JOMBANG - Penyegelan puluhan kios di Pasar Citra Niaga (PCN) Jombang diharapkan menjadi momentum pembenahan pasar.
Pedagang meminta Pemkab Jombang tidak berhenti pada penertiban kios yang tutup dan menunggak retribusi, tetapi juga mencari cara untuk kembali meramaikan aktivitas perdagangan.
Harapan itu disampaikan Setiawan, 66, pedagang pakaian yang berjualan di PCN sejak 1997. Dia mengakui kondisi pasar saat ini jauh berbeda dibandingkan masa lalu. Banyak kios tutup karena sepinya pembeli.
Pedagang yang masih bertahan pun harus menghadapi penjualan yang terus menurun.
”Harapan pedagang jangan hanya disegel lalu selesai. Harus tahu bagaimana situasi pasar dan solusinya bagaimana meramaikan pasar. Pemerintah jangan terlalu kaku,’’ katanya.
Menurut Setiawan, pemerintah perlu mengambil langkah konkret untuk menghidupkan kembali PCN. Salah satunya dengan menggelar kegiatan yang bisa menarik masyarakat datang ke kawasan pasar. Pedagang, lanjut dia, sebelumnya pernah mengusulkan kegiatan seperti senam dan aktivitas masyarakat lainnya.
”Kami pernah mengusulkan di sini ada kegiatan senam atau yang lain, jadi ada sinergi dengan pedagang,” imbuhnya.
Selain kegiatan, penataan kawasan pasar juga dinilai penting. Setiawan berharap lapak pedagang kaki lima (PKL) di bagian depan yang tidak digunakan untuk berjualan dapat dibersihkan. Dengan begitu, kawasan PCN terlihat lebih tertata.
”Kawasan kumuh ditertibkan. Serta ditata kembali di PCN ini,’’ ungkapnya.
Setiawan menyebut, banyaknya kios kosong merupakan dampak dari kondisi pasar yang semakin sepi. Pedagang yang masih bertahan sebenarnya tetap berupaya berjualan. Namun, tidak semuanya mampu bertahan ketika pembeli semakin jarang datang.
Baca Juga: Investor Bakal Masuk PCN Jombang, Pedagang Lama Berharap Tak Digusur
’’Iya banyak yang tutup di sini. Karena pasarnya sudah sepi. Ada pedagang yang sudah berusaha tetap berjualan, tetapi kondisinya sepi begini.
Setiap hari tetap bayar retribusi. Akhirnya banyak yang tidak kuat dan tutup,’’ jelasnya.
Kondisi tersebut mulai terasa setelah pandemi Covid-19. Perubahan kebiasaan masyarakat yang semakin banyak berbelanja secara daring turut memperberat kondisi pedagang. ’’Setelah pandemi Covid-19 itu. Terlebih kini banyak belanja online,’’ tuturnya.
Dampaknya terhadap omzet juga cukup besar. Penjualan pedagang mengalami penurunan drastis.
Bahkan, dalam sehari terkadang tidak ada barang yang terjual. ”Sekarang merosot drastis. Apalagi pedagang yang ada di dalam, sehari kadang tidak laku,’’ ujarnya.
Setiawan mengaku masih terbantu karena kiosnya berada di dekat akses jalan pasar. Posisi tersebut membuat kiosnya lebih mudah terlihat dibandingkan kios di bagian dalam.
Namun, kondisi itu tidak lagi seperti dahulu. Saat PCN masih ramai, hasil berjualan pakaian cukup untuk memenuhi kebutuhan sekaligus menyisihkan penghasilan.
Baca Juga: Lantai Dua PCN Jombang yang Mati Suri Mulai Dilirik Investor, Bakal Jadi Kafe dan Playground
’’Dulu ramai di sini, penjualan lumayan. Sebulan bisa menyisihkan Rp 1 juta sampai Rp 2 juta. Sekarang sudah tidak bisa,’’ ungkapnya.
Kini, pedagang lebih banyak mengandalkan momen tertentu untuk mendapatkan pembeli. Terutama saat Idul Fitri dan tahun ajaran baru ketika kebutuhan pakaian meningkat. ’’Pada intinya pedagang jualan buat makan saja,’’ katanya.
Terkait retribusi, Setiawan mengaku tetap membayar sesuai ketentuan. Retribusi kiosnya sebesar Rp 3.000 per hari. ’’Punya saya itu Rp 3.000 per hari,’’ ujarnya.
Hal senada disampaikan Khoirul, 45, pedagang lainnya. Dia mengatakan retribusi kios yang dibayarkan sebesar Rp 4.000 per hari, bergantung pada luas kios. ’’Kalau saya Rp 4.000 per hari, tergantung luas kiosnya,’’ katanya. (fid/naz)
Editor : Anggi Fridianto