JOMBANG – Pemdes Tambakrejo, Kecamatan Jombang, mengambil langkah khusus untuk mengurangi debu di kawasan lahan parkir Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) yang baru selesai diuruk.
Setiap hari, area tersebut disiram menggunakan alat sprinkler guna mengantisipasi keluhan warga sekitar.
’’Inisiatif penyiraman muncul dari pemerintah desa setelah menerima keluhan masyarakat terkait debu yang muncul akibat aktivitas pengurukan lahan,’’ kata Kepala Desa Tambakrejo, Moh Nasir Fadlillah, kemarin.
Pada tahap awal pengurukan, debu yang beterbangan cukup mengganggu warga yang tinggal di sekitar lokasi. Karena itu, Pemdes berinisiatif mengambil langkah cepat dengan melakukan pembasahan area secara rutin.
’’Pengurukan awal kan pasti muncul debu. Kami melihat mungkin panitia lokal sedang fokus dengan banyak pekerjaan lain, akhirnya Pemdes menginisiasi penyiraman itu,’’ ucapnya.
Baca Juga: Panitia Muktamar NU Pastikan Peserta Tanpa BPJS Tetap Dilayani, Begini Skemanya
Nasir menegaskan, pembiayaan kegiatan tetap ditanggung panitia lokal (Panlok) Muktamar NU. Sementara Pemdes bertugas sebagai pelaksana sekaligus mengawal agar dampak debu dapat diminimalkan.
’’Biaya tetap dicover Panlok. Pemdes sebagai pelaksana dan memastikan area parkir yang diuruk itu tidak lagi menimbulkan debu,’’ ungkapnya.
Penyiraman difokuskan pada lahan parkir yang berada dekat permukiman warga. Kegiatan dilakukan setiap hari mulai pukul 13.00 hingga sekitar pukul 16.00-17.00.
’’Kalau siang mulai berdebu langsung kita eksekusi penyiraman agar bertahan hingga malam,’’ jelasnya.
Berbeda dengan metode penyiraman menggunakan truk tangki, Pemdes memilih menggunakan sprinkler milik Badan Usaha Milik Desa (BUMDes).
Baca Juga: Prabowo Dijadwalkan Buka Muktamar ke-35 NU di Jombang, Gus Ipul Sampaikan Hal Ini ke Warga
Alat tersebut dinilai lebih efektif karena mampu membasahi lahan secara perlahan tanpa merusak struktur tanah hasil urukan.
’’Kalau digebyur pakai tangki, tanah urukan yang masih baru justru bisa menggumpal dan rusak. Kalau pakai sprinkler, air masuk pelan-pelan sehingga tidak merusak struktur tanah,” terangnya.
Sumber air untuk penyiraman berasal dari sumur bor yang berada di sekitar lokasi. Sebelumnya, panitia sempat menggunakan bantuan tangki air dari Dinas PUPR. Namun metode tersebut dinilai kurang efektif untuk mengendalikan debu pada area yang cukup luas. (ang/jif)
Editor : Anggi Fridianto