JOMBANG – Proyek Irigasi Pariterong (Papar–Turi–Peterongan) sepanjang 17 kilometer hingga kini belum difungsikan. Padahal jaringan yang dibangun untuk menopang ketahanan pangan itu sudah lama selesai. Induk Himpunan Petani Pemakai Air (HIPPA) Jombang mendorong tambahan suplai air dari Daerah Irigasi (DI) Mrican agar saluran bisa segera mengairi sawah petani.
Ketua Induk HIPPA Jombang Burhanudin menyebut usulan suplisi air sudah disampaikan kepada Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Brantas. Debit yang diminta sekitar 1,1 hingga 2 meter kubik per detik untuk menyuplai 1.100 hektare lahan. ”Tambahan debit itu diharapkan mampu mendukung program ketahanan pangan,” ujarnya.
Baca Juga: Irigasi Pariterong Jombang Segera Difungsikan? Pemkab Sudah Ajukan Alokasi Air ke BBWS Brantas
Saat musim penghujan, luas baku sawah yang berpotensi dilayani mencapai 1.900 hektare, membentang dari Kecamatan Perak hingga Jogoroto dan Mojowarno. Namun, lahan tersebut belum masuk alokasi air DI Mrican sehingga tambahan air hanya bersifat bantuan, bukan alokasi baku. ”Kalau Irigasi Siman kekurangan air, nanti akan dibantu dari Mrican. Sebab elevasi wilayahnya lebih tinggi dibandingkan Siman,” jelas Burhanudin.
Ia menambahkan, pembahasan tinggal menunggu rapat dengan BBWS Brantas setelah rapat tahunan. Usulan ini juga didorong bersama Tim Koordinasi Pengelolaan Sumber Daya Air (TKPSDA) Wilayah Sungai Brantas. ”Karena kewenangan pengelolaan irigasi ada di pemerintah pusat,” tegasnya.
Sebelumnya, Pemkab Jombang juga mengusulkan alokasi air agar Irigasi Pariterong bisa dioperasikan pada musim tanam berikutnya. Namun pengoperasian jaringan irigasi harus menunggu penetapan alokasi air resmi setiap musim tanam. Hingga kini, saluran sepanjang 17 km itu masih nganggur, sementara petani berharap segera dialiri air. (fid/naz)
Editor : Anggi Fridianto