JOMBANG – Proyek rehabilitasi Bendung Karet Jatimlerek di Kecamatan Plandaan sebesar Rp 264 miliar bersumber APBN ini mulai memasuki tahap persiapan. Sejumlah alat berat sudah didatangkan ke lokasi.
Pekerjaan awal difokuskan pada pembersihan area sisi selatan Desa Sudimoro, Kecamatan Megaluh.Tahap awal akan dibangun saluran pengelak untuk mengalihkan sementara aliran sungai sehingga proses konstruksi dapat berjalan.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas PUPR Jombang Imam Bustomi melalui Kepala Bidang Sumber Daya Air (SDA) Sultoni menjelaskan, informasi yang diterima secara lisan, pihak kontraktor kini mulai melakukan penanganan di sisi selatan sungai.
”Informasi yang kami terima, saat ini sudah mulai fokus di sisi selatan sungai. Kegiatannya berupa penebangan pohon jati dan pembersihan lahan. Secara konstruksi utama memang belum dimulai, masih tahap persiapan akses jalan dan pembersihan,” ujar Sultoni.
Pembersihan dilakukan untuk pembangunan saluran pengelak. Saluran ini nantinya digunakan untuk mengalihkan aliran Sungai Brantas selama proses pengerjaan utama bendung.
”Pada saat penanganan bendung, aliran Sungai Brantas akan dialihkan. Pengalihannya di sisi selatan, melalui area yang saat ini dilakukan penebangan pohon jati. Di situ ada berem yang cukup lebar, sehingga sungai akan dibelokkan sementara. Setelah itu baru dilakukan penanganan utama di kisdam bendung,” ujarnya.
Di lapangan, sedikitnya ada tiga alat berat sudah beroperasi di tanggul sisi selatan Desa Sudimoro. Area itu mulai dibersihkan.
Lokasi itu rencananya akan dikeruk dan dijadikan aliran sementara Sungai Brantas sebelum pekerjaan inti rehabilitasi bendung dilaksanakan.
Sebagaimana diketahui, proyek rehabilitasi Bendung Karet Jatimlerek nilai pagu anggaran mencapai Rp 264 miliar. Proyek tersebut telah melalui proses tender dan dimenangkan PT Wijaya Karya (Persero) Tbk.
Bendung Karet Jatimlerek tercatat sebagai bendung karet pertama di Sungai Brantas. Bendung ini dibangun pada 1989 dan selesai pada 27 November 1992.
Keberadaannya memiliki fungsi vital dalam mendukung sistem irigasi di wilayah utara Sungai Brantas dengan cakupan lahan pertanian seluas 1.818 hektare.
Air dari bendung tersebut mengairi lahan pertanian di sejumlah desa, antara lain Desa Jatimlerek, Karangmojo, dan Purisemanding di Kecamatan Plandaan, serta Desa Tanggungkramat dan Jatigedong di Kecamatan Ploso.
Namun, dalam perjalanannya bendung ini beberapa kali mengalami kebocoran yang berdampak pada penurunan elevasi air Sungai Brantas di bagian hulu.
Kondisi tersebut menyebabkan pasokan air ke Intake Saluran Irigasi Jatimlerek menjadi tidak optimal.
Pada 2016, Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Brantas sempat melakukan penggantian badan karet bendung.
Akan tetapi, kebocoran kembali terjadi, terutama pada bentang karet nomor 6 pada 2024 lalu. Saat itu dilakukan penambalan sebagai penanganan sementara, sembari menunggu pelaksanaan rehabilitasi menyeluruh yang kini sudah mulai berjalan. (fid/naz)
Editor : Anggi Fridianto