JOMBANG – SMAN 1 Jombang mulai memperkuat pembelajaran berbasis teknologi dengan meluncurkan program coding robotika bagi seluruh siswa kelas 10.
Program tersebut resmi diluncurkan pada Senin, 27 Juli 2026, bersamaan dengan penerimaan bantuan dari alumni. Selain itu SMAN 1 Jombang juga memperkuat jejaring dengan dunia pendidikan internasional.
Kepala SMAN 1 Jombang, Dyah Ayu Endrianingsih, mengatakan program coding robotika tersebut merupakan upaya sekolah menjawab tantangan perkembangan teknologi yang semakin pesat.
”Ini dalam rangka untuk menjawab tantangan saat ini yang tidak bisa kita abaikan dan tidak bisa kita hindari, yaitu perkembangan teknologi. Anak-anak diajak untuk mampu memiliki skill dan melahirkan produk-produk yang adaptif dengan kebutuhan yang serba digital,” ujar Dyah.
Pembelajaran robotika tidak sebatas membuat robot berbentuk manusia. Lebih dari itu, siswa akan dikenalkan dengan pemrograman dan penerapan teknologi otomatisasi yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Berbeda dengan kegiatan ekstrakurikuler, program tersebut menjadi bagian dari pembelajaran intrakurikuler.
Materi coding robotika akan diintegrasikan ke dalam mata pelajaran TIK kelas X, sehingga seluruh siswa kelas X mendapatkan pembelajaran tersebut. Sekolah menambah satu jam pembelajaran untuk mendukung program tersebut.
”Ini intrakurikuler. Semua murid kelas X mendapatkan materi tersebut, diinsersikan dengan mata pelajaran TIK. Bahkan ada tambahan satu jam untuk kelas X,” katanya.
Baca Juga: Go International! SMAN 1 Jombang Terima Kunjungan Organisasi Dunia dari Colorado dan Jepang
Program tersebut merupakan bentuk dukungan alumni SMAN 1 Jombang. Bantuan diberikan oleh Muhammad Marzuki, alumni angkatan pertama SMAN 1 Jombang yang lulus pada 1983 dan kini berdomisili di Jakarta.
Dukungan yang diberikan bukan berupa perangkat semata, melainkan program pembelajaran sekaligus pendampingan dari vendor Ugenius.
Sebelum diterapkan kepada siswa, sejumlah guru SMAN 1 Jombang telah mendapatkan pelatihan selama tiga hari.
Selanjutnya, guru akan menjadi pengajar utama bagi siswa. Sementara pihak vendor melakukan pendampingan dan pemantauan agar pembelajaran berjalan sesuai silabus yang telah disepakati.
Dyah menyebut dukungan tersebut merupakan bentuk bakti alumni kepada almamater sekaligus jawaban atas kebutuhan sekolah dalam menghadapi perkembangan teknologi.
Melalui program tersebut, sekolah tidak hanya menargetkan siswa memahami coding secara teori. Lebih jauh, siswa diharapkan mampu menghasilkan produk teknologi yang aplikatif dan dapat memberikan kemudahan dalam kehidupan sehari-hari.
”Golnya adalah bisa melahirkan produk yang bisa mempermudah ketika kita membutuhkan sesuatu, sehingga tidak membutuhkan waktu lama dan ribet untuk mengoperasikan teknologi tertentu,” harapnya. (wen)
Editor : Anggi Fridianto