepentingan pihak-pihak tertentu.

Ia mengkhawatirkan adanya pihak yang mencoba mengatur proses muktamar tanpa memahami secara utuh karakter, tradisi, serta nilai-nilai yang hidup dalam NU.

 

’’Kalau ada orang yang mengatur-ngatur dan kemudian mendorong keadaan menjadi seperti yang mereka inginkan, menurut saya itu sangat tidak beradab.

 

Mereka tidak mengukur level bahayanya. Jangan sampai masuk ke wilayah yang pada suatu saat tidak bisa dikendalikan. Ini sangat berbahaya,’’ tegasnya.

 

Menurutnya, kekhawatiran tersebut menjadi semakin serius karena Muktamar ke-35 NU akan berlangsung di Jombang, daerah yang memiliki kedekatan historis dan spiritual dengan para pendiri NU, KH Hasyim Asy'ari dan KH Abdul Wahab Chasbullah.

 

’’Apalagi Muktamar kali ini dilaksanakan di Jombang, dekat dengan makam Kiai Wahab. Karena itu, jangan sampai nilai-nilai dan marwah perjuangan para pendiri NU justru dipermainkan,’’ ujarnya.

 

KH Adnan mengajak seluruh pihak untuk menjaga kesakralan dan kehormatan NU.

 

Menurutnya, NU tidak boleh diperlakukan semata-mata sebagai organisasi biasa yang dapat diatur berdasarkan kepentingan kekuasaan.

 

’’Jangan jadikan NU sebagai objek permainan. Tolong hati-hati betul. Jangan menyepelekan ini dan menganggap NU sebagai organisasi biasa,’’ katanya.

 

Ia juga mendorong para kiai untuk mengedepankan kebijaksanaan dan musyawarah dalam menentukan kepemimpinan NU ke depan.

 

 Bila diperlukan, para kiai senior dapat berkumpul untuk mencari jalan keluar terbaik bagi organisasi.

 

’’Harapan saya, para kiai memiliki wisdom. Bila perlu, kumpulkan para kiai dan bermusyawarah.

Kalau ada musyawarah para kiai, itu lebih baik. Kita mencari siapa yang paling maslahat untuk NU,’’ tutur KH Adnan. (ang/jif/*)

Editor : Anggi Fridianto
Muktamar NU NU Jombang Rais Aam PBNU KH Said Aqil KH Miftachul Akhyar