Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Kebocoran Bendung Jatimlerek Belum Teratasi, Arus Brantas Jadi Kendala Utama

Ainul Hafidz • Sabtu, 30 Mei 2026 | 07:23 WIB
MACET: Operator Dam Karet Jatimlerek menunjukkan intake (bangunan bagi sadap) DI (Daerah Irigasi) Jatimlerek yang tak lagi teraliri air dari Sungai Brantas.
MACET: Operator Dam Karet Jatimlerek menunjukkan intake (bangunan bagi sadap) DI (Daerah Irigasi) Jatimlerek yang tak lagi teraliri air dari Sungai Brantas.

 

JOMBANG - BALAI Besar Wilayah Sungai (BBWS) Brantas menjanjikan percepatan penanganan kebocoran pintu nomor enam Bendung Jatimlerek, Kecamatan Plandaan.

Meski terkendala derasnya arus Sungai Brantas, pemasangan kisdam atau bendungan sementara ditargetkan bisa rampung dalam dua hingga tiga minggu ke depan.

Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Irigasi dan Rawa BBWS Brantas Agung Purnayudha mengatakan, percepatan dilakukan agar dampak penghentian suplai irigasi ke lahan pertanian tidak berlangsung terlalu lama.

 ”Kami usahakan lebih cepat supaya dampaknya ke petani tidak terlalu lama,” ujarnya usai sosialisasi bersama petani dan pemerintah desa di Balai Desa Jatimlerek, Kecamatan Plandaan.

Menurut Agung, kisdam yang dibangun hanya bersifat penanganan darurat sebelum proyek rehabilitasi Bendung Jatimlerek dilakukan secara penuh.

”Jadi kisdam ini hanya penanganan sementara sebelum pekerjaan utama berjalan,” katanya.

Pekerjaan awal sebenarnya sudah dimulai di sisi selatan Desa Sudimoro, Kecamatan Megaluh.

 Pengisian jumbo bag bahkan telah dilakukan selama sepekan terakhir. Namun pemasangan di aliran sungai belum bisa maksimal karena debit Sungai Brantas masih tinggi.

”Harusnya mulai hari ini (kemarin) sudah dipasang, tetapi kami masih melihat kondisi debit air,” imbuhnya.

Baca Juga: Jumbo Bag Dam Jatimlerek Hanyut Diterjang Brantas, 1.816 Hektare Sawah Terancam Kekeringan

Dia menjelaskan, kondisi Sungai Brantas berbeda dengan saluran irigasi biasa karena sangat dipengaruhi curah hujan di wilayah hulu.

 ”Kalau di saluran bisa ditutup pintunya. Kalau di sungai ini tergantung cuaca. Meski di Jombang tidak hujan, kalau Malang atau Blitar hujan tetap memengaruhi debit Sungai Brantas,” jelasnya.

BBWS Brantas sebelumnya memperkirakan penanganan membutuhkan waktu sekitar 57 hari.

 Namun target tersebut kini dipercepat agar distribusi air ke lahan pertanian segera kembali normal. Kendala utama saat ini adalah kuatnya arus sungai yang berpotensi menghanyutkan material jumbo bag saat dipasang di dalam aliran air.

”Pasir di dalam jumbo bag bisa hilang kalau hanyut. Karena itu kami masih mencari metode yang paling aman untuk pemasangan,” ungkapnya.

Untuk penanganan darurat tersebut, BBWS Brantas menyiapkan sekitar 3.200 jumbo bag. Jumlah itu meningkat dari desain awal sekitar 1.200 jumbo bag setelah dilakukan evaluasi kebutuhan lapangan.

 ”Karena juga dipakai untuk jalur alat masuk. Lebarnya sekitar 6 sampai 9 meter dengan tinggi tiga meter atau tiga lapis jumbo bag,” katanya. 

Menurutnya, kisdam sengaja dibuat lebih tebal agar material pasir tidak mudah tergerus derasnya arus Sungai Brantas.

”Kalau dibuat tipis kami khawatir pasirnya hilang,” katanya. (fid/naz)

 

Editor : Anggi Fridianto
#bendung jatimlerek #Irigasi Jombang #jumbo bag #BBWS Brantas #sungai brantas