Tafakkur wa Tadabbur, Ayat Tersurat dan Tersirat

Dwi Aris Supriyanto • Dipublikasikan Jumat, 21 Agustus 2026 | 09:11 WIB
 KH Agus Mu’tashim Billah
KH Agus Mu’tashim Billah

 

Oleh: KH Agus Mu’tashim Billah

Marilah kita meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT dengan senantiasa melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Caranya dengan tafakkur, yaitu berpikir ke mana dan di mana sebenarnya tujuan hidup. Serta tadabbur, yaitu mengingat sesuatu yang telah terjadi agar hidup lebih berhati-hati dan bermakna.

Sering kali kita diajak menuju jalan keselamatan, namun kita enggan untuk bergegas. Kita kerap diperbudak oleh hawa nafsu, dituntun oleh kesenangan, serta lebih mementingkan dunia yang hina dan tidak kekal daripada beribadah kepada Zat Yang Maha Agung dan Kekal.

Tidakkah kita ingat bahwa segala sesuatu yang berada di sisi Allah Ta’ala itu lebih baik daripada kesenangan duniawi? Apakah kita tidak pula menyadari bahwa perjalanan kita ke alam akhirat semakin dekat karena kematian yang telah dijanjikan kepada kita pasti akan terjadi?

Baca Juga: 53 Masjid di Jombang Disiapkan Jadi Tempat Singgah Muktamirin Muktamar NU ke-35, Ini Daftar Lengkapnya

Perlu diketahui bahwa datangnya kematian akan menyalakan api kesedihan. Kita akan menangisi kecerobohan yang telah kita lakukan sehingga mata kita menjadi luka. Di saat itulah, kita akan memohon agar kita dikembalikan untuk beramal saleh. Namun, hal itu tidak akan mungkin terjadi. Sebagaimana telah berulang-ulang datang kepada kita, namun kebanyakan dari kita tidak menyadarinya.

Alquran telah mengajak kita ke jalan lurus, namun kita tidak pula sadar dan masih enggan mengamalkan ajaran-ajarannya dengan sepenuh hati. Barangkali, hati kita telah mengeras sehingga nasihat silih berganti datang, namun hati kita tidak dapat merasakan dan tidak mau mengikutinya. Semua itu tidak lain karena perbuatan dosa yang kita lakukan dan kecintaan kepada dunia yang menyelimuti hati sehingga hati kita menjadi keras dan membeku.

Perlu kita sadari bahwa kita semua akan memasuki Yaumul Ardh, yaitu hari ketika setiap amal dilaporkan kepada Allah SWT. Setiap manusia akan dibalas selaras dengan apa yang telah diperbuatnya. Dan kita akan melihat orang-orang yang ceroboh selama hidup di dunia berada dalam kerugian yang sangat besar.

Oleh karena itu, marilah kita senantiasa melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya sehingga kita tidak termasuk orang-orang yang merugi kelak di hari kiamat. (*)

* Pengasuh Pondok Pesantren Bustanul Ulum Gebangmalang, Desa Bandung, Kecamatan Diwek.

Editor : Anggi Fridianto
Tafakkur Tadabbur KH Agus Mu’tashim Billah Renungan Islam kajian islam Jombang