Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Cicit KH Bisri Syansuri Ini Lulus Hubungan Internasional di University of Adelaide, Ini Sosoknya

Wenny Rosalina • Sabtu, 20 Juni 2026 | 07:23 WIB
SENANG: Diana Nabila warga Denanyar yang lulus sarjana Hubungan Internasional dari University of Adelaide, Australia.
SENANG: Diana Nabila warga Denanyar yang lulus sarjana Hubungan Internasional dari University of Adelaide, Australia.

 

JOMBANG – Keluarga pondok pesantren di Jombang sangat terbuka dengan pendidikan luar negeri. Seperti dijalani Diana Nabila, cucu KH Abdul Aziz Masyhuri, pendiri Pondok Pesantren Al Aziziyyah Denanyar. Sekaligus cicit KH Bisri Syansuri, pendiri PP Mambaul Maarif Denanyar.

Diana baru saja meraih gelar Sarjana Hubungan Internasional dari University of Adelaide, Australia. ’’Awalnya saya ingin kuliah di Indonesia, tapi saat saya mendaftar di beberapa kampus masih belum rezeki,’’ ungkapnya.

Nabila lahir dan tumbuh di lingkungan pesantren yang kuat. Sang ibu, Nyai Hj Khorida, saat ini mengasuh Pondok Pesantren Al Aziziyyah Putri Denanyar Jombang. Sekaligus Pondok Pesantren Al Khotibah di Singosari, Malang. Meski tumbuh di lingkungan religius, Nabila tidak pernah membatasi impiannya hanya pada bidang keagamaan.

Baca Juga: Pantang Menyerah! Ini Sosok Lulusan SMK di Jombang yang Tembus Ketatnya Seleksi Kerja ke Jepang

Sejak kecil, ia menempuh pendidikan di lingkungan madrasah. Mulai dari MIN 4 Jombang, MTsN 3 Jombang hingga MAN 3 Jombang. Di tengah aktivitasnya sebagai santri, Nabila justru menaruh minat besar pada Bahasa Inggris. Ketertarikan itu mengantarkannya meraih berbagai prestasi dalam kompetisi Bahasa Inggris, baik di tingkat daerah maupun nasional.

Titik balik perjalanan hidupnya terjadi pada 2017 saat masih duduk di bangku kelas IX. Nabila mengikuti seleksi program Kennedy-Lugar Youth Exchange and Study (YES). Ini program pertukaran pelajar yang didanai penuh oleh Pemerintah Amerika Serikat melalui US Department of State dan difasilitasi Yayasan Bina Antar Budaya.

Melalui proses seleksi berjenjang yang ketat mulai tingkat regional hingga nasional, Nabila berhasil menjadi salah satu peserta yang lolos. Kesempatan tersebut membawanya ke Amerika Serikat selama 11 bulan untuk menjalani pendidikan sekaligus mengenal kehidupan masyarakat internasional.

Di Negeri Paman Sam, Nabila ditempatkan di Washington DC dan bersekolah di School Without Walls. Berada di pusat pemerintahan Amerika Serikat membuatnya semakin dekat dengan dunia diplomasi yang selama ini menjadi impiannya.

Selain mengikuti kegiatan akademik, Nabila aktif terlibat dalam berbagai kegiatan yang diselenggarakan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Washington DC. Ia kerap dipercaya menjadi panitia maupun pengisi acara dalam berbagai kegiatan promosi budaya Indonesia.

Baca Juga: Sosok Elvi Era Fitri, Guru Asal Jombang yang Sukses Antar 6 Siswa ke Tingkat Nasional dan Bangun UMKM Sehat

’’Pengalaman tersebut menjadi bekal berharga untuk memahami bagaimana hubungan antarnegara dibangun serta bagaimana Indonesia diperkenalkan kepada masyarakat dunia,’’ ungkapnya.

Sepulang dari Amerika Serikat, Nabila kembali melanjutkan pendidikan di MAN 3 Jombang. Sesuai ketentuan program YES, peserta diwajibkan mengulang kelas XII agar dapat menyelesaikan pendidikan menengah di Indonesia.

Setelah lulus pada 2020, Nabila berupaya melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi melalui berbagai jalur seleksi. Ia mendaftar di sejumlah kampus ternama dalam negeri jurusan Hubungan Internasional.

Ia juga mendaftar ke beberapa perguruan tinggi luar negeri. Di antaranya, University of Southern Queensland, University of Canberra, University of Western Australia, dan University of Adelaide. Kabar baik datang dari luar negeri. Seluruh kampus yang dilamarnya menerima Nabila sebagai mahasiswa baru.

Namun tantangan belum berakhir. Keterbatasan biaya membuat keluarganya belum mampu memenuhi kebutuhan pendidikan di luar negeri saat itu. Kondisi tersebut sempat membuat Nabila harus menunda kuliah selama satu tahun.

Kesempatan itu akhirnya datang pada 2022. Ketika ia resmi menjadi mahasiswa Program International Relations di University of Adelaide, Australia.

Selama kuliah, Nabila tidak hanya fokus pada akademik. Ia juga aktif sebagai asisten profesor. Serta mengikuti berbagai program pertukaran mahasiswa internasional yang mempertemukannya dengan mahasiswa dari berbagai negara.

’’Kesempatan saya maksimalkan dengan aktif pada setiap agenda,’’ jelasnya.

Pengalaman tersebut semakin memperluas wawasan global dan memperkuat kemampuan diplomasi yang menjadi bekal penting untuk meraih cita-cita.

Pada Mei 2025, Nabila berhasil menyelesaikan pendidikan sarjananya dan meraih gelar Bachelor of International Relations dari University of Adelaide.

Saat ini, Nabila masih berada di Australia sembari mempersiapkan langkah berikutnya untuk melanjutkan studi magister di Eropa melalui program beasiswa. Di sela menunggu proses tersebut, ia tetap aktif dalam berbagai kegiatan yang menunjang pengembangan diri dan jejaring internasional.

Kisah Diana Nabila menjadi bukti, santri mampu bersaing di tingkat global tanpa meninggalkan identitas dan nilai-nilai pesantren. Dari lingkungan pesantren di Denanyar hingga kampus internasional di Australia, Nabila menunjukkan mimpi besar dapat diraih melalui kerja keras, ketekunan, dan keberanian menembus batas.

Cita-citanya menjadi seorang duta besar memang masih dalam proses. Namun langkah-langkah yang telah ditempuhnya sejauh ini menunjukkan bahwa mimpi tersebut bukanlah sesuatu yang mustahil untuk diwujudkan. (wen/jif)

 

Editor : Anggi Fridianto
#Diana Nabila #Denanyar Jombang #University of Adelaide #Santri Berprestasi #Ponpes Al Aziziyyah