Saat ngaji usai salat Duha di di Masjid Agung Junnatul Fuadah Polres Jombang, Rabu (3/6), Direktur Ma’had Aly Hasyim Asy’ari Tebuireng, Dr KH Achmad Roziqi, mengajak meneladani Nabi Ibrahim alaihissalam. ’’Dalam doa-doa beliau yang diabadikan Allah dalam Surah Ibrahim ayat 37–41, terdapat pelajaran besar tentang menata hidup agar seluruhnya berorientasi kepada Allah Ta’ala,’’ tuturnya.
Ketika Nabi Ibrahim menempatkan keluarganya di lembah Makkah yang tandus dan tidak memiliki sumber kehidupan, beliau pertama-tama tidak meminta kemewahan dunia. Beliau justru berdoa: Ya Tuhan kami, agar mereka mendirikan salat.
Dari sini kita belajar bahwa tujuan utama kemudahan hidup, rezeki, dan berbagai fasilitas dunia adalah untuk membantu manusia beribadah kepada Allah. Dunia bukan tujuan akhir, melainkan sarana untuk menegakkan ketaatan.
Nabi Ibrahim juga mengajarkan bahwa doa bukan sekadar permintaan atas kebutuhan hidup. Allah Ta’ala sudah mengetahui segala yang tersembunyi dan tampak. Namun beliau tetap berdoa sebagai bentuk penghambaan, ketundukan, dan pengakuan bahwa seorang hamba selalu membutuhkan Allah dalam setiap keadaan.
Ketika Allah menganugerahkan Nabi Ismail dan Nabi Ishaq di usia yang sangat lanjut, Nabi Ibrahim tidak dipenuhi rasa bangga terhadap dirinya sendiri. Beliau justru memuji Allah seraya berkata: Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan kepadaku Ismail dan Ishaq di usia tua.
Nabi Ismail dilahirkan sewaktu Nabi Ibrahim berumur 99 tahun. Ishak dilahirkan sewaktu Nabi Ibrahim berumur 112.
Ini pelajaran tentang syukur. Setiap nikmat, terutama keluarga dan keturunan, sejatinya pemberian Allah semata.
Lebih dari itu, perhatian terbesar Nabi Ibrahim terhadap anak keturunannya bukanlah kekayaan, kedudukan, atau kemasyhuran. Melainkan agar mereka menjadi orang-orang yang menjaga salat dan istiqamah dalam ibadah. Nabi Ibrahim berdoa: Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan keturunanku termasuk orang-orang yang mendirikan salat.
Inilah ukuran keberhasilan pendidikan keluarga dalam pandangan para nabi: Lahirnya generasi yang dekat dengan Allah.
Dan meskipun Nabi Ibrahim adalah kekasih Allah, beliau tetap memperbanyak istighfar dan memohon ampunan bagi dirinya, kedua orang tuanya, serta seluruh kaum mukminin. Ini menunjukkan bahwa semakin tinggi kedudukan seseorang di sisi Allah, semakin besar rasa takut dan harapnya kepada ampunan-Nya.
Maka Idul Adha seharusnya menjadi saat untuk merenung: Apakah hidup kita sudah diarahkan untuk mendukung ibadah?
Apakah keluarga kita dibangun di atas salat dan ketaatan? Apakah kita sungguh-sungguh mendoakan kebaikan keturunan kita? Dan apakah kita telah banyak bersyukur serta memohon ampun kepada Allah?
Pada akhirnya, keteladanan Nabi Ibrahim menghadirkan satu pertanyaan besar bagi diri kita semua: Apakah kita termasuk yang meneladaninya atau tidak? (jif/naz)
Editor : Anggi Fridianto