JOMBANG – Menjamurnya usaha warung angkringan di Dusun Parimono, Desa Plandi, Kecamatan Jombang menuai sorotan warga. Bukan soal menu, melainkan pakaian sebagian penjual yang dinilai terlalu terbuka sehingga dianggap tidak sesuai dengan citra Jombang sebagai kota santri.
Suroso, warga sekitar, menyebut lokasi angkringan berada di Jalan KH Hasyim Asy’ari, jalur provinsi sekaligus pintu masuk menuju Jombang kota.
”Jombang dikenal sebagai kota santri. Kalau di pintu masuk justru ada pedagang yang berpakaian seksi, tentu kurang baik dan bisa merusak citra daerah,” ujarnya.
Ia menegaskan tidak mempermasalahkan aktivitas berdagang, namun berharap pedagang tetap menjaga norma. ”Silakan berjualan, kami tidak melarang. Tetapi alangkah baiknya menggunakan pakaian yang sopan sehingga tetap menghormati budaya dan karakter Jombang,” tambahnya.
Keluhan warga ini ditanggapi Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disdagrin) Jombang Anjik Eko Saputro. Menurutnya, pembinaan pedagang terkait cara berpakaian bukan ranah Disdagrin.
”Kalau terkait keluhan masyarakat mengenai PKL angkringan di Parimono yang menggunakan pakaian seperti itu, ranah pembinaan sosialnya menjadi kewenangan Dinas Koperasi dan Usaha Mikro,” jelasnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Koperasi dan Usaha Mikro (Dinkop UM) Jombang Hari Purnomo belum memberikan respons. Dikonfirmasi melalui telepon seluler, nada sambung terdengar namun tidak diangkat. Pesan singkat yang dikirimkan hingga berita ini ditulis juga belum mendapat balasan. (yan/naz)
Editor : Anggi Fridianto