JOMBANG – Bersamaan musim kemarau, Embung Grojokan di Desa Plabuhan, Kecamatan Plandaan, tak lagi mampu mengalirkan air irigasi secara gravitasi ke lahan pertanian.
Penyebabnya, cadangan air di embung terus menyusut disebabkan masalah kebocoran yang hingga kini belum teratasi. Rencana perbaikan dari Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Brantas hingga kini tak kunjung terealisasi.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Jombang Imam Bustomi melalui Kepala Bidang Sumber Daya Air (SDA) Sultoni mengakui masih terdapat sejumlah titik kebocoran di embung tersebut.
Namun, sumber rembesan sulit ditemukan karena diduga berasal dari lapisan tanah, bukan hanya dari konstruksi dinding embung.
”Kalau bocor memang ada. Dinding di pelimpah sudah pernah diperbaiki sekitar dua tahun lalu. Tapi masih ada kebocoran lain yang sulit diidentifikasi sumbernya,” katanya.
Sebelumnya ditemukan dua titik kebocoran pada bangunan pelimpah atau pengatur muka air. Sementara rembesan lainnya berada di bagian bawah embung.
Hingga kini penanganannya belum tuntas karena proses pelacakan sumber kebocoran cukup rumit. ”Dulu ada dua titik di pelimpah. Yang lain di bawah. Sulit mendeteksi sumbernya karena hulunya bukan dari dinding, melainkan dari tanah,” imbuhnya.
Akibat kebocoran tersebut, sebagian cadangan air terbuang saat belum dibutuhkan. Sebaliknya, ketika musim kemarau tiba, volume tampungan cepat menyusut sehingga pasokan air tidak lagi mencukupi kebutuhan petani. ”Harapan kami ada penanganan, selain peningkatan kapasitas juga penutupan kebocoran. Sayang kalau air terbuang saat tidak dibutuhkan, tetapi habis ketika dibutuhkan seperti kemarau sekarang ini,” ujarnya.
Pemkab Jombang belum dapat memastikan kapan perbaikan menyeluruh dilakukan. Sebab, penanganan oleh Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Brantas hingga kini masih sebatas rencana.
Baca Juga: Sudah Bebas Lahan Sejak 2023, Proyek Embung Purisemanding di Plandaan Jombang Masih Mangkrak
Sultoni menambahkan, embung-embung di wilayah utara Sungai Brantas memang sangat bergantung pada curah hujan. Jika hujan tidak berlangsung sepanjang tahun seperti pada 2025 lalu, tampungan air umumnya tidak mampu bertahan hingga setahun karena terus dimanfaatkan untuk irigasi.
Seperti diketahui, debit air Embung Grojokan terus menyusut sejak memasuki musim kemarau. Salah satunya dikarenakan permasalahan kebocoran. Permukaan air turun cukup jauh hingga tidak lagi mencapai bangunan pelimpah. Sejumlah area yang sebelumnya tergenang kini telah mengering.
Data yang dihimpun, jumlah embung di Kabupaten Jombang mencapai sekitar 18 titik. Embung tersebut tersebar di 14 desa dari empat kecamatan. Seluruh kewenangan pengelolaan embung berada di Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Brantas. Dari belasan embung itu, wilayah utara Sungai Brantas memiliki jumlah paling banyak, yakni 16 titik. Sementara di selatan sungai hanya terdapat dua embung. (fid/naz)
Editor : Anggi Fridianto