JOMBANG – Di tengah hiruk-pikuk persiapan Muktamar ke-35 NU di Tambakberas, Jombang pada 27-30 Agustus, sosok Dr. Mamik Rosita, M.Pd.I, menyita perhatian dari sudut yang berbeda: kepemimpinan perempuan di tubuh Nahdlatul Ulama (NU).
Dipercaya memimpin LP Ma’arif Jombang, ia membuktikan bahwa perempuan punya ruang untuk mengambil peran strategis, baik dalam organisasi maupun dunia pendidikan.
”Saya melihat perempuan memiliki kekuatan yang khas, yaitu mampu membangun komunikasi, mengelola banyak kepentingan, menjaga ketahanan keluarga sekaligus aktif dalam masyarakat dan organisasi,” ungkapnya.
Perjalanan Mamik di dunia pendidikan tidak dimulai dari tempat yang mentereng. Ia mengawali karier sebagai guru honorer, sebelum akhirnya dipercaya menjadi pengawas PAI Kemenag Jombang, hingga kini mengemban amanah sebagai Ketua LP Ma’arif PCNU Kabupaten Jombang.
Baca Juga: Inspiratif! Kisah Nasabah BRI Sri Purwanti Bangun Bisnis Kuliner Halal Citarasa Nusantara
Ia berasal dari Dusun Buhudan, Desa Wuluh, Kecamatan Kesamben. Pendidikan dasarnya ditempuh di SDN Kebonagung, Kecamatan Ploso, lalu berlanjut ke MTs Nidzamiyah Ploso.
Setelah itu, ia menempuh Sekolah Persiapan Perguruan Tinggi (SPPT) di MAIBU, Madrasah Al-I’dadiyah Bahrul Ulum Tambakberas Jombang.
Jenjang pendidikan tinggi ia tempuh di Universitas Hasyim Asy’ari, menyelesaikan S1 Pendidikan Agama Islam pada 2001 dan S2 PAI pada 2008.
Tak berhenti di situ, Mamik melanjutkan pendidikan doktoral di UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung dan menuntaskannya pada 2021.
Kariernya di dunia pendidikan bermula sebagai guru honorer di MTs Darul Falah Cukir dan SMPN Ngusikan. Setelah diangkat sebagai PNS, ia ditempatkan di SMPN Ngusikan, sebelum pindah ke MAN 7 Jombang pada 2017.
Setahun berselang, ia dipercaya menjadi pengawas guru PAI untuk jenjang SMP, SMA, SMK, dan SLB hingga sekarang. Di luar tugas itu, Mamik juga aktif sebagai dosen di STIT UW sejak 2007.
Kiprahnya terus berkembang lewat berbagai organisasi profesi. Ia aktif di Pokjawas PAI Kabupaten Jombang, pernah menjadi Sekretaris Pokjawas PAI Provinsi Jawa Timur, tim IT dan humas Pokjawas PAI Nasional, serta Sekretaris Pokjawas Pendidikan Agama Nasional.
Di organisasi profesi guru, ia pernah menjabat Bendahara MGMP PAI Provinsi Jawa Timur dan Bendahara AGPAII Jombang.
Sementara di lingkungan NU, Mamik pernah menjadi pengurus bidang peningkatan SDM Pergunu Jombang, Dewan Pakar Pergunu Jombang, divisi peningkatan kompetensi guru Pergunu wilayah, hingga akhirnya dipercaya sebagai Ketua LP Ma’arif PCNU Kabupaten Jombang.
Baca Juga: Inspiratif! Alumni Tambakberas Jombang, Khilma Anis Raih Radar Jember Awards 2026
Rangkaian amanah itu berjalan beriringan dengan sederet prestasi.
Sejak 2006, ia menjadi instruktur kurikulum, kemudian instruktur nasional dan provinsi Kurikulum 2013, asesor BAN PDM, Instruktur BSNP level 4, Tim Pengembang PAI Nasional, penulis buku, sekaligus pelatih daerah PKB PAI. Ia juga sempat mengikuti short course di Australia pada 2015.
Jejak prestasinya sebagai pendidik mulai terukir sejak 2009, saat meraih predikat guru berprestasi dalam PTK Nasional Kemenag RI serta Guru SMP Berprestasi Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Jombang.
Pada 2011, ia kembali meraih prestasi sebagai Guru SMP Berprestasi Kabupaten Jombang.
Setahun berikutnya, Mamik meraih Guru PAI Berprestasi Nasional Kemenag RI sekaligus Guru Berprestasi SMP tingkat Provinsi Jawa Timur.
Prestasi itu terus mengalir bahkan ketika ia beralih peran menjadi pengawas. Pada 2023, ia meraih Juara 1 Pengawas PAI Berprestasi Provinsi Jawa Timur.
Pada 2024 dan 2025, Mamik mendapat penghargaan sebagai pelopor Sekolah Moderasi Beragama Jawa Timur. Masih di tahun yang sama, ia juga meraih Juara 1 Lomba Kepengawasan Berbasis Digital Jawa Timur sekaligus dinobatkan sebagai Pengawas PAI Terbaik Jawa Timur.
Berbekal rekam jejak panjang itu, Mamik kini membawa perspektif pendidikan ke dalam kepemimpinannya di LP Ma’arif Jombang.
Namun baginya, peran perempuan tidak cukup dibuktikan lewat slogan semata.
”Ketika perempuan mendapat amanah kepemimpinan, yang harus ditunjukkan bukan sekadar bahwa perempuan juga bisa, tetapi bahwa saya dipercaya karena saya mampu menjalankan amanah,” tuturnya. (wen/naz)
Editor : Anggi Fridianto