JOMBANG - Penanganan pintu nomor enam Dam Karet Jatimlerek, Kecamatan Plandaan, yang jebol belum bisa dilakukan dalam waktu dekat. Pembangunan kisdam menggunakan jumbo bag terpaksa ditunda lantaran debit Sungai Brantas diperkirakan meningkat akibat flushing atau penggelontoran air dari wilayah hulu.
Kepala Dinas PUPR Jombang Imam Bustomi mengatakan, pihaknya bersama BBWS Brantas, PT Wijaya Karya (Wika), dan operator bendung telah melakukan pengecekan langsung ke lokasi pada Selasa (12/5).
”Memang pintu karet nomor enam sudah tidak bisa ditambal lagi. Rencananya akan dibangun kisdam untuk menutup bagian itu supaya air tetap bisa masuk ke intake irigasi,” katanya.
Pembangunan kisdam tersebut menjadi tanggung jawab BBWS Brantas. Berdasarkan perhitungan teknis sementara, dibutuhkan sekitar 1.200 jumbo bag untuk menutup aliran air di titik pintu bendung yang rusak. ”Mereka mengupayakan pengadaan jumbo bag,” imbuhnya.
Namun, pemasangan kisdam belum dapat dilakukan karena Perum Jasa Tirta (PJT) masih melakukan flushing Sungai Brantas hingga 18 Mei. Kondisi tersebut diperkirakan meningkatkan debit air sungai dan berisiko menghanyutkan jumbo bag jika dipasang lebih awal.
”Kalau flushing masih berlangsung, kisdam tidak boleh dipasang karena air bisa melimpas di atas jumbo bag. Kalau overtopping, jumbo bag bisa hanyut,” ujarnya.
Baca Juga: Dam Karet Jatimlerek Jombang Jebol Lagi, Petani di Utara Brantas Jombang Terpaksa Andalkan Sumur Bor
Meski begitu, flushing mulai memberi dampak positif terhadap pasokan air. Berdasarkan laporan petugas UPT PSDA Ploso, Minggu (17/5), debit Sungai Brantas meningkat dan air mulai masuk ke intake irigasi.
Setelah flushing selesai, pemasangan kisdam ditargetkan langsung dilakukan dengan estimasi pengerjaan sekitar satu pekan. ”Jadi rencananya setelah 18 Mei ketika flushing selesai mereka langsung action. Sebenarnya kemarin sudah akan dikerjakan, tapi karena ada informasi flushing itu akhirnya ditunda,” katanya.
Seperti diberitakan sebelumnya, pintu nomor enam Bendung Karet Jatimlerek mengalami kerusakan parah di tengah proyek rehabilitasi bendung. Akibat kerusakan tersebut, suplai air menuju intake irigasi sempat terhenti total dan mengancam sekitar 1.816 hektare sawah di wilayah utara Sungai Brantas mengalami kekeringan.
Sementara itu, proyek rehabilitasi Bendung Jatimlerek senilai Rp 268,33 miliar yang bersumber dari APBN masih berada pada tahap awal pekerjaan. Hingga awal Mei, pengerjaan difokuskan pada penggalian saluran pengelak sementara di sisi selatan Sungai Brantas di Desa Sudimoro, Kecamatan Megaluh, serta pembangunan intake sementara di sisi utara sungai.
Proyek rehabilitasi Bendung Jatimlerek merupakan program Kementerian Pekerjaan Umum melalui BBWS Brantas. Pekerjaan dilaksanakan PT Wijaya Karya (Persero) Tbk dengan masa kontrak 720 hari kalender mulai 15 Desember 2025 hingga 4 Desember 2027. (fid/naz)
Editor : Anggi Fridianto