Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Petani Tebu di Jombang Galau, Gegara 100 Ribu Ton Gula Tak Kunjung Terserap, APTR: Ada Permainan

Azmy endiyana Zuhri • Selasa, 26 Agustus 2025 | 15:17 WIB
Ilustrasi gula petani tebu (ai)
Ilustrasi gula petani tebu (ai)

Radarjombang.id - Petani tebu di Kabupaten Jombang kebingungan. Harga jual di bawah biaya pokok produksi menjadikan petani kebingungan menjual gula.

Akibatnya, hingga kini sekitar 100 ribu ton gula hasil panen masih menumpuk di gudang alias belum terserap. APTR mensinyalir ada permainan broker yang sengaja memainkan harga gula.

Wakil Ketua Dewan Pimpinan Nasional Asosiasi Petani Tebu Rakyat (APTR) Basyaruddin Saleh mengatakan, gula saat ini hanya dihargai sekitar Rp 14.350 per kilogram, lebih rendah dari harga pokok penjualan (HPP) gula di tingkat produsen yang ditetapkan sebesar Rp 14.500.

”Kalau dihitung dengan biaya produksi, petani jelas rugi. Terlebih tahun ini kemarau basah membuat biaya produksi membengkak.

Dengan harga segini, petani tidak bisa mendapatkan keuntungan,” ungkapnya, Senin (25/8).

Ia menambahkan, kondisi ini mengancam keberlangsungan usaha petani tebu.

”Kalau gula tidak diserap, petani tidak bisa mengerjakan lahan untuk musim tanam berikutnya. Padahal peran petani sangat krusial dalam mewujudkan swasembada gula nasional,” tegasnya.

Menurut Basyaruddin, pemerintah sebenarnya sudah menyepakati penyelamatan gula petani dengan mekanisme penyerapan melalui Lembaga pengelola investasi negara (Danantara, Red) senilai Rp 1,5 triliun.

Skema itu, lanjutnya, setelah APTR seluruh Indonesia menemui Kementerian Perekonomian, Badan Pangan Nasional, dan didukung Komisi IV DPR RI. Namun, hingga kini janji itu belum terealisasi di Jombang.

”Informasinya serapan baru berjalan di Jawa Tengah. Di Jombang sendiri masih belum ada kejelasan kapan gula petani akan diserap,” jelasnya.

Ia menilai, serapan gula petani terhambat karena sistem pembelian pabrik gula yang mayoritas menggunakan pola beli putus. Sementara, petani yang menggunakan pola bagi hasil justru tidak laku.

”Diduga pabrik-pabrik ini didanai broker sehingga penyerapan gula dari petani makin lesu. Ditambah lagi membanjirnya gula rafinasi yang membuat harga gula rakyat semakin jatuh,” paparnya.

Basyaruddin mengungkapkan, untuk Jombang sendiri jumlah gula rakyat dengan pola bagi hasil hanya sekitar 4 ribu ton.

Namun, dampaknya paling terasa, sebab tidak ada pembeli. Sementara petani yang ikut pola beli putus tetap terkena imbas turunnya harga.

”Kalau dulu harga tebu Rp 98–100 ribu per kuintal, sekarang hanya Rp 76 ribu per kuintal,” ujarnya.

APTR mendesak pemerintah segera menepati janji menyerap gula rakyat agar petani tidak semakin terpuruk.

”Kami harap pemerintah benar-benar hadir menyerap gula petani, karena tanpa itu sulit bagi petani melanjutkan tanam. Swasembada gula pun akan semakin jauh dari kenyataan,” tandas Basyaruddin.(yan/naz)

 

Editor : Anggi Fridianto
#aptri #gula #dinas pertanian #Jombang #Pemkab Jombang #tak terserap #Petani tebu #galau