Saat ngaji usai salat Duhur di Masjid Agung Junnatul Fuadah Polres Jombang, Senin (22/6), anggota Komisi Dakwah MUI Jombang, KH Khairil Anam, menjelaskan tanda mendekati kematin. ’’Malaikat maut pernah menyampaikan tanda mendekati kematian kepada Nabi Ya'qub 'alaihissalam,’’ tuturnya.
Suatu ketika malaikat maut mendatangi Nabi Ya'qub. ’’Wahai malaikat maut, apakah engkau datang untuk mencabut nyawaku atau hanya berkunjung?’’
Malaikat menjawab, ’’Aku hanya berkunjung.’’
Nabi Ya'qub berpesan, ’’Jika suatu saat engkau datang untuk mencabut nyawaku, beritahulah aku terlebih dahulu.’’
Malaikat menjawab, ’’Baik, aku akan mengirimkan beberapa pemberitahuan sebelum aku datang.’’ Bertahun-tahun kemudian, malaikat maut datang kembali untuk mencabut nyawa.
Nabi Ya'qub terkejut dan berkata, ’’Bukankah dahulu engkau berjanji akan memberi kabar sebelum datang mencabut nyawaku?’’
Malaikat maut menjawab, ’’Aku telah mengirim banyak kabar kepadamu. Rambutmu yang dahulu hitam kini memutih. Tubuhmu yang dahulu kuat kini melemah. Penglihatanmu yang dahulu tajam kini mulai berkurang. Semua itu peringatan yang kukirimkan kepadamu bahwa perjalanan dunia akan segera berakhir.’’
Mendengar jawaban itu, Nabi Ya'qub memahami, setiap perubahan yang terjadi pada diri manusia sesungguhnya pesan dari Allah Ta’ala agar manusia bersiap menuju kehidupan yang abadi.
’’Ada tiga pelajaran yang bisa diambil dari kisah ini,’’ terangnya.
Pertama, dunia itu sementara, akhiratlah yang selamanya. Manusia sering hidup seolah-olah akan tinggal di dunia untuk selamanya. Padahal setiap hari umur kita berkurang, bukan bertambah.
Allah Ta'ala berfirman di QS Ar-Rahman 26-27. Semua yang ada di bumi itu akan binasa. Dan tetap kekal Dzat Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.
Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam bersabda: Jadilah engkau di dunia seperti orang asing atau musafir yang sedang melewati suatu jalan.
Jika engkau berada pada waktu sore, jangan menunggu pagi. Jika engkau berada pada waktu pagi, jangan menunggu sore.
Betapa banyak orang yang menyiapkan rumah puluhan tahun, tetapi lupa menyiapkan kubur yang mungkin akan dimasuki esok hari.
Kedua, dunia akan rusak, sedangkan akhirat kekal selamanya. Semua yang kita banggakan di dunia suatu saat akan hancur. Rumah akan lapuk. Kendaraan akan rusak. Jabatan akan berakhir. Harta akan ditinggalkan.
Allah berfirman: Apa yang ada di sisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah akan kekal (QS An-Nahl 96).
Suatu ketika Rasulullah melewati bangkai anak kambing yang telinganya cacat. Beliau bertanya kepada para sahabat: Siapa di antara kalian yang mau membeli bangkai ini dengan satu dirham?
Para sahabat menjawab, mereka tidak menginginkannya sama sekali.
Maka Rasulullah bersabda: Demi Allah, dunia lebih hina di sisi Allah daripada bangkai ini di mata kalian.
Orang yang cerdas bukanlah yang paling banyak mengumpulkan dunia, melainkan yang paling banyak membawa bekal menuju akhirat.
Ketiga, melemahnya fisik peringatan agar semakin semangat beribadah. Ketika rambut mulai memutih. Ketika lutut mulai terasa sakit. Ketika tenaga tidak lagi seperti dahulu. Sesungguhnya Allah sedang mengirimkan surat peringatan.
Orang yang memahami hakikat ini akan menjadikan uban sebagai nasihat, bukan sekadar perubahan warna rambut. Ia menjadikan kelemahan fisik sebagai alarm untuk memperbanyak salat, sedekah, zikir, dan amal saleh. (jif/naz)
Editor : Anggi Fridianto