JOMBANG – Ancaman organisme pengganggu tanaman (OPT) masih menghantui petani padi di Kabupaten Jombang. Di tengah cuaca yang tidak menentu, total serangan hama dan penyakit tanaman padi hingga Mei 2026 masih mencapai 123,8 hektare. Dinas Pertanian (Disperta) Jombang meminta petani meningkatkan kewaspadaan, terutama terhadap penggerek batang dan penyakit tungro.
Berdasarkan data Disperta Jombang periode Januari-Mei 2026, serangan OPT paling luas masih didominasi penyakit hawar daun bakteri (Xanthomonas oryzae) seluas 56,7 hektare. Disusul penggerek batang 25,4 hektare, wereng batang cokelat 17,7 hektare, penyakit tungro 14,1 hektare, dan serangan tikus 9,9 hektare.
Kepala Dinas Pertanian Jombang M. Rony melalui Kabid Perlindungan, Pascapanen dan Pemasaran Hasil Pertanian Ahmad Jani Masyhudi mengatakan, meski sebagian besar jenis OPT mengalami penurunan dibanding tahun lalu, ancaman serangan masih perlu diwaspadai karena kondisi cuaca saat ini sangat mendukung perkembangan hama dan penyakit tanaman. ”Cuaca yang berubah-ubah membuat petani harus tetap waspada. Memang beberapa jenis hama mengalami penurunan, tetapi penggerek batang dan tungro justru meningkat," katanya.
Data Disperta mencatat, serangan penggerek batang naik dari 23,2 hektare pada Januari-Mei 2025 menjadi 25,4 hektare pada periode yang sama tahun ini. Sementara penyakit tungro yang tahun lalu belum ditemukan, kini telah menyerang lahan seluas 14,1 hektare.
Sebaliknya, sejumlah OPT mengalami penurunan cukup signifikan. Serangan hawar daun bakteri turun dari 138,5 hektare menjadi 56,7 hektare. Wereng batang cokelat turun dari 54,2 hektare menjadi 17,7 hektare, sedangkan serangan tikus merosot dari 71,3 hektare menjadi 9,9 hektare.
Baca Juga: Hama Tikus Serang 6 Kecamatan di Jombang, Komisi B DPRD Jombang Desa Disperta Cari Solusi Kongkret
Menurut Jani, daerah yang memiliki intensitas tanam padi tinggi atau mencapai tiga kali tanam dalam setahun menjadi wilayah yang paling rentan terhadap serangan OPT. Di antaranya Kecamatan Bareng, Ngoro, Mojowarno, dan Gudo. "Daerah dengan pola tanam yang terus berlangsung memiliki potensi serangan lebih tinggi karena siklus hidup hama juga terus berlanjut," ujarnya.
Untuk menekan serangan penggerek batang, Disperta terus mengembangkan pengendalian hayati melalui pemasangan pias trichogramma. Metode tersebut memanfaatkan musuh alami berupa tawon mikro yang menyerang telur hama penggerek batang sehingga tidak berkembang menjadi ulat perusak tanaman.
Selain lebih ramah lingkungan, penggunaan pias trichogramma juga dinilai lebih ekonomis. Biaya pengendalian hanya sekitar Rp 250 ribu per hektare, jauh lebih murah dibanding penggunaan pestisida kimia yang dapat mencapai Rp 1 juta per hektare.
Penerapan metode tersebut sudah dilakukan di sejumlah wilayah seperti Mojowarno, Perak, Jogoroto, dan Sumobito. Bahkan beberapa hamparan sawah yang rutin memasang pias dilaporkan bebas dari serangan penggerek batang selama beberapa musim tanam terakhir. ”Kami terus mendorong petani menggunakan pengendalian hayati. Selain efektif, cara ini juga mendukung pertanian yang lebih sehat dan berkelanjutan," pungkasnya. (yan/naz)
Editor : Anggi Fridianto