Radarjombang.id - Pemerintah Kabupaten Jombang memastikan pembangunan jembatan di Dusun Banjarejo, Desa Kudubanjar, Kecamatan Kudu, pada 2026.
Kepastian itu disampaikan Bupati Jombang Warsubi saat meninjau langsung kondisi jembatan, Rabu (31/12).
Dalam peninjauan tersebut, Bupati Warsubi didampingi Asisten, kepala OPD terkait, Camat Kudu, serta Kepala Desa Kudubanjar.
Jembatan yang ditinjau merupakan akses penghubung antara Desa Kudubanjar, Kecamatan Kudu, dengan Desa Sumbernongko dan Desa Sumberteguh, Kecamatan Ngusikan.
Bupati Jombang Warsubi menyampaikan, di tahun pertama masa kepemimpinannya, Pemkab Jombang siap memperbarui jembatan tersebut pada 2026.
Perencanaan pembangunan ditargetkan rampung Februari atau Maret 2026.
Proses konstruksi direncanakan mulai Mei atau Juni 2026.
Jembatan yang akan dibangun memiliki panjang 27 meter dengan lebar 4 meter. Anggaran disiapkan sekitar Rp 3 miliar. Jembatan itu dipastikan dapat dilalui kendaraan roda empat hingga truk.
“Kami berharap pembangunan ini dapat mempermudah akses lalu lintas masyarakat, mempermudah gerak warga, sehingga dapat meningkatan perekonomian warga,” jelas Bupati Jombang Warsubi.
Baca Juga: Gagal Lelang 3 Kali, Jembatan Kudubanjar Jombang Bakal Dibangun 2026 dengan Rangka Baja Bailey
Sebagai informasi, jembatan Desa Kudubanjar menjadi akses utama dan terdekat warga Desa Kudubanjar dan Desa Sumbernongko.
Pada 2025, Pemkab Jombang telah melakukan pendataan lebar sungai sebagai langkah awal pembangunan jembatan yang lebih layak.
Anggaran pembangunan jembatan telah disiapkan Dinas Perumahan dan Permukiman (Perkim) pada 2025. Namun, pelaksanaannya terkendala gagal lelang hingga tiga kali.
Kepala Desa Kudubanjar Kuswanto menyambut baik rencana pembangunan tersebut.
Ia berharap pembangunan jembatan benar-benar terealisasi pada 2026 agar aktivitas warga kembali lancar dengan jarak tempuh yang lebih dekat.
Ia menjelaskan, jembatan tersebut putus pada 31 Desember 2019. Penyebabnya penumpukan enceng gondok disertai derasnya arus sungai.
Pasca kejadian itu, warga membangun jembatan darurat dengan dana swadaya masyarakat. Jembatan pertolongan tersebut memiliki panjang 27 meter dan lebar 1,2 meter. Akses itu hanya bisa dilalui kendaraan roda dua.
Setiap hari, jembatan tersebut menjadi jalur utama warga untuk aktivitas perekonomian, pertanian, hingga pendidikan. (ang)
Editor : Anggi Fridianto