Radarjombang.id – Tren kunjungan pasien tuberkulosis (TBC) di RSUD Jombang meningkat sejak dua bulan terakhir.
Bahkan, dalam kurun tiga bulan ini, sedikitnya ada 15 pasien RSUD Jombang meninggal dunia akibat TBC.
Direktur RSUD Jombang dr Pudji Umbaran menyampaikan, pasien TBC dibedakan dalam dua kelompok, yakni resisten obat dan non-resisten obat.
Sepanjang 2025, jumlah kunjungan pasien resisten obat sebanyak 25 pasien. Sedangkan, pada kelompok pasien non-resisten obat sebanyak 341 pasien.
”Jumlah kunjungan itu sepanjang 2025 dalam kurun waktu Januari hingga Oktober,’’ ujar dia
Dijelaskan, angka tersebut diperkirakan masih dapat bertambah seiring proses pemeriksaan dan pelacakan kasus. Disamping kasus itu, RSUD Jombang mencatat sebanyak 15 pasien tuberkulosis (TBC) meninggal dalam tiga bulan terakhir.
”Yang meninggal tiga bulan terakhir, Agustus ada 5 pasien, September 7 pasien, Oktober 3 pasien,” terang dr Pudji.
Ia menjelaskan, pasien TBC yang sampai menjalani rawat inap di RSUD Jombang umumnya berada dalam kondisi berat.
”Kalau rawat inap di RSUD Jombang bisa dipastikan kasusnya berat dan membutuhkan perawatan intensif,” ujarnya.
Pudji menegaskan perawatan pasien TBC dilakukan di ruangan khusus untuk menjamin keamanan dan pencegahan penularan. ”Perawatan untuk TBC di ruangan khusus. Termasuk jenis pelayanan ruangan isolasi, pembuangan udaranya pun sudah diatur,” jelasnya.
Di hubungi terpisah, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Jombang, dr Hexawan Tjahja Widada, belum bisa memberikan keterangan rinci. ”Ini masih rapat di luar,’’ ujar dia siang.
Seperti diberitakan sebelumnya, angka kasus tuberkulosis (TBC) di Kabupaten Jombang tahun ini cukup tinggi.
Data Dinas Kesehatan (Dinkes) mencatat sebanyak 2.700 warga terjangkit TBC terhitung Januari-November 2025.
Masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap penyakit menular yang disebabkan bakteri mycobacterium tuberculosis tersebut.
Kepala Dinkes Kabupaten Jombang, dr Hexawan Tjahja Widada, menjelaskan TBC umumnya menyerang paru-paru.
”Gejalanya meliputi batuk berdahak lebih dari dua minggu, demam, keringat malam, penurunan berat badan, serta mudah lelah,” ujarnya kemarin (17/11).
Penanganan dilakukan masif melalui kolaborasi dinkes, puskesmas, rumah sakit, dan kader TBC.
Puskesmas serta rumah sakit bertugas memberikan pengobatan, sementara kader melakukan penelusuran langsung ke rumah warga yang teridentifikasi mengidap TBC.
”Setiap ada satu pengidap TBC, sepuluh orang di sekitarnya akan kami skrining juga. Sebab, satu orang yang menderita TBC bisa menularkan bakterinya melalui udara,” tambahnya. (ang/naz)
Editor : Anggi Fridianto