Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Imbas Keracunan Santri, SPPG Penyedia MBG di Mojoagung Jombang Disetop Sementara

Anggi Fridianto • Selasa, 17 Maret 2026 | 15:46 WIB

Koordinator Wilayah BGN Jombang, Deni Setiawan
Koordinator Wilayah BGN Jombang, Deni Setiawan

Radarjombang.id - Kasus keracunan yang menimpa puluhan santri di Ponpes Sholawat Darut Taubah, Mojoagung  Jombang membuat SPPG penyedia Makan Bergizi Gratis (MBG) dihentikan sementara. 

Koordinator Wilayah BGN Jombang, Deni Setiawan, menyampaikan pihaknya telah mengambil langkah awal dengan melakukan penghentian sementara (suspend) terhadap dapur penyedia makanan (SPPG) yang terlibat.

“Kami sudah lakukan suspend lebih dulu sebagai langkah awal. Ke depan, kami dorong perbaikan kontrol, baik dari sisi pondok maupun penyedia makanan,” ujarnya.

Deni menambahkan, pengawasan terhadap SPPG di Jombang akan diperketat, meski diakui keterbatasan personel menjadi kendala.

“Pengawasan tetap berjalan, tapi memang tenaga terbatas. Kami berharap ke depan quality control bisa lebih baik agar kejadian serupa tidak terulang,” pungkasnya.

Terpisah, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Jombang, dr. Hexawan Tjahja Widada, menyampaikan, kandungan nitrit ditemukan pada sampel telur asin yang dikonsumsi santri. Kadar yang terdeteksi mencapai 28 mikrogram per kilogram berat badan.

“Normalnya makanan itu tidak mengandung nitrit. Dampaknya bisa memicu mual, muntah, hingga gangguan pencernaan secara mendadak,” ujarnya.

Selain itu, hasil pemeriksaan juga menunjukkan kandungan bakteri E.coli pada air di pondok cukup tinggi. Air yang digunakan, baik untuk memasak maupun mencuci, tercatat memiliki kadar hingga 1.030 sampai 2.030 per mililiter.

“Harusnya nol. Tapi ini mencapai dua ribu. Itu berisiko menyebabkan sakit perut, mual, dan nyeri perut,” terangnya.

Hexawan menjelaskan, temuan lain dari sampel muntahan santri juga mengandung bakteri Bacillus cereus.

Namun, pihaknya belum bisa memastikan sumber pasti bakteri tersebut karena tidak dilakukan pengujian pada semua jenis makanan, termasuk pisang yang sempat dikonsumsi sebagian santri. “Fokus pemeriksaan pada telur asin, rawon, air, dan sampel muntahan,” jelasnya.

Dia menegaskan, telur asin diduga menjadi pemicu utama karena mengandung nitrit. Namun, tidak semua santri yang mengonsumsi telur asin mengalami gejala keracunan.

“Yang menyebabkan intoleransi makanan diduga telur asin itu. Tapi tidak semua yang makan mengalami gejala. Kemungkinan ada perbedaan kualitas atau distribusi makanan,” paparnya.

Terkait penyebab munculnya nitrit, Hexawan menduga dipengaruhi proses penyimpanan atau kualitas bahan yang tidak terkontrol dengan baik.

“Bisa jadi karena penyimpanan terlalu lama atau sumber bahan berbeda. Ini perlu evaluasi pada pengadaan bahan baku,” imbuhnya.

Sebagai tindak lanjut, Dinkes Jombang telah melakukan pembinaan pada pihak pondok untuk meningkatkan sanitasi, termasuk perbaikan sistem filtrasi air.

“Kami minta sanitasi ditingkatkan. Filter air perlu diperbaiki agar kandungan E.coli bisa ditekan,” tegasnya. (ang)

Editor : Anggi Fridianto
#Makan Bergisi Gratis #Jombang #SPPG disetop #keracunan #Dinkes Jombang #Mbg