Radarjombang.id – Nama Totok Hadi Riswanto dikenal luas sebagai sosok legislator yang konsisten memperjuangkan kepentingan masyarakat desa, khususnya sektor pertanian. Anggota DPRD Kabupaten Jombang dari PDI Perjuangan ini menegaskan, keputusannya terjun ke dunia politik dilandasi niat kuat untuk menjadi pelayan masyarakat dan mendorong kemajuan petani.
Totok Hadi Riswanto lahir pada 5 Juli 1967. Ia merupakan anak kedua dari dua bersaudara, pasangan Moestamin dan Rusmi. Totok menikah dengan Siti Fattimah dan dikaruniai dua orang anak. Risdiana Andika Fatmawati yang menempuh pendidikan S2. Serta Rafi Hadi Pradana yang merupakan sarjana pelayaran.
Pendidikannya dimulai di SDN Mojotengah 1 yang diselesaikan pada 1982. Dilanjutkan ke SMPK Mojowarno hingga lulus 1985. Setelah itu, ia menempuh pendidikan di STM Antartika Surabaya dan lulus pada 1988. Pendidikan tingginya ditempuh di IKIP PGRI Surabaya, jurusan Pendidikan Teknik Elektro Arus Kuat/Listrik, dan selesai pada 1993.
Usai menimba ilmu di Surabaya, Totok memilih pulang ke kampung halaman dengan tekad ingin membawa perubahan. Ia menaruh perhatian besar pada dunia pertanian. ’’Saya punya keyakinan bahwa petani harus maju dan sejahtera,’’ tegasnya. Langkah nyata pun diambil dengan terjun langsung menjadi petani. Sebelum akhirnya dipercaya masyarakat menjadi Kepala Desa Mojotengah selama dua periode, 2001–2013.
’’Dulu keinginan saya sederhana, ingin melakukan perubahan. Petani harus maju, air cukup, jalan usaha tani bagus, sehingga petani bisa bekerja dengan nyaman,’’ ujarnya.
Setelah tidak lagi bisa menjabat kepala desa pada 2014, Totok melanjutkan pengabdian ke tingkat yang lebih luas dengan terjun ke dunia politik. Ia mendaftarkan diri sebagai calon anggota DPRD Kabupaten Jombang melalui PDI Perjuangan. Dorongan kuat untuk memperjuangkan pertanian, pembangunan desa, dan kesejahteraan masyarakat menjadi alasan utama langkah politik tersebut.
Pada Pemilu 2014, Totok terpilih sebagai anggota DPRD Jombang dari Daerah Pemilihan (Dapil) III yang meliputi Kecamatan Mojowarno, Bareng, Mojoagung, dan Wonosalam. Di periode pertama, ia dipercaya menjadi wakil ketua fraksi sekaligus anggota Komisi B.
Periode kedua pada 2019, Totok sempat bertugas di Komisi A selama dua setengah tahun. Kemudian berpindah ke Komisi B dan dipercaya sebagai Ketua Fraksi. Memasuki periode selanjutnya, ia kembali ditempatkan di Komisi A sebagai Ketua Komisi, serta menjabat Wakil Ketua Fraksi.
Totok menegaskan, target utamanya sebagai wakil rakyat adalah memberikan pelayanan terbaik bagi masyarakat dan memastikan aspirasi warga benar-benar terealisasi. Setiap kegiatan reses dimanfaatkan untuk mencatat secara rinci usulan masyarakat, yang kemudian dimusyawarahkan kembali di tingkat desa guna menentukan prioritas.
’’Setiap reses kita catat semua masukan masyarakat. Kita musyawarahkan, mana yang paling prioritas dan bisa segera direalisasikan,’’ jelasnya.
Ia mencontohkan, di Desa Wonokerto, Kecamatan Wonosalam, sejumlah usulan masuk dalam Pokok-pokok Pikiran (Pokir) DPRD untuk APBD Murni 2027 dan langsung diprioritaskan penyelesaiannya. ’’Hasil reses diarahkan untuk kepentingan masyarakat seperti pembangunan pagar makam dan musala,’’ tegasnya.
Terbiasa Berbaur dengan Masyarakat
KEDEKATANNYA dengan masyarakat menjadi ciri khas Totok Hadi Riswanto dalam menjalankan tugasnya sebagai anggota DPRD Kabupaten Jombang. Politisi PDI Perjuangan ini mengaku terbiasa hidup dan berbaur langsung bersama warga, terutama kalangan petani.
Totok menuturkan, warung kopi menjadi salah satu ruang favoritnya untuk menyerap aspirasi. Menurutnya, warung bukan sekadar tempat nongkrong. Melainkan ruang diskusi yang paling efektif karena di sanalah masyarakat berkumpul, berbincang, dan bertukar pikiran, termasuk membahas persoalan pertanian.
’’Saya terbiasa dekat dengan masyarakat. Biasanya nongkrong di warung, karena di situ tempat orang berkumpul, ngopi, dan berdiskusi. Tepat sekali untuk membahas persoalan pertanian,’’ ungkapnya.
Ia menegaskan, kedekatan itu bukan sekadar formalitas. Hampir setiap hari ia turun langsung ke tengah masyarakat, sehingga warga memahami bahwa kehadirannya bukan hanya sebagai pejabat, tetapi sebagai bagian dari mereka. Bahkan pada akhir pekan, Sabtu dan Minggu, Totok kerap berkeliling sawah dan berbaur dengan para petani.
’’Setiap hari saya turun ke masyarakat. Sabtu Minggu keliling sawah, berbaur langsung dengan petani,’’ katanya.
Dalam menggambarkan perannya sebagai wakil rakyat, Totok menggunakan analogi sederhana yang dekat dengan kehidupan petani. Ia menegaskan, siap menjadi alat bagi masyarakat untuk bekerja dan memperjuangkan kepentingannya.
’’Saya sudah siap jadi pelayan. Ibarat orang mau nyangkul, saya siap jadi cangkulnya. Masyarakat mau cari rumput, saya siap jadi sabitnya,’’ ungkapnya.
Ia menekankan, peran dan fungsi harus dijalankan secara tepat. Seperti halnya dalam pertanian, penggunaan alat yang tidak sesuai akan membuat pekerjaan tidak berjalan maksimal.
’’Kalau mau macul tapi alatnya tidak benar, atau pakai sabit, tentu tidak bisa berjalan baik. Begitu juga sebaliknya, mau cari rumput pakai cangkul ya tidak bisa,’’ tegasnya.
Melalui pendekatan yang membumi dan komunikasi yang intens, Totok Hadi Riswanto berharap dapat terus menjaga kepercayaan masyarakat. ’’Menjadi wakil rakyat bukan soal jabatan, melainkan soal kesiapan untuk hadir, mendengar, dan bekerja bersama masyarakat,’’ tandasnya.(yan/jif)
Editor : Anggi Fridianto