JOMBANG – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jombang mencatat sedikitnya 42 kejadian kebakaran terjadi di Kabupaten Jombang sepanjang 2026. Kebakaran didominasi bangunan permukiman dan tempat usaha, sementara kebakaran lahan juga mulai bermunculan seiring masuknya musim kemarau.
Berdasarkan data BPBD Jombang, hingga awal Juli 2026 terdapat 14 kejadian kebakaran permukiman, 17 kebakaran tempat usaha, enam kebakaran lahan, serta lima kebakaran fasilitas umum. Selama periode tersebut tidak ada laporan kebakaran hutan.
Kalaksa BPBD Jombang Wiku Birawa Felipe Dias Quintas mengatakan, kejadian kebakaran di Jombang pada dasarnya tidak bergantung pada musim. Sebab, sebagian besar kasus justru dipicu faktor dari aktivitas manusia.
”Kalau kebakaran memang tidak mengenal musim, meskipun saat kemarau kecenderungannya bisa saja naik,” ujarnya, Selasa (7/7).
Menurut Wiku, kebakaran permukiman lebih banyak dipicu persoalan yang berasal dari dalam bangunan. Mulai korsleting listrik hingga penyebab lain yang berkaitan dengan aktivitas penghuni. "Kalau kebakaran permukiman, kebanyakan asalnya dari dalam rumah, seperti korsleting listrik atau penyebab lainnya," katanya.
Baca Juga: Diduga Korsleting Listrik, Kebakaran Hanguskan Tiga Kamar Rumah di Jombang
Sementara itu, untuk kebakaran lahan, hampir seluruh kejadian dipicu kelalaian manusia. Di Kabupaten Jombang, jenis lahan yang paling sering terbakar merupakan ladang tebu, sawah hingga rumpun bambu.
"Untuk lahan, kebakarannya hampir semuanya karena human error. Lahan di Jombang lebih banyak berupa ladang tebu, sawah atau rumpun bambu," jelasnya.
Ia menyebut penyebabnya beragam. Ada yang memang sengaja membakar sisa tanaman di lahan hingga api merembet ke area lain. Ada pula yang bermula dari pembakaran sampah yang tidak diawasi hingga memicu kebakaran lebih luas.
”Biasanya memang ada yang sengaja dibakar, kemudian meluas kalau di ladang tebu. Ada juga yang karena pembakaran sampah lalu menyulut wilayah lain,” ungkapnya.
Memasuki musim kemarau, BPBD Jombang mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan agar tidak memicu kebakaran. Terutama menghindari pembakaran terbuka yang tidak terkendali.
"Karena sekarang sudah memasuki musim kemarau, masyarakat kami imbau lebih hati-hati. Pembakaran terbuka yang tidak dikendalikan bisa mengakibatkan kebakaran sehingga memang harus dijaga,” tegas Wiku.
Ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara dibakar karena berpotensi memicu kebakaran yang sulit dikendalikan. ”Pembukaan lahan juga diharapkan tidak menggunakan cara membakar," pungkasnya. (riz/naz)
Editor : Anggi Fridianto