JOMBANG – Dinas Pertanian (Disperta) Jombang mulai mengantisipasi dampak musim kemarau terhadap sektor pertanian. Selain memetakan wilayah yang berpotensi mengalami kekeringan, dinas juga mengidentifikasi sumber air alternatif yang masih bisa dimanfaatkan petani.
Kepala Disperta Jombang M. Rony mengatakan, langkah antisipasi telah dilakukan sejak beberapa bulan lalu menyusul prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) terkait potensi musim kemarau yang lebih panjang tahun ini.
”Kami sudah melakukan pemetaan daerah yang berpotensi mengalami kekeringan. Sekaligus kami membuat surat untuk mengingatkan potensi tersebut agar petani lebih waspada,” katanya.
Selain memetakan wilayah rawan, Disperta mengidentifikasi sumber air alternatif, seperti sungai yang masih memiliki debit air maupun pompa air yang dapat dimanfaatkan petani.
”Petani juga kita dorong menyesuaikan pola tanam dengan memilih komoditas yang tidak membutuhkan air dalam jumlah besar,” bebernya.
Untuk mendukung kebutuhan air saat kemarau, Disperta menyiapkan bantuan melalui Brigade Alat dan Mesin Pertanian (Alsintan). Petani yang membutuhkan pompa air dapat meminjam peralatan tersebut secara gratis. ”Kami punya Brigade Alsintan yang bisa membantu meminjamkan pompa air. Silakan diambil di kantor, setelah selesai digunakan dikembalikan lagi,” tuturnya.
Berdasarkan hasil pemetaan, wilayah yang diperkirakan paling terdampak berada di sepanjang aliran irigasi Mrican Kanan. Kondisi itu dipengaruhi adanya proyek di saluran irigasi tersebut. ”Untuk sementara, daerah di sepanjang aliran Mrican Kanan. Karena akan ada kegiatan di saluran irigasinya,” ujarnya.
Baca Juga: BPBD Jombang Siaga Hadapi Puncak Kekeringan, Belum Ada Desa Ajukan Bantuan Air Bersih
Menghadapi kondisi tersebut, Disperta telah berkoordinasi dengan dinas terkait. ”Teman-teman Dinas PUPR sudah koordinasi dengan kelompok tani (Poktan), maupun gabungan kelompok tani (Gapoktan) untuk menyusun langkah antisipasi,” tuturnya.
Rony menjelaskan, kondisi musim kemarau tahun ini berbeda dibandingkan 2025. Saat itu terjadi kemarau basah sehingga musim tanam atau musim kemarau kedua masih banyak dimanfaatkan petani untuk menanam padi.
Sementara tahun ini, prediksi kemarau yang lebih panjang membuat petani diminta lebih cermat menentukan komoditas. ”Tahun lalu masih kemarau basah sehingga MK kedua masih banyak yang tanam padi. Tahun ini diprediksi kemarau panjang, sehingga kami menyarankan petani lebih waspada,” ujarnya.
Sebagai bentuk kesiapsiagaan, Disperta juga telah dua kali menerbitkan surat edaran kewaspadaan iklim kepada para pemangku kepentingan pertanian. Surat pertama diterbitkan pada Maret, kemudian disusul surat kewaspadaan kedua menjelang puncak musim kemarau. (fid/naz)
Editor : Anggi Fridianto