JOMBANG - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Jombang kembali berjalan serentak setelah libur sekolah. Dari 157 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), sebanyak 146 dapur kembali beroperasi mulai Senin (13/7). Meski demikian, penyaluran di sejumlah SPPG belum sepenuhnya pulih karena masih terdampak proses penerimaan siswa baru dan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS).
Koordinator Wilayah Badan Gizi Nasional (BGN) Kabupaten Jombang Prima Aris memastikan tidak ada perubahan skema penyaluran maupun mekanisme pelaksanaan program. Seluruh SPPG yang beroperasi tetap menjalankan distribusi sesuai petunjuk teknis (juknis) BGN. ”Dari total 157 SPPG di Kabupaten Jombang, sebanyak 146 SPPG kembali beroperasi serentak mulai 13 Juli 2026,” terangnya dalam pesan tertulis kepada wartawan, Selasa (15/7).
Prima menegaskan, hingga kini BGN belum menerbitkan skema penyaluran baru. ”Tidak ada perubahan skema penyaluran. Seluruh SPPG yang operasional tetap bekerja berdasarkan petunjuk teknis dari BGN,” ujarnya.
Dia juga menyampaikan jumlah dapur MBG yang berstatus suspend (dihentikan sementara) mulai berkurang. ”Satu SPPG yang sebelumnya suspend sudah kembali operasional karena telah menyelesaikan tahap evaluasi dan perbaikan. Saat ini tinggal satu SPPG yang masih belum beroperasi,” pungkasnya.
Seiring kembali beroperasinya dapur MBG, ribuan porsi makanan bergizi kembali didistribusikan ke sekolah dan kelompok penerima. Namun, sejumlah SPPG masih mencatat penurunan jumlah penerima.
Kepala SPPG Tambakrejo 3 Jombang Paramananda Nur Susanto mengatakan, secara nasional tidak ada perubahan kebijakan maupun pengurangan kuota dari BGN. Penyaluran kembali dilakukan menggunakan juknis lama dengan jadwal distribusi lima hari, Senin hingga Jumat. ”MBG sudah jalan lagi serentak mulai Senin. Kalau menu tidak ada perubahan, hanya disarankan dibedakan antara penerima sekolah dan posyandu. Untuk balita disesuaikan dengan makanan yang lebih mudah dikonsumsi anak di bawah lima tahun,” katanya.
Saat ini SPPG Tambakrejo 3 melayani sekitar 2.500 penerima di 12 sekolah di wilayah Sambongdukuh dan Tambakberas. Jumlah itu berkurang sekitar 200 porsi dibanding sebelum libur sekolah. Penurunan tersebut bukan akibat pengurangan kuota dari pemerintah pusat, melainkan karena data siswa baru belum seluruhnya masuk setelah dimulainya tahun ajaran baru. ”Kalau pengurangan memang ada sekitar 200 porsi, tetapi karena pengaruh siswa baru. Untuk juknis baru juga belum ada, jadi sementara masih memakai juknis lama,” ujarnya.
Baca Juga: Baru 90 SPPG Kantongi SHLS, Pemkab Jombang Perkuat Pengawasan MBG dari Dapur hingga Sekolah
Penyesuaian juga dilakukan pada sasaran kelompok posyandu. Jika sebelumnya melayani sembilan posyandu, kini sementara hanya tiga posyandu yang menjadi sasaran distribusi agar pelayanan lebih merata. ”Posyandu memang ada pemerataan,” lanjutnya.
Kondisi serupa terjadi di SPPG Mangunan, Kecamatan Kabuh. Asisten Lapangan (Aslap) SPPG Mangunan Soni Harsono mengatakan, kuota MBG tetap utuh. Namun, pelaksanaan MPLS membuat sebagian siswa, terutama jenjang TK dan SD, belum dapat menerima makanan bergizi karena administrasi peserta didik baru belum rampung. ”Dari BGN tidak ada pengurangan, kuotanya tetap. Hanya karena MPLS, terutama TK dan SD, ada siswa yang belum terdaftar sehingga sementara belum bisa menerima,” jelasnya.
Selama tiga hari pertama setelah MBG kembali berjalan, SPPG Mangunan baru menyalurkan 1.668 porsi kepada sembilan sekolah serta kelompok 3B yang meliputi balita, ibu hamil, dan ibu menyusui di Desa Mangunan dan Tanjungwadung. Jumlah tersebut masih di bawah kondisi normal yang mencapai sekitar 2.600 porsi per hari.
Soni optimistis penyaluran akan kembali normal mulai pekan depan setelah seluruh sekolah menyelesaikan MPLS dan data siswa baru telah masuk. ”Minggu depan sudah kembali melayani 16 sekolah. Sebelum libur penyaluran kami sekitar 2.600 porsi, kemungkinan nanti akan kembali di kisaran itu,” pungkasnya. (riz/naz)
Editor : Anggi Fridianto