Embung Grojokan Jombang Bocor, BBWS Brantas Turun Tangan Lacak Sumber Kebocoran

Ainul Hafidz • Dipublikasikan Jumat, 31 Juli 2026 | 08:12 WIB
TERBATAS: Debit air Embung Grojokan di Desa Plabuhan, Kecamatan Plandaan terus menyusut di musim kemarau.
TERBATAS: Debit air Embung Grojokan di Desa Plabuhan, Kecamatan Plandaan terus menyusut di musim kemarau.

 

JOMBANG – Keluhan petani soal kebocoran Embung Grojokan di Desa Plabuhan, Kecamatan Plandaan, mulai ditindaklanjuti. Tahun ini, Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Brantas memasukkan embung tersebut dalam studi lanjutan untuk menelusuri sumber kebocoran sekaligus mengkaji peningkatan kapasitas tampung.

Kepala Bidang SDA Dinas PUPR Jombang Sultoni mengatakan, tim BBWS Brantas telah melakukan survei dan pengukuran ulang di lokasi. ”Ada rencana ditingkatkan kapasitasnya. Tapi detailnya kami belum tahu,” ujarnya.

Pemkab Jombang berharap kajian itu tidak hanya berujung pada peningkatan kapasitas embung, tetapi juga mampu mengungkap titik kebocoran yang selama ini membuat cadangan air cepat menyusut saat musim kemarau. ”Harapan kami survei ini sekaligus melacak titik kebocoran agar air tidak terbuang dan bisa dimanfaatkan saat kemarau,” katanya.

Embung Grojokan selama ini menjadi pengendali banjir sekaligus sumber irigasi bagi sekitar 40 hektare lahan pertanian di Desa Plabuhan. Saat debit air berlebih, alirannya juga membantu mengairi lahan di Desa Kampungbaru, meski tidak berlangsung secara berkelanjutan.

Baca Juga: Embung Grojokan Jebol Bocor, Air Irigasi Petani Jombang Habis Saat Musim Kemarau

Kepala Desa Plabuhan Andi membenarkan adanya survei dari BBWS Brantas. Berdasarkan informasi yang diterimanya, embung akan dikeruk dan dibangun tanggul di sisi kanan dan kiri. ”Selain untuk irigasi dan pertanian, juga diarahkan ke pariwisata,” ujarnya.

Selama musim hujan, air di Embung Grojokan kerap melimpas. Sebaliknya, saat kemarau, cadangan air hanya mampu memenuhi kebutuhan irigasi di Desa Plabuhan dengan kapasitas terbatas.

Seperti diberitakan sebelumnya, kebocoran membuat Embung Grojokan tak lagi mampu menyuplai kebutuhan air irigasi secara optimal ketika kemarau. Cadangan air terus menyusut, sementara rencana perbaikan dari BBWS Brantas belum terealisasi.

Sultoni mengakui hingga kini masih terdapat titik kebocoran yang belum berhasil diidentifikasi. ”Kalau bocor memang ada. Dinding di pelimpah sudah pernah diperbaiki sekitar dua tahun lalu. Tapi masih ada kebocoran lain yang sulit diidentifikasi sumbernya,” ujarnya.

Menurut dia, sebelumnya ditemukan dua titik bocor pada bangunan pelimpah. Selain itu, rembesan juga muncul di bagian bawah embung. ”Sulit mendeteksi sumbernya karena hulunya bukan dari dinding, melainkan dari tanah,” imbuhnya.

Akibat kebocoran tersebut, air terbuang saat debit melimpah, tetapi justru tidak tersedia ketika dibutuhkan petani pada musim kemarau. ”Harapan kami dan petani ada penanganan, selain peningkatan kapasitas juga penutupan kebocoran. Sayang kalau air terbuang saat tidak dibutuhkan, tetapi habis ketika dibutuhkan,” tegasnya. (fid/naz)

 

Editor : Anggi Fridianto
Irigasi Jombang Plandaan Jombang Embung Grojokan Jombang BBWS Brantas Jombang