Radarjombang.id – RSUD Jombang terus memperkuat pelayanan bedah bagi masyarakat melalui penerapan teknologi minimal invasif.
Inovasi ini kembali disosialisasikan dalam program Humas RSUD Jombang Menyapa, Rabu (21/1) pagi, dengan menghadirkan dokter spesialis bedah RSUD Jombang, dr. Ida Bagus Trisnanda Putra, Sp.B., M.Ked. Klin. sebagai narasumber.
Bagus menjelaskan, minimal invasif merupakan prosedur pembedahan dengan sayatan kecil untuk mengurangi kerusakan jaringan serta mempercepat pemulihan pasien.
“Minimal invasif dilakukan dengan sayatan kecil. Tujuannya meminimalkan trauma jaringan sehingga proses penyembuhan dan pemulihan lebih cepat,” ujar dr. Bagus.
Ia menuturkan, jika saat operasi konvensional sebelumnya memerlukan sayatan 10 hingga 25 centimeter. Saat ini, teknik laparoskopi memungkinkan sayatan sekitar satu sentimeter di area pusar. “Sayatan laparoskopi hanya sekitar satu sentimeter di umbilikus. Bahkan bekasnya sering tidak terlihat setelah operasi,” katanya.
Teknologi laparoskopi menggunakan kamera untuk melihat organ didalam perut serta alat insuflator untuk mengisi gas yg bertujuan menciptakan ruang kerja di rongga perut. Kamera dimasukkan melalui sayatan kecil untuk mengeksplorasi organ dalam secara menyeluruh.
Di RSUD Jombang, layanan minimal invasif rutin diterapkan untuk operasi usus buntu (appendik) baik yg akut maupun yang sudah pecah (perforasi), pengangkatan kantung empedu (kolesistektomi), penanganan kista dan abses hati, hingga prosedur pemotongan dan penyambungan usus dengan teknik laparoskopi.
“Operasi batu empedu juga dapat dilakukan per laparoskopi sehingga secara kosmetik lebih baik,” jelasnya.
Selain laparoskopi, RSUD Jombang juga menyediakan tindakan laser untuk kasus penyakit pada anus, seperti hemoroid (ambeien) dan fistula perianal. “Penanganan hemoroid dengan laser lebih minim nyeri dan perdarahan. Tidak ada jaringan disayat atau dipotong,” tutur dr. Bagus.
Dijelaskan, keunggulan minimal invasif juga terlihat dari waktu rawat inap yang lebih singkat. Pasien operasi usus buntu dengan laparoskopi dapat mulai mobilisasi di hari yg sama ketika operasi dan pulang keesokan harinya.
“Kalau teknik lama, pasien baru pulang hari keempat atau kelima. Sekarang operasi pagi, malam sudah bisa bergerak, besok pulang,” ungkapnya.
Terkait kontraindikasi, dr. Bagus menyebut hampir seluruh pembedahan perut dapat dilakukan secara minimal invasif, tergantung kondisi pasien dan kemampuan operator. Dalam kondisi tertentu, bukan tidak mungkin laparoskopi dikonversi ke operasi terbuka demi keselamatan pasien.
“Keselamatan pasien tetap utama. Jika saat operasi ditemukan kendala, bisa dilakukan konversi ke teknik terbuka,” tegasnya.
Ida Bagus memastikan seluruh lapisan masyarakat dapat mengakses layanan minimal invasif di RSUD Jombang, termasuk pasien BPJS semua kelas dan PBI. “Hampir semua pasien BPJS kelas satu, kelas tiga, hingga PBI dapat menikmati layanan ini. Bahkan ada pasien dari luar Jombang datang ke sini,” ujarnya.
Ia menambahkan, RSUD Jombang menjadi satu-satunya rumah sakit di wilayah Jombang yang memiliki fasilitas minimal invasif lengkap. dr. Ida Bagus mengingatkan masyarakat agar tidak mendiagnosis penyakit sendiri. “Jangan mendiagnosa sendiri atau langsung percaya sumber di internet. Lebih baik datang ke dokter. Hasil pemeriksaan bisa dibandingkan dengan informasi lain setelah itu,” pesannya. (ang)
Editor : Anggi Fridianto