Proyek Bendung Jatimlerek Rp 268 Miliar Belum Masuk Konstruksi, Ini Penyebabnya

Ainul Hafidz • Dipublikasikan Selasa, 28 Juli 2026 | 07:42 WIB
BELUM RAMPUNG: Warga melihat pekerjaan saluran pengelak proyek rehab Bendung Jatimlerek di sisi selatan atau Desa Sudimoro, Kecamatan Megaluh.
BELUM RAMPUNG: Warga melihat pekerjaan saluran pengelak proyek rehab Bendung Jatimlerek di sisi selatan atau Desa Sudimoro, Kecamatan Megaluh.

 

JOMBANG – Proyek rehabilitasi Bendung Jatimlerek di Kecamatan Plandaan belum memasuki tahap konstruksi utama. Hingga akhir Juli, pekerjaan masih difokuskan pada pembangunan saluran pengelak yang menjadi syarat sebelum bendung lama dibongkar.

Kepala Dinas PUPR Jombang Imam Bustomi melalui Kepala Bidang Sumber Daya Air (SDA) Sultoni mengatakan, pemerintah daerah belum menerima perkembangan terbaru dari Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Brantas sebagai pelaksana proyek.

 Pemkab saat ini lebih fokus memastikan suplai air irigasi ke lahan pertanian tetap normal selama pekerjaan berlangsung.

 ”Belum ada kabar lagi dari teman-teman BBWS Brantas. Kami di daerah fokus pada kondisi air yang masuk ke saluran supaya tidak mengganggu pelayanan petani. Untuk progres proyek belum sampai sejauh itu,” katanya.

Berdasarkan informasi terakhir yang diterima saat sosialisasi proyek, pembangunan saluran pengelak di sisi selatan atau Desa Sudimoro, Kecamatan Megaluh diperkirakan memakan waktu hampir satu tahun. Selama pekerjaan tersebut belum selesai, rehabilitasi bendung belum bisa dimulai.

 ”Informasi terakhir yang kami terima, pekerjaan saluran pengelak itu hampir satu tahun. Pekerjaan utama diperkirakan masih tahun depan. Itu yang disampaikan saat sosialisasi pertama,” imbuhnya.

Baca Juga: Kabar Baik! Penanganan Darurat Dam Karet Jatimlerek Jombang Rampung, Air Irigasi Kembali Mengalir

Pihaknya juga menerima informasi adanya pergeseran alokasi anggaran dari pemerintah pusat. Alokasi tahun ini dikabarkan lebih kecil dan sebagian digeser ke tahun depan. Meski begitu, pihaknya belum dapat memastikan apakah perubahan tersebut akan memengaruhi target penyelesaian proyek.

 ”Waktu sosialisasi juga disampaikan ada pergeseran anggaran. Tahun ini informasinya kecil, digeser ke tahun depan. Kami belum tahu apakah berdampak terhadap progres atau tidak. Rencananya pekerjaan dipacu, ternyata ada pergeseran anggaran,” ujarnya.

Saluran pengelak berfungsi mengalihkan aliran Sungai Brantas selama rehabilitasi berlangsung. Setelah saluran itu selesai, aliran sungai akan dibelokkan melalui pembangunan kisdam atau cofferdam di hulu bendung.

Air yang tertahan kisdam kemudian dialirkan ke saluran pengelak sehingga area bendung lama menjadi kering. Kondisi tersebut memungkinkan pembongkaran bendung lama sekaligus pelaksanaan konstruksi bendung baru tanpa mengganggu aliran Sungai Brantas.

 ”Kalau saluran pengelak sudah selesai, air Sungai Brantas dibelokkan ke situ. Di hulu bendung dibuat kisdam sehingga aliran tertahan dan masuk ke saluran pengelak. Setelah itu bendung lama akan dibongkar, baru pekerjaan konstruksi utama dilakukan,” jelasnya.

jBaca Juga: Bank Jatim Gandeng PN Jombang, Gelar Sosialisasi Upaya Tingkatkan Kompetensi Hukum Pegawai

Seperti diberitakan sebelumnya, proyek rehabilitasi Bendung Jatimlerek merupakan kontrak tahun jamak (multiyears contract/MYC) senilai Rp 268 miliar yang didanai APBN. Akibat efisiensi anggaran pemerintah pusat, alokasi 2026 dipangkas dari semula Rp 120 miliar menjadi Rp 50 miliar, sedangkan anggaran 2027 naik menjadi Rp 210 miliar.

Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Irigasi dan Rawa BBWS Brantas Agung Purnayudha sebelumnya menyebut pihaknya masih menghitung dampak pergeseran anggaran terhadap pembangunan kisdam yang semula ditargetkan rampung pada September–Oktober tahun ini.

BBWS Brantas juga tengah menyusun strategi agar tahapan tersebut tetap berjalan sehingga target penyelesaian proyek pada 4 Desember 2027 tidak bergeser. (fid/naz)

Editor : Anggi Fridianto
bendung jatimlerek Irigasi Jombang Proyek Jatimlerek BBWS Brantas PUPR Jombang