JOMBANG – Sebanyak 91 mahasiswa Program Studi Pendidikan Jasmani, Kesehatan, dan Rekreasi (PJOK) Universitas PGRI Jombang (UPJB) angkatan 2025 mengikuti Ujian Kenaikan Tingkat (UKT) karate di Dojo Mahameru, Selasa (7/7). Ini menjadi bagian dari pembelajaran wajib yang harus ditempuh mahasiswa sebagai bekal kompetensi di bidang olahraga bela diri.
’’Peserta UKT kali ini berjumlah 91 mahasiswa semester II angkatan 2025,’’ kata Ketua Harian Forki Jombang sekaligus dosen mata kuliah Pembelajaran Karate dan Sport Industri UPJB, Kwat Prayitno.
Ujian kenaikan tingkat tersebut menjadi kewajiban bagi seluruh mahasiswa PJOK yang menempuh mata kuliah karate. Selain menguasai teori, mahasiswa juga harus memiliki kemampuan praktik yang dibuktikan melalui kenaikan sabuk.
’’Mahasiswa wajib mengikuti ujian sabuk sebagai bagian dari proses pembelajaran karate sebanyak 2 SKS,’’ terangnya.
Baca Juga: Luar Biasa! Karateka Jombang Sabet 13 Medali, Firman Siap Bela Indonesia di Vietnam
Materi yang diujikan sesuai dengan tingkat kemampuan masing-masing peserta. Mayoritas mahasiswa mengikuti ujian kenaikan ke sabuk putih. Selain itu, terdapat pula peserta yang menjalani ujian untuk tingkat sabuk kuning, hijau, hingga cokelat.
’’Yang diujikan ada sabuk putih, hijau, dan cokelat. Mayoritas memang masih sabuk putih, tetapi ada juga mahasiswa yang mengikuti ujian sabuk kuning maupun hijau sesuai tingkatannya,” jelasnya.
Dalam ujian tersebut, peserta dinilai dari berbagai aspek teknik dasar karate. Seperti kuda-kuda, pukulan, tendangan, rangkaian gerakan (kata), hingga kemampuan aplikasi teknik sesuai standar perguruan.
Pelaksanaan UKT tidak hanya bertujuan meningkatkan tingkatan sabuk. Tetapi juga memastikan mahasiswa memiliki kompetensi dasar karate yang nantinya dapat diterapkan saat menjadi guru pendidikan jasmani.
’’Karate merupakan salah satu cabang olahraga yang dipelajari mahasiswa PJOK. Karena itu, kemampuan praktik harus benar-benar dikuasai agar ketika menjadi guru nantinya mereka mampu mengajarkan teknik yang tepat kepada peserta didik,’’ terangnya.
Ia berharap melalui pelaksanaan ujian kenaikan tingkat tersebut, mahasiswa tidak hanya memperoleh sabuk baru, tetapi juga semakin disiplin, percaya diri, dan memahami filosofi bela diri karate sebagai bagian dari pembentukan karakter.
’’Harapannya, mahasiswa tidak hanya naik tingkat sabuk, tetapi juga berkembang dari sisi disiplin, tanggung jawab, dan kemampuan mengajar olahraga bela diri di masa mendatang,’’ tegasnya. (wen/jif)
Editor : Anggi Fridianto