JOMBANG – Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, diharapkan menghasilkan arah kebijakan yang semakin memperkuat pelayanan organisasi kepada masyarakat.
Ini disampaikan Pengasuh Pondok Pesantren Darul Ulum Jombang, Dr dr KH M Zulfikar As'ad (Gus Ufik).
’’Kepemimpinan NU mendatang harus mampu mengayomi semua golongan. Juga memahami kebutuhan umat. Kebutuhan umat yang paling mendasar saat ini pendidikan dan kesehatan,’’ katanya, kemarin.
PBNU harus menjadi pengayom bagi seluruh elemen nahdliyin. Serta menghadirkan program yang menyentuh kebutuhan dasar masyarakat.
Gus Ufik menilai, sektor pendidikan menjadi salah satu pekerjaan besar yang harus terus diperkuat. Namun, pendidikan tidak boleh dipahami sebatas aktivitas belajar di sekolah atau perguruan tinggi.
Baca Juga: Kajian Ramadan di Unipdu Jombang, Gus Ufik: Mindful Living dalam Islam
Menurutnya, NU harus menghapus cara pandang yang memisahkan pendidikan agama dan pendidikan umum. Karena keduanya memiliki peran yang sama penting dalam membentuk kualitas sumber daya manusia.
’’Pendidikan tidak boleh lagi dipahami secara sempit. Kita tidak boleh mendikotomikan antara pendidikan agama dan pendidikan umum. Keduanya harus berjalan beriringan dan sama-sama mendapatkan perhatian serius,’’ tegasnya.
Pesantren sebagai pilar utama Nahdlatul Ulama memiliki peran strategis yang harus terus diperkuat. Bersama madrasah, sekolah, dan perguruan tinggi, seluruh lembaga pendidikan di bawah naungan NU harus berkembang secara seimbang.
’’Pesantren merupakan fondasi utama NU. Bahkan pesantren sudah ada sebelum NU berdiri dan sebelum negara ini lahir. Karena itu, pesantren, madrasah, sekolah, dan perguruan tinggi harus menjadi prioritas untuk berkembang dan maju bersama,’’ terangnya.
Layanan kesehatan juga perlu ditingkatkan. Pelayanan kesehatan merupakan bentuk pengabdian NU yang langsung dirasakan masyarakat.
’’Bidang kesehatan tidak boleh terabaikan. Khidmah kesehatan merupakan wahana dakwah yang sangat strategis karena semua orang membutuhkannya,’’ ujarnya.
Ketua Lembaga Kesehatan PBNU itu mengatakan, NU memiliki potensi besar untuk mengembangkan layanan kesehatan karena didukung sumber daya manusia yang melimpah di berbagai profesi.
Baca Juga: Mengemban Jabatan Rektor, Ini Komitmen Gus Ufik untuk Unipdu Jombang
”Kita memiliki banyak SDM kesehatan yang luar biasa. Ada dokter, dokter spesialis, perawat, bidan, apoteker, hingga pakar manajemen rumah sakit yang berasal dari kalangan Nahdliyin. Bahkan sekarang sudah ada NUMSA (Nahdlatul Ulama Medical Student Association), perhimpunan dokter NU, perhimpunan perawat NU, dan berbagai organisasi profesi lainnya,” jelasnya.
Dia menuturkan, berbagai potensi tersebut telah dihimpun melalui Asosiasi Rumah Sakit Nahdlatul Ulama (ARSINU) yang berdiri sejak 2016. Organisasi itu menjadi wadah rumah sakit milik jam'iyah, jamaah NU, maupun Muslimat NU di berbagai daerah dan telah diakui Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (PERSI).
”Alhamdulillah, kami sudah melakukan koordinasi dengan berbagai perhimpunan profesi kesehatan NU. Selain itu, kami juga memiliki ARSINU sebagai wadah rumah sakit-rumah sakit NU dan Muslimat yang tersebar di berbagai daerah,” katanya.
Menurut Gus Ufik, sinergi tersebut telah terbukti dalam sejumlah agenda besar NU. Salah satunya saat peringatan Satu Abad Nahdlatul Ulama di Stadion Gelora Delta Sidoarjo pada 2023.
”Pada peringatan Satu Abad NU di Sidoarjo tahun 2023, seluruh fasilitas kesehatan yang tergabung dalam ARSINU terlibat langsung dalam pelayanan kesehatan. Alhamdulillah kegiatan berjalan aman dan sukses,” ungkapnya.
Menjelang Muktamar ke-35 NU di Jombang, Gus Ufik berharap forum tertinggi organisasi itu mampu menghasilkan keputusan yang semakin memperkuat peran NU dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat.
’’Kami berharap ke depan NU semakin meningkatkan dan memprioritaskan khidmah di bidang pendidikan dan kesehatan. Dengan begitu, kehadiran NU benar-benar bisa dirasakan manfaatnya oleh umat dan masyarakat Indonesia secara luas,’’ tuturnya. (ang/jif)
Editor : Anggi Fridianto