JOMBANG – Musim kemarau yang panas dan berdebu membuat kasus pneumonia melonjak tajam di Kabupaten Jombang. RSUD Jombang mencatat hingga akhir Juli 2026 sudah merawat 617 pasien dengan berbagai tingkat keparahan. Dari jumlah itu, 52 pasien meninggal dunia atau sekitar 9,2 persen.
Direktur RSUD Jombang dr Pudji Umbaran mengungkapkan, hampir setiap hari rumah sakit menerima dua hingga tiga pasien baru dengan diagnosis pneumonia. Jika diakumulasikan, jumlah pasien yang dirawat mencapai sekitar 75 hingga 80 orang setiap bulan.
”Hingga akhir Juli ini kami sudah merawat sekitar 617 pasien pneumonia dengan berbagai tingkat keparahan,” ujarnya, Selasa (21/7).
Menurut dia, sebagian besar pasien datang dalam kondisi sudah cukup berat. Gejala yang dialami antara lain demam tinggi, batuk hebat hingga sesak napas. Kondisi tersebut kerap diperparah penyakit penyerta seperti diabetes melitus, gangguan jantung maupun asma.
”Rata-rata pasien datang sudah dalam kondisi cukup gawat karena sebelumnya ISPA tidak tertangani dengan baik, kemudian muncul penyakit penyerta yang memperberat kondisi pasien,” jelasnya.
Baca Juga: RSUD Jombang Perkuat Zona Integritas, Seluruh Pegawai Diminta Wujudkan Pelayanan Transparan
Tingginya tingkat keparahan pasien turut berpengaruh terhadap angka kematian. Dari total 617 pasien yang dirawat sejak Januari hingga Juli, sebanyak 52 pasien meninggal dunia atau sekitar 9,2 persen.
”Kami sangat berharap masyarakat segera memeriksakan diri ketika mengalami gejala ISPA. Jangan menunggu sampai kondisinya berat,” tegasnya.
Pudji menambahkan, tren pasien pneumonia saat ini justru didominasi kelompok usia dewasa. Bahkan pada Selasa (21/7), seluruh pasien pneumonia yang menjalani perawatan di RSUD Jombang merupakan orang dewasa.
”Hari ini ada 27 pasien pneumonia yang kami rawat dan semuanya dewasa. Pasien anak tidak ada,” katanya.
Ia menduga peningkatan kasus dipicu kondisi musim kemarau yang panas dan berdebu. Angin kencang membawa debu yang bercampur berbagai mikroorganisme sehingga mudah terhirup masyarakat. Ketika daya tahan tubuh menurun, kuman lebih mudah berkembang dan menyebabkan infeksi paru.
Karena itu, masyarakat diimbau menjaga kebugaran tubuh dengan mengonsumsi makanan bergizi, mencukupi waktu istirahat serta memakai masker saat beraktivitas di luar rumah. ”Kalau mulai muncul gejala seperti meriang, batuk atau pilek, segera berobat ke fasilitas kesehatan terdekat, baik puskesmas, dokter praktik maupun klinik. Penanganan sejak dini akan mencegah kondisi berkembang menjadi pneumonia berat,” pungkasnya.(yan/naz)
Editor : Anggi Fridianto