RadarJombang.id – Banjir yang kembali merendam ratusan hektare lahan pertanian di Kecamatan Ploso menuai sorotan DPRD.
Selain meminta penanganan cepat di lapangan, DPRD Jombang mendorong evaluasi menyeluruh terhadap aktivitas pembangunan industri di sekitar kawasan pertanian.
Wakil Ketua Komisi B DPRD Jombang, Ama Siswanto, menegaskan banjir yang berulang setiap musim hujan tidak bisa lagi dianggap sebagai persoalan musiman semata.
Menurutnya, perlu kajian komprehensif agar petani tidak terus dirugikan. ”Ini bukan masalah biasa.
Dinas Pertanian bersama instansi terkait harus turun langsung mendata penyebab banjir secara detail. Jangan sampai petani terus terancam gagal panen,” ujar Ama, Minggu (18/1).
Berdasarkan laporan di lapangan, ratusan hektare areal sawah di kawasan utara Brantas terendam banjir akibat luapan Kali Marmoyo.
Meski genangan air mulai berangsur surut, potensi banjir susulan masih terbuka mengingat curah hujan di wilayah hulu masih cukup tinggi.
Politisi PDI Perjuangan tersebut juga menyoroti perubahan tata ruang di sekitar kawasan pertanian.
Ia menilai keberadaan sejumlah pabrik perlu dikaji ulang untuk memastikan tidak mengganggu sistem tata air.
”Perlu ada evaluasi. Jangan sampai pembangunan industri justru berdampak pada sektor pertanian. Perlindungan petani harus menjadi prioritas,” tegasnya.
Ama menambahkan, upaya menjaga lahan pertanian sejalan dengan agenda nasional ketahanan pangan.
Ia mengingatkan agar kebijakan pembangunan daerah tetap selaras dengan target swasembada pangan nasional.
”Program Presiden Prabowo menargetkan kemandirian pangan. Penanganan banjir harus berkelanjutan, tidak hanya solusi jangka pendek,” imbuhnya.
Sementara itu, Koordinator Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Kecamatan Ploso, Syaifuddin, menyebut lahan terdampak banjir tersebar di tiga desa. Dampak terluas terjadi di Desa Gedongombo dengan luas sekitar 70–80 hektare, disusul Desa Jatigedong sekitar 30 hektare, serta sebagian lahan di Desa Ploso.
”Total sekitar 130 hektare sawah terdampak. Air mulai surut, tetapi masih ada lahan yang tergenang,” jelasnya.
Ia mengatakan, genangan mulai berkurang sejak pertengahan Desember seiring menurunnya intensitas hujan.
Namun, hingga kini tingkat kerusakan tanaman belum bisa dipastikan karena sebagian sawah masih terendam.
”Masih dalam pemantauan. Belum bisa dipastikan berapa luas tanaman yang mati,” katanya.
Data dampak banjir telah dilaporkan ke Dinas Pertanian Kabupaten Jombang dan ditindaklanjuti bersama PT Asuransi Jasa Indonesia (Jasindo), mengingat sebagian lahan telah terdaftar dalam program asuransi usaha tani.
”Pihak asuransi sudah turun melakukan pengecekan,” tambahnya.
Diberitakan sebelumnya, genangan banjir masih merendam lahan pertanian di sejumlah wilayah Kabupaten Jombang. Hingga Jumat (16/1), sejumlah wilayah masih dilaporkan tergenang banjir. Data terbaru Dinas Pertanian mencatat, luas sawah tergenang mencapai 307,11 hektare.
Sebaran terjadi di delapan desa pada tiga kecamatan.
Kecamatan Ngusikan menjadi wilayah terdampak paling luas, disusul Kecamatan Ploso dan Kesamben. Tak sedikit petani mengalami puso alias gagal panen lantaran tanaman padi mati terendam banjir. (yan/naz)
Editor : Anggi Fridianto