JOMBANG - Memasuki musim tanam padi, petani mulai meningkatkan kewaspadaan terhadap serangan hama wereng. Di sejumlah areal persawahan, tanda-tanda keberadaan hama tersebut mulai terlihat sehingga petani memilih melakukan langkah pencegahan sejak dini.
Salah satunya dilakukan Kusaini, 58, petani di Dusun Juning, Desa Mojoduwur, Kecamatan Mojowarno. Ia rutin menyemprotkan pestisida pada tanaman padi yang memasuki fase pembentukan bulir mengantisipasi serangan wereng. ”Ini ada werengnya. Untuk antisipasi serangan hama wereng karena tanaman sudah njebul, kami semprot pakai pestisida,” ujarnya kemarin (14/6).
Menurut dia, penyemprotan dilakukan secara berkala agar populasi wereng tidak berkembang dan merusak tanaman pada fase awal pertumbuhan. Sebab, serangan wereng dapat menyebabkan tanaman menguning, mengering, hingga berujung gagal panen jika tidak segera dikendalikan.
Baca Juga: Pemdes Gedangan Mojowarno Jombang Gandeng PPL dan Dinas Terkait Berantas Hama Wereng Jelang Panen
Untuk pencegahan, penyemprotan biasanya dilakukan sekali dalam sepekan atau setiap 7–10 hari sekali. Namun, jika serangan meningkat, frekuensinya ditambah. ”Tapi ketika serangan meningkat, intensitas penyemprotan dapat dilakukan lebih sering, yakni setiap tiga hari sekali guna menekan perkembangan populasi hama,” pungkasnya.
Sementara itu, data Dinas Pertanian (Disperta) Jombang periode Januari–Mei 2026 mencatat total serangan organisme pengganggu tanaman (OPT) mencapai 123,8 hektare. Serangan terluas berasal dari penyakit hawar daun bakteri seluas 56,7 hektare. Disusul penggerek batang 25,4 hektare, wereng batang cokelat 17,7 hektare, penyakit tungro 14,1 hektare, serta serangan tikus 9,9 hektare.
Kepala Dinas Pertanian Jombang M. Rony melalui Kabid Perlindungan, Pascapanen, dan Pemasaran Hasil Pertanian Ahmad Jani Masyhudi mengatakan, cuaca yang tidak menentu menjadi faktor yang mendukung perkembangan hama dan penyakit tanaman. “Cuaca yang berubah-ubah membuat petani harus tetap waspada. Memang beberapa jenis hama mengalami penurunan, tetapi penggerek batang dan tungro justru meningkat,” katanya.
Berdasarkan data Disperta, serangan penggerek batang naik dari 23,2 hektare pada periode Januari–Mei 2025 menjadi 25,4 hektare pada periode yang sama tahun ini. Sementara itu, penyakit tungro yang tahun lalu belum ditemukan kini telah menyerang lahan padi seluas 14,1 hektare. (ang/naz)
Editor : Anggi Fridianto