Radarjombang.id - Perumda Perkebunan Panglungan Jombang terus fokus mengembangkan komoditas baru, meski masa Hak Hak Guna Bangunan habis per Mei lalu.
Pihaknya optimistis, bisa menyumbang pendapatan asli daerah (PAD).
Direktur Perumda Perkebunan Panglungan Agus Mujiono menyampaikan, pihaknya terus melakukan pembenahan tata kelola internal hingga optimalisasi pemanfaatan lahan sejak menjabat.
Ia menargetkan Perumda Perkebunan Panglungan yang sempat stagnan bisa kembali menyumbang pendapatan asli daerah (PAD) Kabupaten Jombang.
”Dari sisi internal, Panglungan saat ini mulai stabil.
Kami sedang membangun fondasi yang kuat secara administratif dan keuangan agar bisa bergerak maju secara berkelanjutan,” ujarnya.
Saat bertemu Bupati Jombang Warsubi beberapa waktu lalu, Agus menyampaikan jika pihaknya komitmen untuk bisa menyumbang PAD hingga Rp 300 juta. ”Saya sanggupi karena kami sudah menghitung potensi dari hasil produksi yang kami kelola secara mandiri,” tambahnya.
Guna merealisasikan hal tersebut, pihaknya telah mulai menanam komoditas baru cepat panen, yakni semangka dan tembakau.
Semangka bisa dipanen dalam 60–65 hari, sementara tembakau 65–90 hari. Soal pemasarannya, ia mengaku sudah menjalin mitra dari luar Jombang.
”Semangka kami pasarkan lewat kerja sama dengan mitra dari Jakarta dan Semarang. Sementara, tembakau dijual dalam kondisi basah karena kami belum punya alat pengering,” jelasnya.
Di sisi lain, ia mengakui keterbatasan SDM yang ada. Namun, hal itu bukan menjadi penghambat untuk membenahi perusahaan.
Apalagi, ia menilai semangat kerja pegawai cukup tinggi untuk menopang target-target awal perusahaan.
Selain itu, pihaknya juga mulai menyiapkan arah pengembangan jangka panjang. Salah satunya dengan menjajaki kerja sama bersama Pusat Penelitian Kopi dan Kakao (Puslitkoka) Jember untuk melihat potensi varietas unggul yang cocok ditanam di Panglungan.
”Diversifikasi penting agar Panglungan tidak hanya bergantung pada satu atau dua jenis tanaman. Ini bagian dari visi kami untuk menjadikan Panglungan sebagai lahan yang produktif secara berkelanjutan,” pungkas alumnus Fakultas Pertanian Universitas Jember ini. (ang/naz)
Editor : Anggi Fridianto