Ini Jejak Sejarah Logo Muktamar NU, dari Semarang hingga Tambakberas Jombang 2026

Anggi Fridianto • Dipublikasikan Jumat, 31 Juli 2026 | 08:01 WIB
JADI IKON MUKTAMAR: Menara Masjid PP Bahrul Ulum Tambakberas menjadi ikon Muktamar ke-35 NU.
JADI IKON MUKTAMAR: Menara Masjid PP Bahrul Ulum Tambakberas menjadi ikon Muktamar ke-35 NU.

 

JOMBANG – Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) telah digelar sejak 22–24 September 1926 di Surabaya. Tradisi menghadirkan logo khusus untuk setiap penyelenggaraan muktamar ternyata tidak langsung dimulai sejak muktamar pertama.

Penelusur sejarah NU Jombang, Moch Faisol, menjelaskan, logo pertama muktamar baru muncul pada Muktamar ke-26 di Semarang 1979. Sebelumnya, muktamar hanya menggunakan lambang resmi NU sebagai identitas kegiatan.

’’Logo muktamar pertama dibuat pada Muktamar Semarang 1979. Setelah itu sempat tidak dibuat lagi di beberapa muktamar berikutnya,’’ katanya.

Penggunaan logo khusus kemudian kembali ditradisikan secara konsisten sejak Muktamar ke-30 di Lirboyo, Kediri 1999. Pada logo muktamar di Lirboyo, menggunakan angka latin 3 dan kombinasi bola dunia yang dikelilingi 9 bintang.

Sejak saat itu, setiap muktamar selalu memiliki logo yang dirancang khusus dengan mengangkat karakter daerah penyelenggara.

’’Mulai Muktamar Lirboyo, pembuatan logo kemudian menjadi tradisi hingga sekarang,’’ terangnya.

Bagi Faisol, logo Muktamar NU bukan sekadar penanda sebuah perhelatan organisasi. Desain yang diusung selalu menjadi rekam jejak perjalanan NU sekaligus merepresentasikan identitas budaya daerah yang menjadi tuan rumah.

Baca Juga: Muktamar NU Jombang Bakal Dihadiri Alumni Sudan dan Mesir, Ratusan Tamu Luar Negeri Sudah Konfirmasi

’’Logo muktamar itu tidak hanya menjadi identitas acara, tetapi juga merekam semangat zaman dan memperkenalkan ikon lokal dari daerah yang menjadi tuan rumah,’’ jelasnya.

Salah satu logo yang paling mudah dikenali, Muktamar ke-26 di Semarang 1979. Menampilkan ilustrasi bangunan masjid Agung Semarang dengan kubah dan menara yang menjadi fokus utama. Sementara lambang NU ditempatkan di bagian atas sebagai identitas organisasi.

Memasuki era modern, pendekatan visual mengalami perubahan. Pada Muktamar ke-32 di Makassar 2010, logo didominasi ilustrasi bola dunia berwarna hijau yang dipadukan dengan siluet Pulau Sulawesi serta gugusan bintang. Desain itu menggambarkan semangat NU yang mendunia namun tetap berpijak pada Indonesia.

Perubahan konsep semakin terasa saat Muktamar ke-33 di Jombang 2015. Logo tidak lagi menggunakan ilustrasi bangunan maupun bola dunia secara utuh, melainkan mengusung bentuk angka Arab ٣٣ yang dimaknai sebagai tangan yang sedang menengadah dalam doa.

Ikon lokal Jombang turut dihadirkan melalui motif batik khas daerah. Logo tersebut merupakan karya Zamzami Almakki, dosen Desain Komunikasi Visual Universitas Multimedia Nusantara (UMN).

Konsep serupa diteruskan pada Muktamar ke-34 di Lampung 2021. Angka Arab ٣٤ dipadukan dengan Siger Lampung, mahkota adat yang menjadi simbol kebanggaan masyarakat Lampung. Filosofinya menggambarkan NU sebagai pilar pemersatu bangsa.

Sementara itu, Muktamar ke-35 di Tambakberas, Jombang 2026 menghadirkan wajah baru. Logo karya M Shofa Ulum Azmi, alumnus Pondok Pesantren Langitan, menggunakan angka Arab Barat 35 dengan tipografi Sora yang dipadukan dengan ilustrasi Menara Masjid Tambakberas sebagai ikon utama.

Bentuk lingkaran yang saling terhubung dalam desain tersebut melambangkan kesinambungan, persatuan, dan harmoni. Sekaligus mencerminkan semangat kebersamaan warga Nahdliyin.

Menurut Faisol, perubahan desain logo menunjukkan bagaimana NU mampu mengikuti perkembangan zaman tanpa meninggalkan akar tradisi.

’’Dulu pendekatannya lebih ilustratif, kemudian berkembang menjadi lebih sederhana dan modern. Tetapi satu hal yang tetap dipertahankan adalah identitas lokal tuan rumah. Itu yang membuat setiap logo muktamar memiliki cerita tersendiri,’’ tuturnya.

Baginya, setiap logo bukan hanya karya desain grafis, melainkan juga dokumen visual yang merekam perjalanan organisasi Islam terbesar di Indonesia.’’Melalui simbol-simbol yang dihadirkan, masyarakat dapat melihat bagaimana NU terus beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan identitas dan nilai-nilai kebudayaannya,’’ ungkapnya. (ang/jif)

 

 

Editor : Anggi Fridianto
Tambakberas Jombang Muktamar NU Jombang logo Muktamar NU sejarah NU Jombang Jombang